






Sepanjang Juli 2026, sejumlah emiten secara resmi menyatakan kesiapannya menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dua nama yang cukup mencuri perhatian adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), yang pada 6 Juli 2026 mulai melaksanakan distribusi saham kepada para investor.
Distribusi ini menandai bahwa saham akan segera masuk ke portofolio investor yang memperoleh penjatahan, menyusul rencana pencatatan perdana (listing) kedua emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026. Tahap ini juga menandai berakhirnya masa penawaran umum yang berlangsung pada 1–3 Juli 2026, periode ketika kedua emiten mencatatkan minat investor yang sangat tinggi.
Sebelum masuk ke rincian angka, penting dipahami bahwa kedua emiten sama-sama mengalami oversubscription. Meski berasal dari sektor yang berbeda, JELI dan JECX menunjukkan pola yang serupa, yaitu permintaan yang tinggi di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang masih diliputi ketidakpastian.
Berikut rincian perjalanan masing-masing emiten.
JELI merupakan emiten produsen makanan penutup yang produknya dikenal luas lewat merek INACO, mulai dari nata de coco, jeli, hingga gummy candy. Kehadirannya di bursa cukup dinanti mengingat posisinya sebagai salah satu pemimpin pasar pada kategori tersebut.
Tahapan IPO JELI dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Jadwal dan tahapan IPO JELI

Dalam aksi korporasi ini, JELI menawarkan 266.000.000 saham baru yang setara 21,01% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, dengan nilai nominal Rp100 per saham. Harga penawaran final ditetapkan Rp900 per saham, berada di batas bawah rentang harga pada masa bookbuilding, yaitu Rp900–Rp1.120.
Dengan demikian, total nilai emisi mencapai Rp239,4 miliar. PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai underwriter tunggal dengan skema full commitment, yang berarti penjamin emisi menyanggupi seluruh saham yang ditawarkan terserap.
Dari sisi permintaan, PT Sucor Sekuritas mengumumkan bahwa JELI oversubscribed hingga 273,37 kali pada porsi penjatahan terpusat. Basis perhitungannya adalah alokasi awal minimum sebesar 15% dari nilai emisi atau Rp35,91 miliar, dan tercatat 630.491 investor (Single Investor Identification/SID) turut berpartisipasi.
Pada pencatatan pertamanya, harga saham JELI melesat 25% atau naik 225 poin ke level Rp 1.125 per saham.
Adapun rencana penggunaan dananya, setelah dikurangi biaya emisi sekitar 4,23%, dirinci sebagai berikut.
Tabel 2. Rencana penggunaan dana IPO JELI

JECX adalah emiten yang mengelola jaringan rumah sakit dan klinik mata Jakarta Eye Center (JEC), salah satu penyedia layanan kesehatan mata terbesar di Indonesia dengan rekam jejak lebih dari empat dekade. Emiten ini mengusung profil bisnis yang defensif, karakter yang kerap dicari investor saat kondisi pasar tengah bergejolak.
Tahapan IPO JECX dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Jadwal dan Tahapan IPO JECX

JECX menawarkan 487.983.500 saham biasa, yang terdiri dari 325.322.300 saham baru dan 162.661.200 saham divestasi, yakni pelepasan saham milik pemegang saham lama, dalam hal ini melalui DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K).
Total keduanya mewakili 15,00% dari modal pasca-IPO, dengan nilai nominal Rp16 per saham. Harga penawaran final dipatok Rp1.250 per saham dari rentang bookbuilding Rp1.200–Rp1.400, sehingga total nilai emisi mencapai Rp609,98 miliar.
Angka tersebut terbagi atas Rp406,65 miliar dari saham baru dan Rp203,33 miliar dari saham divestasi; perlu dicatat bahwa dana divestasi mengalir ke pemegang saham penjual, bukan ke kas emiten. PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk menjadi underwriter tunggal dengan skema full commitment.
Berdasarkan keterangan resmi emiten, sebanyak 555.699 investor mengikuti pemesanan saham JECX selama masa IPO. Dari sisi permintaan, IPO tersebut tercatat mengalami oversubscribed hingga 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat. Harga saham JECX juga turut mengalami kenaikan sebesar 24,80% ke posisi Rp 1.560 per saham pada awal pencatatannya.
Rencana penggunaan dana JECX, yang bersumber dari hasil saham baru setelah dikurangi biaya emisi, dirinci sebagai berikut.
Tabel 4. Rencana penggunaan dana IPO JECX

Di luar JELI dan JECX, gelombang IPO Juli 2026 masih menyisakan sejumlah emiten yang menyusul mencatatkan sahamnya.
Berikut gambaran singkat keempatnya.
Emiten di bidang alat kesehatan diagnostik yang menetapkan harga final Rp120 per saham. Saham ini dikenal memiliki valuasi yang relatif rendah dibanding rata-rata sektornya, sehingga menarik minat investor ritel dalam jumlah besar.
Emiten sektor kesehatan yang bergerak dalam perdagangan alat laboratorium dan farmasi, dengan harga final Rp470 per saham. Jaringan distribusinya telah menjangkau lebih dari 200 rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia.
Emiten di bidang penjualan dan penyewaan genset serta infrastruktur telekomunikasi, dengan harga final Rp442 per saham. Emiten yang terafiliasi Grup Djarum ini membukukan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada 2025, termasuk dari sisi tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE).
Emiten media dan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, dengan harga final Rp170 per saham. Basis penggemar yang besar menjadikannya salah satu IPO dengan daya tarik ritel yang tinggi pada periode ini.
Sejauh ini, gelombang IPO Juli 2026 memperlihatkan permintaan investor yang kuat, dengan JELI memimpin dari sisi tingkat oversubscription dan JECX unggul dari sisi nilai dana yang dihimpun. Tingginya animo ini di satu sisi menandakan optimisme, tetapi di sisi lain juga mengingatkan bahwa saham yang baru melantai kerap bergerak dengan volatilitas tinggi pada hari-hari awal perdagangan.
Akibat tingginya oversubscription, tidak seluruh dana pemesanan investor memperoleh alokasi saham sehingga sebagian dana dikembalikan ke Rekening Dana Nasabah (RDN). Agar dana tersebut tetap dikelola secara optimal, investor dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikannya ke instrumen yang relatif lebih stabil, seperti reksa dana pendapatan tetap (RDPT).
Adapun salah satu produk RDPT yang dapat dipertimbangkan adalah reksa dana Danamas Stabil. Berdasarkan data per 6 Juli 2026, reksa dana ini mencatatkan imbal hasil sebesar 6,55% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Tautan: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui tautan di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik tautan di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik tautan di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Berinvestasi pada saham yang ditawarkan melalui Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu pilihan yang banyak dipertimbangkan oleh investor ritel di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya aktivitas di pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 50 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2026. Pada awal Juli 2026, sudah ada sejumlah perusahaan dijadwalkan untuk melakukan IPO, antara […]
Key Takeaways: Papan Utama adalah salah satu dari tiga kategori papan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI), selain Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi. Klasifikasi ini dibuat untuk mengelompokkan perusahaan tercatat berdasarkan karakteristik bisnis dan kinerja keuangannya. Sebagai informasi, per 9 Februari 2026, terdapat 258 saham yang tercatat di Papan Utama. Papan Utama merupakan kumpulan perusahaan […]
Key Takeaways: Musim pembagian dividen kembali menjadi perhatian investor setelah sejumlah emiten batu bara mengumumkan besaran dividen untuk tahun buku 2025. Di tengah volatilitas harga komoditas dan berbagai tantangan industri batu bara, sejumlah emiten tetap mampu membagikan dividen dalam jumlah besar sehingga menghasilkan dividend yield yang menarik. Dalam investasi saham, dividend yield adalah persentase imbal […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp240,67 triliun per Mei 2026. Meskipun turun 9,80% dibandingkan April 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]