






Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan data capital outflow dari Indonesia di tahun 2026.
Tabel 1. Data capital outflow di tahun 2026

Sumber: Bank Indonesia
Catatan:
*Rupiah dihitung berdasarkan kurs US$1 = Rp17.700.
Besarnya arus keluar dana asing tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia pada 2026 terjadi secara cukup luas, baik di pasar saham, obligasi, maupun transaksi modal dan finansial secara keseluruhan. Oleh karena itu, capital outflow perlu dipahami secara cermat karena dapat memengaruhi sentimen pasar, arah kebijakan moneter, hingga kondisi ekonomi Indonesia ke depan.
Investor asing tentu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum melakukan capital outflow, seperti risiko, imbal hasil, stabilitas mata uang, hingga kondisi ekonomi global. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan investor asing menarik dana dari pasar keuangan Indonesia pada tahun 2026:
Salah satu pemicu terbesar capital outflow berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury. Pada pertengahan Mei 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun (US10Y) berada di kisaran 4,50%–4,57%.
Kondisi ini mencerminkan ekspektasi bahwa suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer. Ketika yield US Treasury naik, investor asing memperoleh pilihan investasi yang relatif stabil dengan imbal hasil tinggi.
Akibatnya, daya tarik investasi di negara berkembang seperti Indonesia berkurang. Selisih imbal hasil antara obligasi Indonesia dan obligasi AS semakin tipis sehingga kompensasi risiko yang diterima investor tidak lagi terlalu menarik.
Investor asing umumnya mempertimbangkan keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil (risk-reward ratio) dalam mengambil keputusan investasi. Jika mereka bisa mendapatkan yield tinggi di instrumen yang lebih stabil seperti obligasi pemerintah AS, maka sebagian dana akan dialihkan dari pasar negara berkembang menuju aset “safe haven” tersebut.
Selain itu, kenaikan yield US Treasury biasanya diikuti dengan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut semakin meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dalam situasi seperti ini, investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko untuk menjaga stabilitas portofolio.
Selain faktor suku bunga dan imbal hasil investasi di AS, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang mendorong keluarnya dana asing dari Indonesia. Pada 28 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level Rp17.830 per US$1, yang menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam sejarah.
Pelemahan kurs meningkatkan risiko currency loss atau kerugian akibat perubahan nilai tukar bagi investor asing. Meskipun investor memperoleh keuntungan dari instrumen investasi domestik, depresiasi rupiah dapat menghapus sebagian bahkan seluruh keuntungan tersebut ketika dana dikonversi kembali ke dolar AS.
Investor asing biasanya sangat memperhatikan aspek capital preservation, strategi menjaga nilai pokok investasi agar tidak mengalami penurunan besar akibat risiko, termasuk pelemahan mata uang. Artinya, fokus investor bukan hanya mencari potensi imbal hasil, tetapi juga memastikan modal awal terjaga.
Pada 2 Januari 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.683 per US$1. Kemudian pada Mei 2026, rupiah melemah menjadi Rp17.830 per US$1 atau turun sekitar 6,8% secara year-to-date (YTD).
Pelemahan nilai tukar tersebut dapat menyebabkan investor asing mengalami currency loss atau kerugian akibat perubahan kurs mata uang. Meskipun investasi menghasilkan imbal hasil positif, keuntungan tersebut tergerus oleh depresiasi rupiah. Untuk lebih memahami dampak currency loss, Anda bisa melihat ilustrasinya di bawah ini.
Investor asing menempatkan dana atau berinvestasi di Indonesia.
Misalnya, investor asing membawa dana investasi US$100.000 dan mengkonversinya ke rupiah. Saat masuk ke Indonesia pada awal Januari 2026, kurs rupiah berada di level Rp16.683. Maka nilai dana setelah dikonversi menjadi:
Jadi, investor memiliki dana sekitar Rp1,668 miliar.
Investor berinvestasi dengan imbal hasil 4% per tahun.
Misalnya investor melakukan investasi di instrumen fixed income dengan imbal hasil:
Nilai investasi setelah memperoleh imbal hasil menjadi:
Jika investasi tersebut berjalan selama satu tahun, total dana investor berubah menjadi Rp1,735 miliar. Secara nominal dalam rupiah, investasi tersebut terlihat menghasilkan keuntungan.
Namun, rupiah melemah terhadap dolar AS secara YTD 2026
Dari Januari hingga Mei 2026, kurs rupiah mengalami pelemahan.
Ketika investor asing ingin mengonversi dana kembali ke dolar AS.
Artinya, nilai investasi investor sekarang hanya sekitar US$97.310. Padahal modal awal investor adalah US$100.000, jadi investor asing mengalami kerugian sekitar 2,69% dalam denominasi dolar AS, padahal periode investasinya bahkan belum mencapai satu tahun.
Pelemahan rupiah sebesar 6,8% dalam waktu kurang lebih 5 bulan lebih besar dibandingkan imbal hasil investasi sebesar 4% dalam 1 tahun. Kondisi seperti inilah yang membuat investor asing cenderung menarik dananya untuk mengurangi potensi kerugian lebih lanjut.
Faktor lain yang memicu capital outflow berasal dari perubahan komposisi indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menghapus enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari MSCI Global Standard Index. Penghapusan ini diumumkan pada 13 Mei 2026 dan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Saham tersebut meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Keputusan ini turut memberikan tekanan terhadap rupiah, karena MSCI merupakan salah satu acuan bagi manajer investasi (MI) global dalam menyusun portofolio investasi. Ketika suatu saham keluar dari indeks MSCI, maka banyak MI global perlu melakukan rebalancing portofolio. Mereka biasanya menjual saham yang sudah tidak lagi masuk indeks untuk menjaga kesesuaian dengan benchmark investasi. Anda bisa melihat penurunan kapitalisasi pasar berdasarkan data 12 Mei 2026 (sebelum pengumuman) hingga 26 Mei 2026 keenam saham tersebut di bawah ini:
Tabel 2. Penurunan kapitalisasi pasar enam saham yang akan dihapus dari MSCI Global Standard Index

Sumber: Investing.com
Penurunan kapitalisasi pasar tersebut menunjukkan bahwa investor, baik asing maupun domestik, merespons cukup agresif terhadap potensi keluarnya enam emiten tersebut dari MSCI Global Standard Index. Dalam periode sekitar dua minggu setelah pengumuman, kapitalisasi pasar keenam saham tersebut mengalami penurunan yang sangat besar.
Jika dijumlahkan, kapitalisasi pasar yang menguap dari enam saham tersebut mencapai sekitar Rp650 triliun. Penurunan terbesar terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang kehilangan kapitalisasi pasar sekitar Rp272,51 triliun. Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga mengalami penurunan kapitalisasi pasar yang cukup besar.
Akibatnya, tekanan jual terhadap saham dengan kapitalisasi besar meningkat dalam waktu singkat. Arus dana asing keluar dari pasar saham domestik berpotensi meningkat. Namun, dampaknya bisa terasa signifikan apabila saham yang dikeluarkan memiliki kapitalisasi pasar besar dan sebelumnya menjadi incaran investor asing.
Selain meningkatkan tekanan jual, rebalancing indeks juga dapat memengaruhi sentimen pasar. Investor asing maupun domestik menjadi lebih berhati-hati terhadap prospek pasar saham Indonesia dalam jangka pendek.
Di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya tekanan eksternal yang turut mendorong arus keluar modal asing (capital outflow), Bank Indonesia (BI) mengambil langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Pada 20 Mei 2026, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dari sebelumnya 4,75%.
Selanjutnya, pada 9 Juni 2026, di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik aset investasi di Indonesia sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan suku bunga yang lebih tinggi, investor asing diharapkan tetap tertarik menempatkan dana di instrumen rupiah seperti obligasi pemerintah maupun deposito.
Dalam kondisi capital outflow, stabilitas kebijakan moneter sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor. Bagi Anda, memahami fenomena capital outflow sangat penting untuk membaca arah pasar keuangan secara lebih objektif. Arus modal asing tidak hanya memengaruhi nilai tukar rupiah, tetapi juga kebijakan moneter dan kondisi ekonomi ke depan.
Di tengah kondisi suku bunga yang meningkat, reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan. Sebagian besar dana kelolaan reksa dana pasar uang dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito, surat berharga pasar uang, dan obligasi jangka pendek dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.
Ketika BI menaikkan suku bunga acuan, perbankan cenderung akan menyesuaikan tingkat imbal hasil produk simpanan seperti deposito. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap imbal hasil reksa dana pasar uang.
Anda bisa membeli reksa dana pasar uang melalui Makmur, perusahaan wealth-tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada beragam reksa dana pasar uang yang bisa dipertimbangkan di Makmur, salah satunya Insight Money. Berdasarkan data per tanggal 15 Juni 2026, reksa dana tersebut telah bertumbuh 18,33% dalam 3 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]
Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]
Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]
Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]
Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]