






Masuk ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO) merupakan salah satu langkah besar dalam perjalanan sebuah bisnis. Dengan IPO, akses terhadap pendanaan menjadi lebih luas melalui penerbitan saham. Namun dalam praktiknya, IPO bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh dana tambahan. Banyak emiten tetap aktif menghimpun dana melalui instrumen lain, salah satunya obligasi korporasi.
Instrumen obligasi sendiri hadir dalam berbagai bentuk. Secara umum, obligasi dapat dibagi menjadi obligasi konvensional dan obligasi syariah (sukuk). Selain itu, penerbitannya juga dapat dilakukan dalam mata uang rupiah maupun valuta asing seperti dolar AS yang dikenal sebagai obligasi USD. Variasi ini memberi fleksibilitas bagi emiten dalam menyesuaikan kebutuhan pendanaan dengan kondisi pasar dan strategi keuangan.
Namun, mengapa emiten yang telah menghimpun dana dari pasar saham masih memilih untuk menerbitkan obligasi? Untuk memahami jawabannya, mari kita bahas alasan emiten menerbitkan obligasi korporasi berdasarkan studi kasus terbaru.
Per akhir Maret 2026, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) merilis prospektus penawaran umum obligasi dan sukuk dengan rincian sebagai berikut:
● Obligasi Berkelanjutan VI dengan target total program Rp10 triliun; tahap I menawarkan maksimal Rp1,75 triliun.
● Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V dengan target total program Rp10 triliun; tahap I maksimal Rp1,75 triliun.
● Obligasi USD Berkelanjutan III dengan target total US$100 juta atau sekitar Rp1,80 triliun; tahap I maksimal US$25 juta atau Rp450,1 miliar (berdasarkan asumsi kurs Rp18.004 per dolar AS).
Meskipun emiten ini telah mendapatkan dana dari saham publik, tetap dibutuhkan dana tambahan seiring dengan ekspansi bisnis dan pengelolaan struktur keuangan. Berikut adalah beberapa alasan emiten tetap menerbitkan obligasi.
Berbeda dengan aksi korporasi seperti rights issue, penerbitan obligasi tidak mengubah struktur kepemilikan saham. Obligasi merupakan instrumen utang, sehingga tidak menambah jumlah saham beredar.
Dengan jumlah saham beredar sebesar 5.470.982.941 lembar, penerbitan Obligasi Berkelanjutan VI dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V dengan total target program Rp20 triliun, serta tambahan US$100 juta atau sekitar Rp1,80 triliun dari obligasi USD, memungkinkan INKP memperoleh dana besar tanpa mengurangi porsi kepemilikan pemegang saham lama.
Sebagai ilustrasi, jika total pendanaan program tersebut, yang mencapai sekitar Rp21,8 triliun (Rp20 triliun + Rp1,8 triliun), dihimpun melalui rights issue dengan asumsi harga pelaksanaan Rp9.000, maka diperlukan penerbitan sekitar 2,42 miliar saham baru. Dampaknya, potensi dilusi kepemilikan sekitar 30,7%.
Dengan menerbitkan obligasi, kendali emiten tetap terjaga. Hak suara dan hak atas dividen pemegang saham lama tetap utuh, sehingga tata kelola emiten tidak terganggu di tengah ekspansi.
Selain itu, dari sisi kinerja per saham, penerbitan sekitar 2,42 miliar saham baru akan menekan earnings per share (EPS) secara proporsional dengan tingkat dilusi, yakni turun sekitar 30,7%. Sebagai gambaran, jika EPS saat ini diasumsikan sekitar Rp2.435 per saham, secara teoritis turun menjadi sekitar Rp1.688 per saham. Dengan menggunakan obligasi, tekanan terhadap EPS tersebut dapat dihindari, sehingga nilai investasi pemegang saham tetap terjaga.
Salah satu daya tarik utama obligasi adalah efisiensi pajak. Bunga obligasi dicatat sebagai biaya yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak (tax-deductible expense), berbeda dengan dividen yang dibayarkan dari laba setelah pajak. Perlakuan pajak atas imbal hasil sukuk bergantung pada struktur akad yang digunakan. Pada sukuk mudharabah yang diterbitkan korporasi, bagi hasil umumnya juga dapat dibebankan sebagai biaya sehingga memberikan manfaat pajak yang serupa dengan bunga obligasi.
Berikut rincian struktur instrumen yang diterbitkan INKP pada tahap I:
Obligasi Berkelanjutan VI

Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V

Obligasi USD Berkelanjutan III

Sumber: Prospektus Penawaran Umum Obligasi, Sukuk Mudharabah, dan Obligasi USD INKP
Dari struktur tersebut, total beban bunga obligasi konvensional mencapai sekitar Rp46,88 miliar per tahun. Sementara itu, imbal hasil dari sukuk mencapai sekitar Rp62,31 miliar per tahun. Untuk obligasi USD, beban bunga sekitar US$795.600 atau setara Rp14,32 miliar (dengan asumsi kurs Rp18.004 per dolar AS, konsisten dengan konversi di atas).
Secara keseluruhan, total biaya pendanaan mencapai sekitar Rp123,52 miliar per tahun. Dengan tarif Pajak Penghasilan Badan sebesar 22%, maka potensi penghematan pajak dapat dihitung sebagai berikut:
● Total tax shield = Rp123,52 miliar × 22% = Rp27,17 miliar
Artinya, terdapat efisiensi arus kas sekitar Rp27 miliar per tahun yang dapat dialokasikan kembali untuk operasional maupun ekspansi. Kombinasi obligasi konvensional dan sukuk juga memperluas basis investor sekaligus menjaga efisiensi struktur biaya modal.
Alasan berikutnya berkaitan langsung dengan kebutuhan ekspansi. Salah satu tujuan penggunaan dana yang disampaikan INKP adalah mendukung ekspansi kapasitas produksi. Termasuk rencana pengembangan fasilitas di Karawang, Jawa Barat yang membutuhkan belanja modal besar untuk pembelian mesin hingga pembangunan fasilitas produksi.
Mengandalkan arus kas internal untuk proyek sebesar ini tentu memerlukan waktu lebih lama. Dengan obligasi, pendanaan dapat diperoleh dalam jumlah besar sekaligus, sehingga proyek dapat berjalan sesuai jadwal.
Namun, dana obligasi tidak hanya diarahkan untuk belanja modal, tetapi juga untuk refinancing utang dan modal kerja.
Penggunaan dana juga dibedakan berdasarkan jenis instrumen, antara lain:
● Obligasi Berkelanjutan VI
Digunakan untuk refinancing utang lama serta sebagian untuk modal kerja umum. Strategi ini membantu emiten mengelola jatuh tempo utang dan menjaga likuiditas.
● Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V
Dialokasikan untuk modal kerja yang berkaitan langsung dengan kegiatan usaha, seperti pembelian bahan baku dan biaya operasional. Skema ini sesuai dengan prinsip syariah berbasis bagi hasil.
● Obligasi USD Berkelanjutan III
Difokuskan untuk refinancing kewajiban dalam valuta asing serta kebutuhan belanja modal dan modal kerja dalam dolar. Hal ini bertujuan menyesuaikan struktur pendanaan dengan kebutuhan dalam dolar AS (natural hedge), sehingga risiko ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch) dapat dikurangi.
Alokasi penggunaan dana dari masing-masing jenis menunjukkan bahwa obligasi bukan sekadar alat pendanaan, tetapi juga instrumen untuk mengelola risiko keuangan secara lebih presisi.
Melalui obligasi korporasi, emiten dapat memperoleh dana tanpa dilusi kepemilikan, menikmati efisiensi pajak, serta mendukung ekspansi bisnis dalam skala besar. Studi kasus INKP menunjukkan bagaimana kombinasi obligasi konvensional, sukuk, dan obligasi USD dapat digunakan secara bersamaan untuk mencapai tujuan finansial yang lebih optimal.
Bagi investor, memahami alasan di balik penerbitan obligasi ini dapat membantu membaca arah strategi emiten secara lebih komprehensif. Dengan demikian, keputusan investasi dapat diambil dengan pertimbangan yang lebih matang, sejalan dengan dinamika pasar modal yang terus berkembang.
Makmur menyediakan beragam produk reksa dana seperti reksa dana pendapatan tetap yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berpengalaman dan berisi berbagai obligasi baik dari pemerintah maupun korporasi. Jika Anda tertarik, salah satu produk yang dapat dipertimbangkan adalah Insight Elite Fund, yang mencatatkan imbal hasil sebesar 8,44% berdasarkan data per 20 Juli 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Investasi saham sering menjadi pilihan bagi para investor yang bertujuan memperoleh keuntungan. Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang signifikan, investasi saham juga memiliki risiko yang cukup tinggi, termasuk bila harga saham yang dibeli mengalami penurunan. Terdapat beberapa strategi untuk mengatasi kerugian tersebut, salah satunya adalah average down. Strategi ini memungkinkan investor membeli lebih banyak […]
Key Takeaways: Dalam industri tambang batu bara, harga komoditas global kerap menjadi acuan utama dalam menentukan pendapatan emiten. Untuk batu bara termal, acuan yang umum dipakai adalah indeks seperti Newcastle atau ICI, sedangkan batu bara metalurgi (kokas) mengacu pada harga hard coking coal. Pergerakan harga ini sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran global, sehingga […]
Key Takeaways: Menyusun target keuangan tahunan sering kali terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah dijalankan secara konsisten. Ketika tidak disertai dengan perencanaan yang jelas, target tersebut berisiko tidak terealisasi. Di sinilah pentingnya menggunakan metode perencanaan keuangan yang lebih terstruktur, salah satunya melalui metode SMART. Metode ini membantu Anda menyusun tujuan keuangan secara lebih […]
Key Takeaways: Ketika berinvestasi di saham, memahami laporan keuangan perusahaan bisa saja belum cukup untuk mengambil keputusan yang tepat. Investor juga perlu memperhatikan berbagai indikator makroekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk membaca kondisi ekonomi adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK merupakan hasil survei yang mengukur tingkat […]
Key Takeaways: Perubahan nilai tukar US Dollar (USD) terhadap rupiah bukan sekadar indikator makroekonomi yang jauh dari aktivitas sehari-hari. Bagi pelaku pasar modal, pergerakan USD memiliki implikasi langsung terhadap kinerja keuangan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan nilai tukar dapat menjadi katalis positif maupun negatif terhadap kinerja emiten, bergantung pada karakteristik bisnis masing-masing […]