Hai, Sobat Makmur! Menjelang 2025, ada sejumlah sentimen yang wajib kamu cermati, salah satunya yakni rencana China untuk menebar sejumlah stimulus. Sebagai salah satu negara dengan pengaruh yang cukup besar terhadap pasar modal, paket stimulus China menjadi sentimen yang ditunggu-tunggu oleh investor, karena berdampak pada arus modal dan pergerakan harga aset investasi. Pada artikel kali ini, Makmur akan mengajak kamu mengenal apa saja stimulus yang akan diluncurkan China tahun depan dan bagaimana dampaknya ke pasar modal. Yuk, disimak!
China mengisyaratkan akan melakukan langkah-langkah stimulus lanjutan pada tahun depan. Hal ini diketahui dari Konferensi Kerja Ekonomi Pusat yang berlangsung selama dua hari di Beijing pada pekan lalu, yang dipimpin langsung oleh Presiden Xi Jinping. Reuters mengabarkan, China akan mengadopsi kebijakan moneter yang cukup longgar tahun depan. Ini merupakan pelonggaran moneter pertama dalam 14 tahun terakhir.
Pemerintah China berkomitmen untuk memangkas suku bunga dan menurunkan persyaratan cadangan wajib atau reserve requirement ratio (RRR) bagi perbankan. Selain itu, ada potensi pemangkasan suku bunga pada awal tahun depan. Pelonggaran ini diharapkan mendongkrak kondisi pembiayaan untuk ekonomi riil. Sebab, pertumbuhan kredit di China secara tak terduga melambat pada bulan November karena menurunnya permintaan pinjaman
Bersamaan dengan pelonggaran moneter, China juga meluncurkan stimulus kebijakan fiskal yang lebih proaktif untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Para pembuat kebijakan kemungkinan bakal menetapkan target defisit anggaran lebih tinggi dari biasanya hingga 4% dari produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini akan membuka jalan bagi pemerintah pusat untuk meningkatkan pinjaman guna mendukung perekonomian.
Untuk diketahui, China bertekad untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan memastikan stabilitas lapangan kerja serta harga secara keseluruhan pada tahun depan. Meski belum diumumkan secara resmi, ekonomi China tahun ini kemungkinan hanya mampu tumbuh sekitar 5%, dan akan tumbuh di angka yang sama pada tahun 2025. Proyeksi ini mempertimbangkan Presiden terpilih AS Donald Trump yang mulai menjabat di tahun 2025 dengan membawa rencana kebijakan tarif sebesar 60% atau lebih terhadap barang impor China. Selain itu, Negeri Tirai Bambu tersebut juga akan memperbanyak penerbitan obligasi jangka panjang dan surat utang pemerintah daerah, yang akan digunakan untuk mendanai investasi infrastruktur dan belanja publik lainnya.
Sobat Makmur juga harus tahu bahwa pada 2025 merupakan puncak dari gerakan Made in China 2025. Ini merupakan strategi inisiatif yang diluncurkan oleh Perdana Menteri China Li Keqiang pada Mei 2015. Inisiatif ini terinspirasi program Industri 4.0 yang dicetuskan Jerman untuk industri manufaktur dengan menggunakan teknologi tingkat tinggi. Made in China 2025 merupakan peta jalan strategis bagi China untuk mendorong pelaku usaha domestik meningkatkan kemampuan dan keunggulan di sektor teknologi tinggi, dengan tujuan menguasai rantai pasok global. Langkah ini diharapkan membantu China keluar dari middle income trap yang kerap menjadi tantangan bagi negara-negara berkembang.
Sobat Makmur, sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, stimulus yang direncanakan China tentu menjadi angin segar bagi perekonomian. Stimulus China tak hanya dinilai mampu menggerakkan perekonomian dalam negeri, tetapi juga perekonomian luar China.
International Energy Agency (IEA) bahkan merevisi naik proyeksi permintaan minyak untuk tahun 2025, seiring dengan langkah stimulus ekonomi yang digencarkan China. Organisasi yang berbasis di Paris ini memperkirakan permintaan minyak global akan meningkat 1,1 juta barel per hari pada tahun 2025, naik dari perkiraan sebelumnya yang hanya sebesar 990.000 barel per hari.
Secara tak langsung, stimulus ekonomi China juga berdampak pada Indonesia. Stimulus dapat menyebabkan peningkatan belanja infrastruktur atau dukungan terhadap sektor manufaktur. Hal ini dapat memicu permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Untuk diketahui, China merupakan salah satu konsumen CPO dan batubara terbesar di dunia bersama India dan Indonesia. Sejumlah saham emiten yang berpotensi diuntungkan diantaranya PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Indonesia sebagai penghasil utama nikel juga berpeluang meraup untung dari stimulus China. Sebab, nikel merupakan bahan baku dari baja anti karat atau stainless steel yang menjadi komponen utama dalam pembangunan gedung, jalan, jembatan, dan infrastruktur lain. Kamu bisa mencermati saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Peningkatan permintaan ini memberikan sentimen positif pada saham-saham sektor pertambangan, bahan baku, perkebunan, dan energi, terutama bagi perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap pasar China. Stimulus China yang berfokus pada pertumbuhan konsumsi domestik juga berpotensi memperkuat hubungan perdagangan antara Indonesia dengan China. Dengan daya beli masyarakat China yang meningkat, ada peluang bagi perusahaan consumer Indonesia untuk memperluas pasar ekspornya. Pada akhirnya, kondisi ini dapat mendorong kinerja saham-saham yang bermuara pada kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Akan tetapi, Sobat Makmur juga perlu mewaspadai adanya volatilitas jangka pendek di pasar modal dari adanya stimulus ini. Salah satunya yakni berpindahnya dana asing dari pasar Indonesia ke China karena adanya kombinasi pelonggaran kebijakan dan valuasi saham indeks-indeks di China yang masih menarik.
Selain memilih saham yang berkaitan langsung dengan stimulus China, kamu juga bisa memilih reksa dana saham yang memiliki alokasi besar di saham sektor tambang, energi, dan logam. Sejumlah reksa dana saham favorit Nasabah Makmur yang bisa kamu pertimbangakan antara lain BNI-AM IDX Sharia Growth Kelas R1, Sucorinvest Equity Fund, Sucorinvest Maxi Fund, dan TRIM Syariah Saham.
Reksa dana campuran juga bisa menjadi alternatif investasi yang menarik saat stimulus China diluncurkan pada 2025. Reksa dana campuran menawarkan diversifikasi portofolio yang fleksibel antara saham, obligasi, dan pasar uang. Salah satu kelebihan reksa dana campuran adalah fleksibilitas Manajer Investasi (MI) dalam mengalokasikan aset. Ketika stimulus China meningkatkan permintaan terhadap komoditas atau memperkuat pasar saham regional, manajer investasi dapat meningkatkan alokasi pada saham untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan. Sebaliknya, jika ada ketidakpastian pasar, MI dapat memindahkan sebagian dana ke obligasi atau pasar uang yang lebih stabil, sehingga menjaga nilai portofolio.
Sejumlah reksa dana campuran favorit nasabah Makmur yang bisa kamu cermati antara lain Sucorinvest Anak Pintar, Trimegah Balanced Absolute Strategy Kelas A, TRIM Syariah Berimbang, Sucorinvest Citra Dana Berimbang, dan Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A.
Nah, Sobat Makmur itu dia penjelasan mengenai dampak stimulus China terhadap pasar modal Indonesia dan instrumen investasi yang bisa kamu pilih. Tentunya, artikel ini bermanfaat bagi kamu dalam berinvestasi di 2025.
Pastikan kamu berinvestasi di Makmur. Makmur merupakan platform aplikasi reksa dana berizin resmi sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga dana investasi kamu tetap tersimpan aman di bank kustodian. Di Makmur, investor bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran.
Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]