Sebagai investor, pemahaman terhadap pergerakan saham sangat diperlukan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Salah satu fitur yang dapat membantu investor untuk memprediksi pergerakan saham adalah data broker flow. Broker Flow adalah data yang merangkum aktivitas transaksi (beli dan jual) yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas atau broker dalam periode waktu tertentu. Data ini menunjukkan identitas broker, volume saham yang ditransaksikan, serta harga rata-rata transaksi.
Di pasar modal Indonesia, setiap investor, baik ritel maupun institusi, harus melakukan transaksi melalui broker. Dengan memperhatikan “aliran” transaksi dari broker tertentu, investor dapat memperoleh gambaran apakah ada aksi akumulasi atau pembelian saham secara bertahap dari smart money atau big funds, seperti investor institusi. Transaksi big funds berpotensi memengaruhi pergerakan harga saham, karena volume transaksi yang lebih besar dibandingkan dengan investor ritel.
Sebelum membahas broker flow lebih detail, Anda perlu mengetahui apa itu akumulasi saham, akumulasi saham merupakan strategi pembelian saham secara bertahap dalam jumlah besar oleh big funds. Dengan menggunakan data broker flow, investor dapat mendeteksi akumulasi saham tersebut. Salah satu indikator yang paling sering terlihat adalah ketika harga saham turun, namun investor institusi justru memperbesar posisi dengan membeli saham tersebut.
Data broker flow memberikan informasi tentang transaksi yang dilakukan oleh investor institusi yang memudahkan untuk mendeteksi pergerakan ini. Sebagai langkah awal, ketahui beberapa komponen penting yang perlu dipahami dalam broker flow:
Grafik dalam broker flow menyajikan informasi tentang pergerakan harga saham dan volume beli/jual yang dilakukan oleh investor institusi. Grafik ini sangat berguna bagi investor untuk mengetahui aksi yang dilakukan oleh investor institusi, termasuk saat mengakumulasi saham. Grafik ini biasanya dilengkapi dengan time frame yang dapat diubah, mulai dari satu hari hingga satu tahun. Sehingga, investor dapat melihat pola pergerakan saham dalam berbagai periode waktu yang berbeda.
Volume merupakan jumlah total lot atau lembar saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu. Dalam broker flow, volume memberikan gambaran seberapa besar jumlah saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu. Peningkatan volume yang signifikan, terutama jika terjadi pada harga yang lebih rendah, bisa menjadi indikator adanya aksi akumulasi oleh investor institusi. Volume yang tinggi menunjukkan bahwa banyak saham yang dibeli atau dijual, yang sering kali berkaitan dengan keputusan investasi besar dari institusi.
Value dalam broker flow merupakan total nilai nominal transaksi yang dilakukan oleh investor institusi. Nilai ini dihitung berdasarkan harga saham yang dibeli atau dijual pada waktu tertentu. Value sangat penting untuk mengetahui seberapa besar uang yang dikeluarkan oleh investor institusi dalam proses akumulasi saham. Semakin tinggi nilai transaksi yang tercatat, semakin besar pula indikasi bahwa investor institusi melakukan akumulasi saham dalam jumlah besar.
Mendeteksi akumulasi saham menggunakan data broker flow dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah. Proses ini memerlukan pemahaman terhadap grafik yang disediakan oleh data broker flow, serta kemampuan untuk menganalisis perubahan volume dan value pada saat harga saham bergerak. Berikut adalah langkah untuk mendeteksi akumulasi saham:
Langkah pertama adalah mengakses data broker flow pada saham yang sudah Anda tentukan. Banyak platform investasi atau broker yang menyediakan fitur broker flow, termasuk Makmur. Sehingga, Anda akan menemukan data yang mencakup volume dan value transaksi yang dilakukan oleh broker dalam periode waktu tertentu.
Setelah data broker flow diakses, langkah selanjutnya adalah memilih time frame atau jangka waktu yang akan dianalisis. Time frame yang tepat akan membantu Anda mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pergerakan harga saham dalam jangka waktu tertentu. Biasanya, Anda dapat memilih antara time frame harian, mingguan, atau bulanan. Pastikan Anda memilih periode yang sesuai dengan tujuan analisis Anda.
Selanjutnya, perhatikan grafik broker flow yang menampilkan volume dan value transaksi. Jika harga saham mengalami penurunan tetapi terdapat investor institusi yang melakukan pembelian, ini bisa menjadi indikasi adanya akumulasi saham. Peningkatan volume pembelian pada harga yang lebih rendah menunjukkan bahwa investor institusi memperbesar posisi mereka pada saham tersebut. Ini sering kali menjadi tanda bahwa saham tersebut akan mengalami pergerakan harga yang lebih tinggi ke depannya.
Sebagai contoh, mari kita analisis saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Pada tanggal 26 Agustus 2025, harga saham WIFI berada pada Rp2.800, dan seorang investor institusi membeli sejumlah 629 ribu lot saham atau setara dengan Rp176 miliar.
Gambar 1. Data broker flow saham WIFI

Sumber: Makmur App
Beberapa hari setelahnya, harga saham WIFI mengalami koreksi ke Rp2.690, namun investor institusi tersebut justru semakin banyak membeli saham tersebut. Puncak pembelian terjadi pada tanggal 25 September 2025, dengan volume pembelian mencapai 1 juta lot atau setara dengan Rp263 miliar pada harga Rp2.590.
Pada 10 Oktober 2025, harga saham WIFI naik signifikan ke Rp3.930 dan investor institusi mulai mendistribusikan saham tersebut. Mereka mengurangi posisi hingga hanya menyisakan 721 ribu lot, atau setara dengan Rp161 miliar.
Contoh di atas menunjukkan bagaimana data broker flow dapat membantu mendeteksi adanya akumulasi saham. Ketika harga saham turun, tetapi volume pembelian institusi meningkat, ini menunjukkan adanya akumulasi. Sebaliknya, ketika harga saham mulai naik, investor institusi biasanya mulai mendistribusikan saham yang sudah diakumulasi.
Distribusi saham adalah fase di mana investor institusi secara perlahan menjual atau melepas kepemilikan saham. Tujuannya adalah untuk merealisasikan keuntungan setelah harga saham naik secara signifikan.
Mendeteksi akumulasi saham menggunakan data broker flow merupakan salah satu cara yang sangat berguna bagi investor untuk memahami pergerakan pasar yang dilakukan oleh investor institusi. Dengan memperhatikan grafik volume dan value pada data broker flow, investor dapat mengetahui kapan investor institusi mulai melakukan akumulasi saham.
Hal tersebut dapat menjadi indikasi potensi pergerakan harga kedepannya. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang data broker flow, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik, serta meminimalkan risiko kerugian yang dapat timbul dari pergerakan pasar yang tidak terduga.
Meskipun analisis akumulasi saham melalui broker flow dapat memberikan wawasan berharga, proses ini memerlukan pemahaman mendalam serta waktu yang intens untuk memantau pasar. Apabila Anda ingin berinvestasi secara efisien, reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berkompeten bisa menjadi pilihan.
Dalam konteks pasar modal, manajer investasi merupakan salah satu pelaku institusional yang dapat dikategorikan sebagai big funds karena mengelola dana dalam jumlah besar. MI mengelola dana yang dikumpulkan dari ribuan hingga jutaan investor melalui instrumen reksa dana. Karena besarnya dana kelolaan (Asset Under Management/AUM), manajer investasi cenderung tidak dapat masuk atau keluar dari suatu saham dalam waktu singkat. Aktivitas yang mereka ciptakan membentuk pola akumulasi ketika mulai melakukan pembelian bertahap pada saham yang dinilai undervalued, serta pola distribusi saat mulai merealisasikan keuntungan.
Terdapat beberapa reksa dana saham di Makmur yang dapat menjadi pilihan, salah satunya adalah Sucorinvest Maxi Fund yang telah mencatatkan performa positif dengan hasil 38,31% berdasarkan data per 29 Mei 2026 dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Sebagai […]
Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]
Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan […]
Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]
Harga saham perdana ditetapkan sebelum saham diperdagangkan di pasar, sehingga penilaian investor terutama bertumpu pada informasi dalam prospektus. Ketelitian membaca dokumen tersebut menjadi pembeda utama dalam menilai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Pada 2026, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak muncul dalam proses IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per […]
Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]