Hai, Sobat Makmur! Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru-baru ini mengambil keputusan penting dengan memperpanjang jeda penerapan tarif 50% terhadap produk Uni Eropa (UE) hingga 9 Juli 2025. Keputusan ini muncul setelah adanya negosiasi lanjutan yang bertujuan meredakan ketegangan dagang antara kedua belah pihak. Dalam artikel kali ini, Makmur akan mengulas perkembangan terbaru dari negosiasi tersebut serta dampaknya terhadap pasar keuangan global. Yuk, simak selengkapnya!
Presiden Donald Trump memutuskan menunda pemberlakuan tarif 50% terhadap produk Uni Eropa hingga 9 Juli 2025. Keputusan ini diambil menyusul percakapan positif dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang membuka ruang bagi kedua pihak untuk melanjutkan perundingan dagang untuk mencapai kesepakatan.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan memberlakuan tarif tinggi mulai 1 Juni karena menilai Uni Eropa memberlakukan kebijakan yang tidak adil terhadap perusahaan AS. Uni Eropa pun merespon dengan tarif balasan sebesar 20%, kemudian menurunkannya menjadi 10% selama periode jeda tarif.
Namun, perdebatan antara kedua pihak tidak hanya berfokus pada tarif, tetapi juga pada hambatan non-tarif seperti regulasi dan birokrasi yang masih menjadi isu utama dalam negosiasi. Pekan lalu, Kepala Perdagangan Uni Eropa, Maros Seferovic, mengajukan kerangka kerja baru dalam negosiasi dengan AS, yang mencakup tarif, hambatan non-tarif, keamanan ekonomi, investasi strategis, serta kerja sama global.
Menurut analisis Bloomberg Economics, tarif 50% yang diusulkan Trump berpotensi menekan nilai perdagangan bilateral hingga US$321 miliar, menurunkan PDB AS sebesar 0,6%, serta meningkatkan harga barang sebesar 0,3%. Di sisi lain, Trump sendiri menyebutkan bahwa kebijakan tarif ini sebagai upaya untuk mendorong agar industri penting kembali diproduksi di AS, terutama di bidang teknologi seperti chip, komputer, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Penundaan penerapan tarif 50% oleh AS disambut positif oleh pasar saham Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (26/05) pukul 14.00 WIB, indeks saham berjangka S&P 500 Futures menguat 1,11% ke level 5.881,50, mencerminkan optimisme seiring meredanya ketegangan dagang. Sementara itu, dolar AS melemah 0,29% ke level 98,79 sebagai respon pasar terhadap jeda tarif tersebut.
Dari sisi domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi, dipengaruhi oleh faktor internal seperti: pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang melambat menjadi 4,87% dari kuartal sebelumnya sebesar 5,02%, pertumbuhan kredit April yang melambat menjadi 8,80% dari bulan sebelumnya sebesar 9,16%, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 oleh Bank Indonesia yang diturunkan ke kisaran 4,6%–5,4% dari sebelumnya 4,7%–5,5%, proyeksi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2026 yang diperkirakan di kisaran Rp16.500–16.900/US$, serta sentimen global yang masih berhati-hati.
Di samping itu, aksi ambil untung (profit-taking) setelah kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir turut menekan pergerakan indeks.
Meski pasar AS menunjukkan sinyal positif, risiko volatilitas tetap tinggi terutama menjelang batas akhir negosiasi pada 9 Juli. Risiko ini bisa meningkat jika kesepakatan tarif tidak tercapai, sehingga investor perlu tetap mencermati perkembangan kebijakan tarif dagang Trump dan sentimen pasar yang dapat memengaruhi pergerakan pasar, baik secara global maupun domestik.
Di tengah ketidakpastian pasar yang masih membayangi, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi pasar. Diversifikasi menjadi kunci untuk menjaga kestabilan portofolio. Salah satu instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan untuk diversifikasi adalah reksa dana, khususnya Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT).
RDPT merupakan jenis reksa dana yang mengalokasikan minimal 80% portofolionya pada instrumen surat utang. Reksa dana ini cenderung memberikan stabilitas pada portofolio dan memberikan potensi imbal hasil yang didistribusikan secara berkala.
Sebagai contoh, jika kamu berinvestasi di Trimegah Dana Tetap Syariah Kelas A dengan dana awal sebesar Rp20.000.000, dengan return 1Y sebesar 8,81% (data per 26 Mei 2025) dan rutin investasi Rp2.000.000/bulan, maka dalam 3 tahun, total investasi kamu menjadi 13,82%.
*Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa mendatang.
Nah, Sobat Makmur, demikian ulasan terbaru tentang perkembangan negosiasi dagang antara AS dan Uni Eropa, serta dampaknya terhadap pasar keuangan. Meski tensi dagang mereda untuk sementara, ketidakpastian pasar masih bisa membayangi dan bahkan meningkat jika kesepakatan tidak tercapai. Di tengah kondisi global yang fluktuatif, penting untuk tetap cermat dalam mengelola investasi. Diversifikasi melalui reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga kestabilan portofolio kamu.
Di Makmur, kamu juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur bisa membeli reksa dana pilihanmu dengan memanfaatkan promo seperti promo Miracle May, Promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]