






Pertumbuhan jumlah investor tidak hanya meningkat secara agregat, tetapi juga diiringi dengan perubahan struktur demografi yang sangat jelas. Kelompok usia muda kini menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar modal Indonesia. Data terbaru dari KSEI menunjukkan bahwa lebih dari separuh investor individu di pasar modal Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun per Februari 2026. Kini, generasi muda, khususnya Gen Z, telah aktif berpartisipasi dalam aktivitas investasi.
Fenomena ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia ke depannya. Semakin besar partisipasi investor muda di bawah 30 tahun, semakin kuat pula basis investor domestik yang dapat menopang stabilitas pasar dalam jangka panjang. Selain itu, karakteristik generasi muda yang adaptif terhadap teknologi berperan signifikan dalam mengakselerasi transformasi industri keuangan menuju sistem yang lebih digital, transparan, dan terintegrasi.
Data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan adanya dinamika menarik dalam komposisi investor berdasarkan kelompok usia. Pada Februari 2026, investor muda di bawah 30 tahun menjadi satu-satunya segmen yang mengalami peningkatan proporsi. Sementara itu, kelompok usia lainnya justru mengalami sedikit penurunan.
Sebagai contoh, kelompok usia 31–40 tahun mengalami penurunan proporsi dari 24,62% menjadi 24,57%. Perubahan ini mengindikasikan bahwa daya tarik pasar modal saat ini lebih efektif menjangkau investor baru dari kalangan mahasiswa maupun fresh graduate.
Kondisi ini mencerminkan semakin kuatnya dominasi investor muda dalam pertumbuhan pasar modal Indonesia. Dalam jangka panjang, dominasi ini menjadi faktor penting bagi stabilitas pasar, karena investor domestik yang kuat dapat meredam volatilitas arus dana asing.
Seiring dengan perkembangan tersebut, terdapat sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya partisipasi investor muda di bawah 30 tahun, di antaranya:
Transformasi digital di sektor keuangan telah mempermudah akses bagi calon investor. Pembukaan rekening investasi saham dapat dilakukan secara cepat melalui aplikasi mobile tanpa proses yang kompleks. Hal ini memungkinkan lebih banyak individu untuk mulai berinvestasi sejak dini. Di sisi lain, kemudahan akses ini juga sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mencapai 20 juta investor pasar modal pada tahun 2026.
Peningkatan literasi keuangan turut berperan besar dalam mendorong partisipasi investor muda di bawah 30 tahun. Akses terhadap edukasi kini semakin luas melalui platform digital dan didukung oleh infrastruktur internet yang menjangkau berbagai daerah, termasuk di luar Pulau Jawa. Sumatra menempati posisi kedua setelah Pulau Jawa dengan proporsi jumlah investor sebesar 17,41%. Pada posisi berikutnya, wilayah Sulawesi mengungguli Kalimantan secara tipis dari sisi jumlah investor dengan porsi 5,43%, sementara Kalimantan berada di angka 5,23%. Namun, wilayah Indonesia Timur masih mencatat proporsi investor yang relatif lebih rendah dengan jumlah investor 4,49%, yang merupakan gabungan dari wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, dan Papua.
Kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan sejak dini menjadi faktor lain yang tidak kalah penting. Generasi muda mulai melihat investasi sebagai sarana untuk mencapai kemandirian finansial. Dengan jangka waktu produktif yang lebih panjang, investor muda di bawah 30 tahun memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan pertumbuhan aset melalui strategi investasi yang konsisten.
Selain jumlah yang terus meningkat, karakteristik investor muda di bawah 30 tahun juga tercermin dari pilihan instrumen investasi yang digunakan. Secara umum, terdapat kecenderungan untuk memilih produk yang mudah diakses, memiliki risiko terukur, serta sesuai dengan profil keuangan awal.
Dominasi investor muda di pasar modal Indonesia semakin terlihat dengan porsi lebih dari separuh total investor individu per Februari 2026. Secara kumulatif, jumlah investor pasar modal telah mencapai 22,97 juta orang dengan pertumbuhan dari bulan sebelumnya sebesar 9,03%. Angka ini menunjukkan bahwa kelompok usia di bawah 30 tahun menjadi penggerak pertumbuhan industri keuangan.
Berikut adalah beberapa instrumen yang paling banyak diminati oleh investor muda di bawah 30 tahun:
Secara umum, instrumen saham dimiliki oleh 9,2 juta investor. Mayoritas merupakan investor individu, meskipun secara nilai aset masih didominasi oleh institusi. Untuk kelompok usia di bawah 30 tahun, total aset yang dimiliki mencapai Rp58,11 triliun. Hal ini menunjukkan adanya minat yang tinggi terhadap potensi pertumbuhan melalui capital gain. Namun, dinamika pasar saham yang dipengaruhi berbagai faktor eksternal tetap memerlukan pemahaman yang memadai, terutama bagi investor baru.
Jumlah investor reksa dana mencapai 21,7 juta orang, lebih tinggi dibanding saham. Namun, dari sisi nilai aset, kepemilikan investor muda masih lebih besar pada saham. Total aset investor muda di bawah 30 tahun pada reksa dana mencapai Rp22,03 triliun. Pertumbuhan sebesar 9,53% pada Februari 2026 menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki daya tarik yang kuat, terutama untuk menarik investor baru di bawah 30 tahun.
Hal ini terjadi karena reksa dana dikelola oleh manajer investasi (MI). Instrumen ini tidak memerlukan analisis yang terlalu mendalam bagi investor yang baru mulai berinvestasi. Selain itu, berbagai jenis profil risiko serta modal yang relatif rendah yang ditawarkan sering kali menjadi pertimbangan bagi investor baru. Kini, total assets under management (AUM) mencapai Rp1.073,25 triliun yang mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap instrumen ini.
Instrumen SBN mencatatkan jumlah investor sebanyak 1.457.172 orang dengan dominasi investor individu. Pertumbuhan sebesar 1,44% menunjukkan bahwa instrumen ini cenderung berkembang lebih stabil dibandingkan instrumen lainnya. SBN menawarkan tingkat keamanan yang tinggi karena dijamin oleh negara, sehingga cocok bagi investor baru di bawah 30 tahun yang menginginkan profil risiko investasi rendah. Meskipun demikian, daya tariknya bagi investor muda di bawah 30 tahun masih relatif terbatas dibandingkan reksa dana dan saham yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Meskipun tidak tercatat dalam sistem seperti saham atau reksa dana, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang relevan dalam perencanaan keuangan. Bagi investor muda di bawah 30 tahun, emas sering digunakan sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven. Keberadaannya melengkapi portofolio investasi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Pertumbuhan jumlah investor muda di bawah 30 tahun di pasar modal Indonesia mencerminkan perubahan struktural yang signifikan. Dengan porsi lebih dari separuh total investor individu per Februari 2026, kelompok usia di bawah 30 tahun menjadi pilar dalam pengembangan industri keuangan nasional.
Didukung oleh kemudahan akses, peningkatan literasi, serta kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Di sisi lain, preferensi terhadap instrumen investasi juga menunjukkan bahwa mayoritas investor muda di bawah 30 tahun memilih untuk berinvestasi pada instrumen dengan profil risiko yang terukur.
Bagi Anda yang baru memulai perjalanan investasi saham, Makmur kini menyediakan fitur investasi saham terintegrasi melalui kolaborasi strategis dengan OCBC Sekuritas. Inovasi ini memungkinkan para investor ritel untuk melakukan transaksi jual-beli saham secara praktis di dalam satu platform.
Makmur juga menyediakan berbagai tools analisis data yang komprehensif. Pengguna dapat memantau order book secara real time, menganalisis broker flow, hingga meninjau laporan keuangan emiten di aplikasi. Makmur merupakan perusahaan wealth-tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Momentum May dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]
Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]
Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]
Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]
Key Takeaways: Sebagai investor, pemahaman terhadap pergerakan saham sangat diperlukan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Salah satu fitur yang dapat membantu investor untuk memprediksi pergerakan saham adalah data broker flow. Broker Flow adalah data yang merangkum aktivitas transaksi (beli dan jual) yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas atau broker dalam periode waktu tertentu. Data […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]