Sepanjang YTD 2026, investor domestik menghadapi tiga tekanan sekaligus. Inflasi meningkat ke 3,28% secara tahunan pada September, sementara rupiah sempat melewati Rp18.000 per dolar AS pada akhir September 2026.
Dalam kondisi seperti itu, emas dan dolar AS sering dipandang sebagai aset lindung nilai. Namun, keduanya bekerja melalui mekanisme yang berbeda dan memberikan hasil yang tidak selalu sejalan.
Perbandingan kinerja, biaya, dan karakter risiko kedua aset membantu investor menilai peran masing-masing dalam portofolio. Pendekatan ini lebih berguna dibandingkan memilih salah satu sebagai jawaban tunggal.
Dari situasi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut, yaitu faktor yang menggerakkan keduanya, kinerja masing-masing sepanjang 2026, serta cara menempatkannya dalam portofolio.
Aset lindung nilai merupakan aset yang digunakan untuk mengurangi dampak risiko tertentu terhadap portofolio, misalnya inflasi atau pelemahan mata uang domestik. Efektivitasnya bergantung pada jenis risiko yang dihadapi dan kondisi pasar.
Ukuran keberhasilannya pun spesifik. Efektivitas lindung nilai diukur dari kemampuan aset tersebut menjaga daya beli dalam rupiah, bukan dari kenaikan harganya semata.
Perlu dicatat bahwa tidak ada aset yang selalu efektif pada setiap kondisi. Setiap aset memiliki faktor penggerak yang berbeda, sehingga hasilnya bergantung pada jenis tekanan yang sedang terjadi.
Perbedaan inilah yang membuat keduanya tidak dapat dianggap sebagai pengganti satu sama lain.
Harga emas dunia dalam dolar AS umumnya dipengaruhi suku bunga riil Amerika Serikat, permintaan bank sentral, dan ketidakpastian geopolitik. Adapun harga emas dalam rupiah juga dipengaruhi pergerakan kurs.
Dolar AS dalam rupiah memiliki penggerak yang lain, yaitu selisih suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat, arus modal asing, serta kondisi neraca pembayaran.
Perbedaan tersebut dapat menghasilkan arah yang berlawanan. Kenaikan suku bunga Amerika Serikat cenderung memperkuat dolar AS, tetapi pada saat yang sama dapat menekan harga emas dunia.
Pergerakan emas pada 2026 memperlihatkan bahwa aset lindung nilai pun dapat mengalami koreksi besar.
Tabel 1. Pergerakan Harga Emas Dunia dan Emas Antam Sepanjang 2026

Sumber: Data harga emas dunia dan harga jual emas Antam, diolah.
Dari level akhir 2025, harga emas dunia turun sekitar 3,0%–3,1%. Jika dibandingkan dengan rekor Januari 2026, posisinya berada sekitar 25,4% lebih rendah.
Emas dalam rupiah justru menunjukkan arah yang berbeda. Harga emas Antam naik sekitar 3,76% menjadi Rp2.595.000 per gram pada 30 September 2026, karena pelemahan rupiah mengimbangi penurunan harga emas dunia.
Meski demikian, posisinya masih sekitar 18,09% di bawah rekor Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026. Dengan selisih sebesar itu, hasil investasi emas sangat bergantung pada waktu pembelian.
Selain harga, terdapat komponen lain yang sering luput diperhitungkan, yaitu selisih antara harga jual dan harga pembelian kembali.
Pada 30 September 2026, harga buyback emas Antam tercatat Rp2.405.000 per gram. Angka tersebut sekitar 7,32% di bawah harga jualnya yang sebesar Rp2.595.000 per gram.
Sebagai ilustrasi, investor yang membeli emas pada harga jual akhir 2025 sebesar Rp2.501.000 per gram dan menjualnya kembali pada harga buyback 30 September 2026 sebesar Rp2.405.000 per gram mencatatkan kerugian sekitar 3,84% sebelum memperhitungkan biaya penyimpanan dan biaya lainnya.
Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi aritmetik dan belum memperhitungkan biaya penyimpanan maupun selisih harga antarpenjual. Intinya, selisih harga jual dan buyback membuat emas fisik umumnya lebih relevan untuk horizon investasi yang tidak terlalu pendek.
Perbandingan terhadap inflasi membantu menilai apakah kedua aset benar-benar menjaga daya beli.
Rupiah berada di sekitar Rp16.737 per dolar AS pada 31 Desember 2025, sedangkan JISDOR tercatat Rp17.877 per dolar AS pada 30 September 2026. JISDOR merupakan kurs referensi rupiah yang diterbitkan Bank Indonesia.
Dengan pergerakan tersebut, nilai dolar AS dalam rupiah naik sekitar 6,81% sepanjang tahun berjalan, berdasarkan perbandingan kurs JISDOR pada akhir 2025 dan 30 September 2026.
Dari sisi inflasi, harga barang dan jasa di Indonesia naik 2,17% sejak Desember 2025 hingga September 2026 (inflasi tahun kalender atau year to date). Jika dibandingkan dengan September 2025, kenaikannya mencapai 3,28% (inflasi tahunan atau year on year).
Karena kenaikan nilai dolar AS dan harga emas dihitung sejak akhir 2025, inflasi tahun kalender sebesar 2,17% digunakan sebagai pembanding agar periodenya setara.
Tabel 2. Perubahan Nilai Emas Antam dan Dolar AS Dibandingkan dengan Inflasi Tahun Kalender 2026

Sumber: Perhitungan berdasarkan data kurs, harga emas Antam, dan rilis inflasi BPS. Selisih dihitung sebagai pengurangan sederhana dan merupakan ilustrasi, bukan ukuran imbal hasil riil yang presisi.
Keunggulan dolar AS pada 2026 berkaitan erat dengan kondisi global. Bank Indonesia menyebut kebijakan suku bunga Amerika Serikat, konflik di Selat Hormuz, dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat sebagai faktor yang menekan nilai tukar rupiah.
Hasil pada 2026 belum menggambarkan seluruh karakter kedua aset. Berikut poin yang dapat dicermati investor.
Eksposur dolar AS memberikan perlindungan yang lebih langsung terhadap risiko pelemahan rupiah karena nilainya bergerak mengikuti pergerakan kurs. Namun, nilainya dalam rupiah akan turun apabila rupiah kembali menguat.
Pembalikan semacam itu dapat terjadi cepat. Pada 29 September, rupiah sempat melewati Rp18.000 per dolar AS sebelum menguat ke Rp17.877 berdasarkan JISDOR pada 30 September 2026.
Tingkat bunga penjaminan LPS untuk simpanan valuta asing di bank umum ditetapkan sebesar 2,00% per tahun, lebih rendah dibandingkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah sebesar 3,75% untuk periode yang sama. Angka tersebut merupakan batas suku bunga simpanan yang dijamin LPS, bukan imbal hasil aktual yang ditawarkan bank.
Emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Namun, emas tidak memberikan eksposur langsung pada mata uang satu negara dan kerap digunakan sebagai sarana diversifikasi portofolio dalam jangka panjang. Meski demikian, harganya tetap dipengaruhi suku bunga riil, pergerakan dolar AS, dan permintaan global.
Volatilitas emas pada 2026 menjadi catatan penting. Penurunan harga emas dunia sekitar 25% dari puncaknya menunjukkan bahwa emas pun dapat mengalami koreksi besar dalam jangka pendek.
Selain memegang dolar AS secara langsung, sebagian investor memperoleh eksposur dolar secara tidak langsung melalui saham emiten yang pendapatannya dalam dolar AS, seperti emiten energi. Beberapa di antaranya adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Meski demikian, dampaknya tidak seragam. Hasilnya tetap dipengaruhi harga komoditas, kontrak penjualan, dan regulasi devisa hasil ekspor, sehingga pergerakannya tidak selalu mengikuti kurs secara langsung.
Pertanyaan pada judul tidak memiliki satu jawaban, karena jawabannya ditentukan oleh jenis risiko yang ingin ditekan.
Untuk melindungi portofolio dari pelemahan rupiah dalam jangka pendek, dolar AS memiliki hubungan yang lebih langsung dengan risiko kurs. Data sepanjang 2026 juga menunjukkan kenaikan nilai dolar AS dalam rupiah yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga emas Antam.
Untuk melindungi daya beli dari inflasi dan ketidakpastian dalam jangka panjang, emas memiliki rekam jejak sebagai penyimpan nilai. Namun, hasil investasi tetap dipengaruhi harga pembelian dan jangka waktu kepemilikan.
Karena faktor penggeraknya berbeda, kombinasi keduanya dalam porsi terukur dapat memberikan perlindungan yang lebih seimbang dibandingkan mengandalkan satu aset saja.
Penempatannya perlu disesuaikan dengan tujuan, bukan sekadar mengikuti aset yang kinerjanya sedang baik. Berikut langkah yang dapat dipertimbangkan.
Kebutuhan dana dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan atau perjalanan ke luar negeri, lebih relevan dilindungi dengan aset berdenominasi dolar AS.
Adapun perlindungan daya beli jangka panjang terhadap inflasi dapat mempertimbangkan emas sebagai bagian dari diversifikasi.
Aset lindung nilai berfungsi sebagai penyeimbang, sehingga porsinya umumnya tidak mendominasi portofolio yang tujuan utamanya pertumbuhan atau pendapatan.
Besarnya porsi perlu disesuaikan dengan profil risiko, horizon investasi, dan kebutuhan likuiditas masing-masing investor.
Selisih harga jual dan buyback emas fisik serta selisih kurs jual dan beli valuta asing mengurangi hasil bersih, terutama untuk horizon pendek.
Pembelian bertahap dapat membantu mengurangi risiko masuk pada harga puncak, seperti yang terjadi pada emas di awal 2026.
Reksa dana pasar uang USD menempatkan dana pada instrumen pasar uang berdenominasi dolar AS, sehingga dapat memberikan eksposur terhadap dolar AS. Pencairan investasi tetap mengikuti ketentuan produk, sementara nilai investasinya dalam rupiah dipengaruhi oleh pergerakan kurs.
Nilai investasinya dalam rupiah tetap dipengaruhi pergerakan kurs. Karena itu, instrumen ini lebih sesuai untuk kebutuhan dolar AS atau sebagai penyeimbang risiko pelemahan rupiah, bukan untuk mengejar kenaikan nilai dalam jangka pendek.
Emas dan dolar AS sama-sama dapat berperan sebagai aset lindung nilai, tetapi efektivitasnya berbeda tergantung jenis risiko, horizon investasi, dan waktu masuk.
Pada 2026, dolar AS memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap pelemahan rupiah. Sementara itu, harga jual emas Antam naik 3,76% sejak akhir 2025, melampaui inflasi tahun kalender sebesar 2,17%. Namun, kenaikan harga jual tersebut tidak mencerminkan imbal hasil bersih investor karena harga jual kembali (buyback) lebih rendah dan dapat menyebabkan kerugian, terutama dalam jangka pendek.
Jika Anda ingin memperoleh eksposur terhadap dolar AS melalui reksa dana, pilihan produk dapat disesuaikan dengan tujuan dan toleransi risiko. Untuk kebutuhan yang lebih berfokus pada instrumen pasar uang berdenominasi dolar AS, Anda dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang USD yang tersedia di Makmur. Sementara itu, reksa dana campuran seperti Sucorinvest USD Balanced Fund dapat menjadi alternatif bagi investor yang bersedia menerima risiko investasi saham untuk memperoleh potensi imbal hasil yang berbeda.
Perlu dicatat, mayoritas alokasi saham Sucorinvest USD Balanced Fund berada pada emiten domestik. Karena itu, kinerjanya juga dipengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia dan tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurs. Untuk eksposur dolar AS yang lebih langsung dengan likuiditas terjaga, tersedia pula pilihan reksa dana pasar uang USD seperti Sucorinvest Money Market USD, Bahana Liquid USD, dan Danamas Dollar.
Selain reksa dana USD, Anda juga dapat mempertimbangkan reksa dana campuran lain sebagai sarana diversifikasi portofolio. Salah satu contohnya adalah Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A, dengan ANTM sebagai salah satu investasi utamanya.
Mengombinasikan beberapa jenis reksa dana dapat membantu menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan tingkat risiko yang sesuai dengan profil Anda. Perlu diketahui, kedua reksa dana campuran tersebut tergolong berisiko tinggi, sedangkan nilai reksa dana USD dalam rupiah tetap dipengaruhi pergerakan kurs.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dana darurat adalah dana yang disiapkan untuk kebutuhan mendesak yang tidak terduga, seperti biaya kesehatan, perbaikan rumah, atau kehilangan pendapatan. Karena fungsinya tersebut, syarat utamanya adalah mudah dicairkan dan nilainya relatif stabil. Persoalannya, dua syarat tersebut tidak otomatis berarti nilainya terjaga. Pada September 2026, inflasi tahunan tercatat 3,28%, sementara bunga tabungan reguler di […]
Key Takeaways: Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Sebagai […]
Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]
Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan […]
Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]