Pasar modal Indonesia kembali diramaikan oleh penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering / IPO) dari perusahaan strategis. Salah satu emiten yang tengah menarik perhatian investor adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha Grup Chandra Asri (TPIA), yang akan mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 08 Juli 2025. Dengan fokus bisnis pada pengelolaan infrastruktur seperti energi, logistik, air bersih, dan pelabuhan, IPO CDIA membuka peluang bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke sektor penopang industri nasional. Dalam artikel ini, Makmur akan membahas profil CDIA, struktur bisnis dan keuangannya, serta serta sejumlah faktor yang membuat emiten ini menarik dicermati menjelang IPO.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) adalah perusahaan holding infrastruktur yang didirikan pada 8 Februari 2023 dan merupakan anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), bagian dari Grup Barito, bersama EGCO Group, perusahaan energi asal Thailand. CDIA berfokus pada pengembangan infrastruktur strategis yang mencakup sektor energi, logistik, kepelabuhanan, penyimpanan, dan air bersih.
CDIA menjalankan bisnisnya melalui empat pilar utama:
Melalui sinergi keempat pilar tersebut, CDIA berpotensi sebagai penyedia infrastruktur terintegrasi yang menopang kawasan industri nasional.
Sebelum IPO, CDIA dimiliki oleh dua pemegang saham utama: PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan kepemilikan sebesar 66,67%, dan Phoenix Power B.V. sebesar 33,33%.
Melalui penawaran umum perdana saham (IPO), CDIA akan melepas sekitar 10% saham baru kepada publik, sehingga struktur kepemilikan setelah IPO akan mengalami penyesuaian.
Tabel 1.1 Struktur Pemegang Saham CDIA Sebelum dan Sesudah IPO

Sumber: Prospektus CDIA, diolah 23 Juni 2025
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) akan menawarkan sebanyak 12.482.937.500 saham baru, atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran berada di kisaran Rp170–Rp190 per saham, sehingga total dana yang berpotensi dihimpun mencapai sekitar Rp2,12 – 2,37 triliun.
Berikut jadwal lengkap penawaran umum perdana saham CDIA:
Dana hasil IPO akan difokuskan pada pengembangan dua pilar bisnis utama CDIA, yakni logistik dan kepelabuhanan, dengan alokasi sebagai berikut:
Dalam pelaksanaan penawaran umum perdana saham, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) didukung oleh enam penjamin pelaksana emisi efek (underwriter), yaitu Henan Putihrai Sekuritas (HP), DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DP), Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), BNI Sekuritas (NI), BCA Sekuritas (SQ), dan OCBC Sekuritas indonesia (TP).
Secara historis, para underwriter ini memiliki rekam jejak positif dalam mendukung IPO di pasar modal Indonesia. Berikut beberapa contoh performa saham pada hari pertama perdagangan yang diikuti masing-masing underwriter:
Dengan dukungan underwriter yang memiliki rekam jejak kinerja positif, IPO CDIA berpotensi memiliki fondasi yang solid untuk mendapatkan respon positif dari pasar.
CDIA mencatat kinerja operasional yang solid sepanjang 2024, dengan pendapatan sebesar US$102,3 juta, tumbuh 35% yoy dibandingkan periode 11 bulan pertama 2023 (11M23) sebesar US$75,8 juta. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan kapasitas usaha dan optimalisasi lini pendapatan utama.
Laba bersih melonjak 1.633% yoy menjadi US$32,7 juta, dari sebelumnya hanya US$1,9 juta,didorong oleh efisiensi operasional serta peningkatan kontribusi dari unit bisnis.
Total aset per akhir 2024 mencapai US$1,08 miliar (+17% yoy), dengan liabilitas naik 40% menjadi US$328,32 juta, dan ekuitas meningkat 10% yoy menjadi US$747,5 juta (setara US$881–897 juta pasca IPO, dengan rentang harga penawaran Rp170–Rp190 per saham). Struktur permodalan tetap sehat, tercermin dari Debt to Equity Ratio (DER) 2024 sebesar 0,44x dan Debt to Asset Ratio (DAR) sebesar 0,31x.
Dari sisi profitabilitas, Net Profit Margin (NPM) meningkat signifikan dari 29,62% menjadi 312,38%, mencatatkan kenaikan profit signifikan seiring efisiensi dan skala usaha yang membaik. Return on Equity (ROE) tercatat sebesar 4,37%, sementara Return on Assets (ROA) meningkat dari 0,28% menjadi 3,04%, menunjukkan peningkatan pengembalian atas modal dan aset yang dikelola perusahaan.
Tabel 1.2 Kinerja Keuangan CDIA

Sumber : Prospektus CDIA, Data per 23 Juni 2025
11M23 = Periode Maret-Desember 2023
Berdasarkan perbandingan dengan sejumlah emiten sejenis, valuasi CDIA saat ini tergolong undervalued. Price to Book Value (PBV) berada di kisaran 1,52x–1,67, jauh berada di bawah rata-rata industri sebesar 22,25 kali. Sementara itu, estimasi Price to Earnings Ratio (PER) CDIA berada di 40,96x–45,78x, juga lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang mencapai 98,55x.
Tabel 1.3 Valuasi CDIA Vs Industry

Sumber: Prospektus CDIA, data per 23 Juni 2025
CDIA berada dalam posisi strategis untuk mendapatkan peluang pertumbuhan di sektor energi, logistik, penyimpanan energi, dan pengolahan air bersih di Indonesia. Dengan dukungan tren makro yang positif, dan permintaan struktural yang meningkat, CDIA berpotensi menjadi pemain utama dalam agenda pembangunan nasional jangka panjang.
Dengan portofolio usaha yang terdiversifikasi di sektor-sektor strategis, CDIA memiliki prospek jangka panjang yang solid sebagai penyedia infrastruktur utilitas terintegrasi di Indonesia.
Perlu dicermati bahwa investasi di saham IPO memiliki risiko utama seperti ketidakpastian harga pasca pencatatan. Setelah mulai diperdagangkan di pasar sekunder, harga saham dapat mengalami fluktuasi tajam, yang dipengaruhi oleh sentimen pasar serta aksi jual dari investor institusi maupun ritel. Dalam beberapa kasus, harga saham IPO bahkan dapat terkoreksi ke bawah harga penawaran awal, dan pada kondisi tertentu, bisa masuk ke papan pemantauan khusus. Oleh karena itu, saham IPO umumnya lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko agresif dan pemahaman yang memadai terhadap dinamika pasar.
Bagi investor Makmur yang menghindari volatilitas tinggi, reksa dana dapat menjadi pilihan investasi yang cenderung lebih stabil. Dana Anda akan dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi (MI), yang menentukan alokasi aset dalam portofolio—baik saham, obligasi, maupun instrumen pasar uang, sesuai jenis reksa dana yang dipilih. Pemilihan aset dilakukan berdasarkan analisis mendalam serta pertimbangan kondisi makroekonomi, guna memastikan pengelolaan investasi yang optimal.
Itulah pembahasan mengenai prospek dan fundamental PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menjelang penawaran umum perdananya. Bagi Investor Makmur yang mengutamakan stabilitas dan diversifikasi, reksa dana dapat menjadi alternatif investasi yang dapat dipertimbangkan.
Di Makmur, Anda juga dapat memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat memilih dan membeli reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Invest dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]
Key Takeaways: Seorang investor perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara menilai kinerja sebuah saham. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menilai kinerja saham adalah Excess Returns Model (ERM). Model ini membantu investor mengukur kinerja saham dengan membandingkan actual return dengan expected return berdasarkan risiko pasar. Mari kita bahas lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan […]
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]