Pada 22 Januari 2025, pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan efisiensi anggaran yang diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Berdasarkan data dari Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kementerian Pekerjaan Umum, tercatat efisiensi belanja mencapai Rp256,1 triliun untuk Kementerian/Lembaga (K/L) dan Rp50,6 triliun untuk Transfer ke Daerah (TKD).
Efisiensi anggaran tersebut juga menekankan pada pergeseran belanja ke arah yang produktif. Pemerintah ingin memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mampu memberikan efek multiplier bagi perekonomian sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Kondisi ini bisa saja membuat investor harus menyesuaikan strategi, mengingat pola belanja pemerintah berpengaruh besar pada arah ekonomi nasional.
Di bawah ini merupakan beberapa fokus pemerintah dalam anggaran tahun 2025, di antaranya:
Pemerintah menekankan pentingnya efisiensi belanja negara melalui penghematan. Subsidi dan program perlindungan sosial akan diarahkan agar lebih tepat sasaran dan berkeadilan, sehingga APBN dapat terkontrol penggunaannya untuk konsumsi jangka pendek, melainkan mampu menjaga daya beli masyarakat yang benar-benar membutuhkan sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal.
Hasil efisiensi belanja akan dialihkan untuk mendukung sektor-sektor produktif yang mendorong pertumbuhan jangka panjang. Prioritas terbesar tetap pada pendidikan dan kesehatan, termasuk pembiayaan pendidikan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta program perumahan rakyat. Selain itu, pembangunan infrastruktur serta pemberdayaan ekonomi lokal juga menjadi prioritas untuk memperkuat daya saing nasional dan memperluas lapangan kerja.
Transformasi digital menjadi bagian utama dalam reformasi birokrasi. Pemerintah meluncurkan katalog elektronik versi 6.0, yang mulai 1 Januari 2025 diwajibkan dalam seluruh transaksi pengadaan barang dan jasa, guna meningkatkan transparansi serta efisiensi anggaran. Sejalan dengan itu, inisiatif Satu Data Indonesia (SDI) memperkuat integrasi data lintas sektor sehingga kebijakan berbasis data dapat diambil secara lebih akurat. Langkah ini diharapkan memangkas biaya administrasi, meningkatkan kualitas layanan publik, serta mempercepat reformasi tata kelola pemerintahan.
Efisiensi anggaran juga diharapkan memperkuat kemampuan negara dalam mendukung agenda pembangunan jangka panjang. Seluruh arah kebijakan ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, termasuk melalui penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan seperti green bonds, yakni obligasi yang digunakan untuk membiayai proyek ramah lingkungan dan SDGs bonds. Dengan demikian, APBN 2025 bisa menjadi sarana untuk mempercepat pencapaian target pembangunan yang inklusif dan tepat sasaran.
Melihat arah kebijakan efisiensi anggaran 2025, Anda perlu menyesuaikan strategi investasinya agar sejalan dengan fokus belanja pemerintah dan potensi pertumbuhan ekonomi nasional. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda jadikan catatan:
Diversifikasi portofolio ke beberapa instrumen investasi bisa menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil. Pendekatan ini membantu mengurangi dampak fluktuasi pada satu aset tertentu sekaligus membuka kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari sektor atau instrumen lain yang sedang tumbuh. Strategi diversifikasi yang tepat bisa membuat portofolio investasi akan lebih resilien terhadap risiko dari perubahan ekonomi dan tetap berpotensi memberikan hasil optimal dalam jangka panjang.
Pada kondisi efisiensi anggaran, pemerintah tetap berupaya menjaga kredibilitas fiskal dengan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai sumber pembiayaan. Bagi investor, SBN bisa menjadi instrumen menarik karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan tingkat risiko relatif rendah, mengingat SBN dijamin oleh negara. Selain itu, investasi pada SBN juga mendukung pembiayaan pembangunan nasional, sehingga bisa ikut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Investasi pada perusahaan dengan fundamental kuat menjadi salah satu strategi ketika pemerintah menerapkan efisiensi anggaran. Kebijakan pengendalian subsidi bisa mempengaruhi kinerja beberapa sektor yang sebelumnya bergantung pada dukungan fiskal, sehingga seleksi emiten menjadi lebih krusial.
Dalam kondisi ini, investor sebaiknya fokus pada perusahaan yang memiliki neraca keuangan sehat, manajemen efisien, arus kas stabil, serta model bisnis yang mampu bertahan di tengah perubahan kebijakan. Selain itu, emiten dengan valuasi yang menarik juga bisa jadi pilihan agar potensi keuntungan jangka panjang tetap optimal.
Sejalan dengan agenda SDGs 2030, tren investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) akan semakin relevan. Anda dapat mempertimbangkan emiten yang mengedepankan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, serta dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Contohnya, meliputi emiten di sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah dan daur ulang, hingga korporasi yang terbukti konsisten dalam menjalankan tata kelola yang baik.
Sebagai catatan tambahan juga, walaupun efisiensi dilakukan, daya beli masyarakat berpotensi akan dijaga melalui program bantuan produktif. Hal ini memberi peluang bagi sektor konsumsi dan ritel. Saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi yang menarik di sektor ini dapat Anda pertimbangkan.
Efisiensi anggaran 2025 menjadi momentum penting dalam arah pembangunan Indonesia. Pemerintah tidak hanya melakukan pemangkasan, tetapi mengalihkan belanja ke pos produktif untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan pencapaian SDGs 2030. Bagi investor, ini adalah sinyal untuk lebih cermat memilih instrumen investasi yang selaras dengan arah kebijakan pemerintah.
Reksa dana bisa menjadi pilihan yang menarik untuk Anda pertimbangkan. Melalui reksa dana, Anda tidak perlu repot memilih satu per satu instrumen investasi, karena dana yang Anda investasikan akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional. Anda hanya menentukan prioritas sesuai tujuan dan profil risiko, dengan memilih jenis reksa dana yang tepat, baik itu reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, maupun reksa dana pasar uang.
Selain itu, pengelolaan reksa dana dilakukan secara transparan. Anda bisa memantau perkembangan nilai investasi melalui laporan rutin. Anda bisa berinvestasi melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Smart September, promo Semua Bisa Makmur dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) milik negara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengkonsolidasikan aset BUMN secara strategis dan mengelola kekayaan negara secara terpusat. Lembaga ini bertujuan menjadi sovereign wealth fund (SWF) untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. SWF merupakan lembaga investasi khusus yang […]
Key Takeaways: Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat. Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut […]
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]
Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek. Mari kita ulas lebih […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]