makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Rupiah Melemah dan Tembus Rp 16.000 per Dolar, Ini Sektor yang Diuntungkan dan Dirugikan

author
Content Management
author
17 Desember 2024
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Hai, Sobat Makmur! Menjelang akhir tahun 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah. Seperti dua sisi mata uang, pelemahan nilai tukar rupiah membawa dampak negatif dan positif terhadap sejumlah sektor. Dalam artikel kali ini, Makmur akan membahas mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan saham sektor mana saja yang terimbas dampak pelemahan rupiah. Ini dia penjelasannya!

Kenapa Nilai Rupiah Cenderung Melemah?

Sebelum masuk ke pembahasan inti, ada baiknya kamu mengetahui terlebih dahulu faktor yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. Ada sejumlah faktor yang melemahkan nilai tukar rupiah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari dalam negeri, pasar cenderung wait and see menanti keputusan kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Mayoritas konsensus memperkirakan BI akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada hasil rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini. Data ekonomi yang rilis pada bulan ini juga mengecewakan, salah satunya data penjualan ritel (retail sales). Bank Indonesia (BI) mencatat proyeksi pertumbuhan penjualan eceran pada November 2024 sebesar 1,7% secara year-on-year (YOY), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober yang mencapai 1,5% YOY. Namun, angka penjualan eceran di November masih lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada Juli dan Agustus 2024 yang masing-masing mencapai 4,5% dan 5,8%. Data ini menunjukkan kondisi perekonomian yang sepenuhnya masih belum pulih. Sebab, data retail sales digunakan sebagai indikator pergerakan dan kecenderungan konsumsi masyarakat dari sisi penjualan sebagai salah satu indikator dini perkembangan perekonomian.

Sementara dari eksternal, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed juga akan mengumumkan suku bunga acuan pada pekan ini. Pasar masih memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis points (bps). Ini mengacu pada data CME FedWatch, dimana peluang fed rate turun 25 bps menjadi 4,25%-4,5% mencapai 98%. Ada juga sentimen dari China, dimana data menunjukkan pertumbuhan ekspor dan impor Negeri Panda tersebut lebih rendah dari harapan, dan deflasi China bulan November yang lebih besar dari perkiraan. Hal ini meningkatkan kekhawatiran ekonomi China yang masih lemah.

Rupiah Melemah, Sektor Apa yang Dirugikan?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar dapat berdampak negatif pada beberapa sektor saham, terutama emiten yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam denominasi valuta asing. Berikut sejumlah sektor yang terkena dampak negatif pelemahan nilai tukar rupiah.

1. Sektor Barang Konsumsi Non Siklikal (Non Cyclical)
Perusahaan di sektor ini memproduksi barang konsumsi primer seperti makanan dan minuman. Sektor barang konsumsi primer menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pelemahan nilai tukar rupiah. Sebab, sebagian besar bahan baku barang konsumsi seperti gandum, gula, dan susu masih didatangkan dari pasar impor. Sementara itu, pelemahan rupiah bisa meningkatkan biaya impor, yang menekan margin keuntungan emiten. Untuk menyiasati kenaikan biaya atau harga bahan baku impor, perusahaan biasanya akan melakukan kenaikan harga produk. Nah, kenaikan harga produk ini bisa diteruskan ke konsumen. Jika ini terjadi, maka kenaikan harga barang akan menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, jika perusahaan tidak menaikkan harga jual, margin laba menjadi semakin tergerus dan akan mengganggu profitabilitas. Kondisi ini membuat saham sektor konsumsi cenderung tertekan selama rupiah melemah.

Beberapa saham yang berpotensi tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah diantaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD). 

2. Sektor Elektronik dan Otomotif
Sektor elektronik juga terkena dampak negatif pelemahan nilai tukar rupiah. Seperti yang Sobat Makmur ketahui, sebagian besar komponen yang digunakan oleh perusahaan elektronik dan otomotif masih didatangkan dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya impor komponen elektronik dan otomotif bisa meningkat signifikan. Hal ini menyebabkan kenaikan biaya produksi yang tidak selalu bisa diteruskan kepada konsumen, mengingat daya beli masyarakat bisa menurun akibat inflasi yang sering menyertai pelemahan rupiah. Dengan demikian, margin keuntungan perusahaan elektronik dapat tergerus, terutama untuk produk yang bersaing ketat di pasar domestic seperti produk gadget seperti gawai dan laptop maupun produk otomotif seperti mobil dan motor. Saham yang berpotensi dirugikan dari kondisi ini diantaranya PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang bergerak di bidang distribusi dan ritel perangkat elektronik dan PT Astra International Tbk (ASII) yang merupakan emiten otomotif.

3. Sektor Farmasi
Sama seperti sektor barang konsumsi, emiten sektor farmasi sangat tergantung terhadap impor bahan baku. Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan harga bahan baku, yang dapat meningkatkan biaya produksi. Kondisi ini bisa menyebabkan margin laba emiten dapat menyusut jika emiten tidak menaikkan harga jual. Di sisi lain, perusahaan farmasi sulit menaikkan harga obat karena adanya regulasi pemerintah. Saham-saham seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), PT Phapros Tbk (PEHA), dan PT Tempo Scan Pacific Tbk berpotensi tertekan akibat depresiasi rupiah.

Sektor yang Diuntungkan

Tak selamanya merugikan, pelemahan nilai tukar rupiah justru membawa angin segar bagi sejumlah sektor. Berikut sejumlah sektor yang berpotensi diuntungkan dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

1. Sektor Pertambangan Batubara

Indonesia menjadi salah satu negara produsen batubara terbesar di dunia. Selain digunakan untuk keperluan dalam negeri, batubara hasil produksi perusahaan domestik juga diekspor ke sejumlah negara, seperti Filipina, China, India, Vietnam, dan Malaysia. Sektor tambang batubara diuntungkan dari pelemahan rupiah karena sebagian besar hasil produksinya diekspor dan dibayar dalam mata uang dolar AS. Dengan kondisi ini, pendapatan emiten akan meningkat ketika pendapatan dalam dolar AS dikonversi ke rupiah. Di sisi lain, biaya operasional emiten batubara lebih banyak dalam mata rupiah karena sebagian tambangnya beroperasi di dalam negeri. Sejumlah saham seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan diuntungkan dari pelemahan nilai tukar rupiah.

2. Sektor Perkebunan Sawit

Sama seperti sektor batubara, produk kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagian besar diekspor dan dibayar dalam mata uang dolar AS. Pendapatan perusahaan akan meningkat dalam rupiah ketika nilai tukar melemah. Di sisi lain, biaya operasional, seperti tenaga kerja dan jasa pemeliharaan kebun umumnya dibayarkan dalam rupiah, sehingga mendukung margin laba menjadi lebih besar. Saham perusahaan CPO seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) akan diuntungkan dengan kondisi pelemahan rupiah.

3. Sektor Tambang Logam dan Mineral

Hasil tambang logam, seperti nikel, emas, perak, dan tembaga banyak diekspor ke luar negeri. Tentu, pelemahan nilai tukar rupiah bisa mendorong pendapatan dalam dolar AS meningkat ketika dikonversi ke mata nilai rupiah. Selain itu, kinerja sektor tambang logam juga disokong kenaikan permintaan global untuk logam, terutama dari industri kendaraan listrik. Perusahaan seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) akan meraup untung ketika rupiah melemah.

Nah Sobat Makmur, itu dia beberapa sektor yang terdampak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah. Sektor-sektor yang bergantung pada impor cenderung mengalami tekanan pada margin keuntungan. Sebaliknya, sektor yang berorientasi ekspor justru diuntungkan. Menyikapi hal ini, kamu perlu mencermati peluang dan risiko yang timbul di setiap sektor untuk mengoptimalkan portofolio. Dengan strategi yang tepat, pelemahan rupiah bisa menjadi momen untuk mengidentifikasi sektor potensial yang sesuai dengan dinamika pasar.

Kamu bisa memilih reksa dana saham yang memiliki alokasi besar di saham yang diuntungkan dari pelemahan rupiah seperti sektor tambang, energi, dan tambang logam. Sejumlah reksa dana saham favorit Nasabah Makmur yang bisa kamu pertimbangakan antara lain Sucorinvest Equity Fund, Sucorinvest Maxi Fund, BNI-AM IDX Sharia Growth Kelas R1, dan TRIM Syariah Saham.

Jika kamu berinvestasi di reksa dana saham, kamu tidak perlu sibuk memantau naik turunnya harga saham setiap saat. Sebab, manajer investasi (MI) akan mengelola dana investasimu secara profesional demi mencapai hasil yang optimal. Kamu hanya perlu memantau perkembangan portofolio investasi di reksa dana saham yang sudah kamu pilih secara berkala. Hal ini berbeda dengan membeli saham secara langsung, dimana kamu perlu memperhatikan pergerakan harga saham di pasar secara aktif untuk memaksimalkan keuntungan.

Pastikan kamu berinvestasi di Makmur, yang merupakan platform aplikasi reksa dana berizin resmi sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dana investasi kamu dijamin tetap tersimpan aman di bank kustodian.

Di Makmur, investor bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo December Wealth, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.


Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.

Link: Promo-Promo di Makmur

Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:

Website: Makmur.id


Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Saham Bonus vs Dividen, Mana yang Lebih Memperbesar Portofolio Investor?

Key Takeaways: Bagi investor saham, terdapat berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, di antaranya melalui pembagian dividen dan saham bonus. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada pemegang saham, tetapi mekanisme dan dampaknya terhadap investasi sangat berbeda.  Lalu, mana yang lebih memperbesar portofolio investor, saham bonus atau dividen? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu cara kerja masing-masing aksi […]

author
Content Management
calendar
19 Agustus 2026
Artikel

Strategi Emiten Telekomunikasi, Cara Telkom (TLKM) dalam Menjaga Stabilitas ARPU Melalui Integrasi IndiHome dan Telkomsel

Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]

author
Content Management
calendar
13 Agustus 2026
Artikel

Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal BI, Penguatan Rupiah di Depan Mata?

Key Takeaways: Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut. […]

author
Content Management
calendar
12 Agustus 2026
Artikel

Fenomena Silent Wealth dan Mengapa Strategi Mengelola Exposure Instrumen Investasi Efektif untuk Investor Jangka Panjang

Key Takeaways: Di tengah maraknya tren yang menunjukkan gaya hidup mewah di media sosial, banyak investor dengan kemampuan finansial yang baik justru memilih untuk tidak menampilkan kekayaan secara berlebihan. Tren tersebut dikenal sebagai silent wealth, yaitu konsep yang memandang pertumbuhan aset dan kesehatan finansial tidak diukur dari barang yang dimiliki atau ditunjukkan, melainkan dari aset […]

author
Content Management
calendar
11 Agustus 2026
Artikel

Apakah Insider Ownership Tinggi Menjamin Saham Stabil? Ini Cara Menyusun Strategi Investasinya

Key Takeaways: Struktur kepemilikan saham merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor saat menilai kualitas suatu emiten. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah insider ownership, yaitu porsi saham yang dimiliki secara langsung oleh pihak internal perusahaan, seperti anggota direksi, komisaris, pendiri, atau pihak manajemen tertentu. Besarnya insider ownership perlu dipantau investor publik karena […]

author
Content Management
calendar
10 Agustus 2026
Artikel

Menggali Potensi Saham Prajogo Pangestu dan Cara Menilai Risikonya

Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]

author
Content Management
calendar
06 Agustus 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0