Key Takeaways:
Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) milik negara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengkonsolidasikan aset BUMN secara strategis dan mengelola kekayaan negara secara terpusat. Lembaga ini bertujuan menjadi sovereign wealth fund (SWF) untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
SWF merupakan lembaga investasi khusus yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah untuk menginvestasikan dana publik ke berbagai aset keuangan. Dalam memilih saham, Danantara mempertimbangkan sejumlah kriteria, antara lain fundamental, likuiditas, arus kas, dan valuasi. Kriteria tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam memilih saham untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Sebelum lebih jauh membahas apakah emiten yang diinvestasikan oleh Danantara, penting untuk memahami kriteria yang digunakan Danantara dalam memilih aset investasi, khususnya saham. Informasi mengenai fokus investasi Danantara pada saham blue chip dan kriteria pemilihan saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas yang tinggi pernah diutarakan oleh Pandu Sjahrir, selaku Chief Investment Officer (CIO) Danantara dalam sesi wawancara dan konferensi pers awal Februari 2026.
Di bawah ini merupakan penjelasan kriteria pemilihan saham Danantara:
Dalam konteks pemilihan saham, pendekatan fundamental dapat mencakup pemeriksaan laporan keuangan, profitabilitas, kualitas manajemen, serta prospek industri.
Analisis laporan keuangan adalah dasar untuk menilai kesehatan finansial suatu perusahaan. Dalam analisis fundamental, perusahaan yang dipilih harus memiliki struktur permodalan yang kuat dengan rasio utang yang terkontrol. Hal ini penting untuk memastikan perusahaan dapat memenuhi kewajibannya tanpa menghadapi risiko kebangkrutan.
Selain itu, perusahaan yang memiliki arus kas operasional yang positif akan lebih mampu mendukung kegiatan operasionalnya serta membayar dividen kepada pemegang saham. Sebuah laporan keuangan yang sehat dapat menjadi salah satu indikator kapasitas perusahaan untuk menjaga keberlanjutan operasional dan pertumbuhan bisnis.
Profitabilitas adalah salah satu indikator yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Perusahaan dengan margin laba yang sehat dan arus kas yang stabil memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kinerja baik dalam jangka panjang.
Investor akan memprioritaskan perusahaan yang tidak hanya memiliki pendapatan dan laba yang stabil, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan laba tersebut di masa depan melalui ekspansi atau peningkatan efisiensi operasional. Selain itu, tren pendapatan yang konsisten menjadi indikator kuat bahwa perusahaan memiliki daya saing yang baik di pasar.
Keberhasilan jangka panjang perusahaan tidak terlepas dari kualitas manajemen. Tim manajemen yang kompeten mampu mengarahkan strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar dan menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Selain itu, industri yang tumbuh pesat atau memiliki permintaan stabil cenderung mendukung kinerja perusahaan yang beroperasi di dalamnya. Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki manajemen yang profesional serta berada di industri dengan prospek yang kuat lebih mungkin mencapai kinerja jangka panjang yang menguntungkan.
Likuiditas berkaitan dengan kemudahan membeli dan menjual saham di pasar. Bagi investor institusi seperti Danantara, memilih saham dengan tingkat likuiditas yang tinggi merupakan aspek yang sangat penting. Saham yang memiliki volume perdagangan tinggi cenderung lebih mudah diperdagangkan.
Saham dengan likuiditas yang baik juga mengurangi risiko kesulitan dalam menjual saham saat dibutuhkan dengan harga yang wajar. Pasar yang tidak likuid dapat menyebabkan fluktuasi harga yang tajam, yang berpotensi merugikan investor. Danantara juga berfokus pada saham-saham berlikuiditas tinggi, termasuk saham yang masuk dalam indeks LQ45, untuk mendukung efisiensi transaksi dalam volume besar.
Pendekatan valuasi dalam investasi saham berfokus pada identifikasi saham yang diperdagangkan dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai fundamentalnya. Saham yang dianggap undervalued memiliki harga pasar yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya, yang menandakan potensi kenaikan harga di masa depan ketika pasar mulai mengakui dan menghargai nilai sesungguhnya dari saham tersebut.
Dalam strategi investasinya, Danantara mempertimbangkan saham dengan valuasi yang menarik, terutama ketika harga saham dinilai mencerminkan fundamental dan prospek bisnis perusahaan. Namun, manajemen Danantara menegaskan bahwa mereka tidak akan berinvestasi pada “saham gorengan” atau saham dengan valuasi yang tidak rasional (fantastis). Selain itu, perusahaan yang dipilih untuk diinvestasikan harus mematuhi prinsip Good Corporate Governance yang mengedepankan transparansi dan integritas tinggi.
Sebagai institusi pengelola investasi strategis, Danantara menargetkan penempatan investasi hingga USD14 miliar atau sekitar Rp235 triliun sepanjang tahun 2026 di berbagai instrumen, seperti:
Pada awal 2026, Danantara melalui strategi investasinya mulai aktif membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Danantara berfokus pada saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas memadai, arus kas sehat, dan valuasi yang menarik.
Berdasarkan data kepemilikan saham, Danantara memiliki 53,18% saham di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan 52% saham di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Pada Januari 2026, Danantara menerima dividen interim yang diperkirakan sebesar Rp11,04 triliun dari BBRI. Sementara itu, Danantara menerima dividen interim sekitar Rp4,85 triliun dari BMRI.
Pada 6 Februari 2026, Danantara melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I di 13 lokasi di Indonesia dengan total nilai investasi sekitar US$7 miliar atau sekitar Rp118 triliun.
Proyek ini mencakup sektor pertambangan aluminium, bioetanol, hingga fasilitas peternakan terintegrasi. Proyek ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri, memperkuat kemandirian pangan dan energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara masif.
Langkah Danantara di luar negeri telah dimulai sejak Desember 2025 melalui perjanjian akuisisi Novotel Makkah Thakher City dan sejumlah aset pengembangan di kawasan Thakher City, Makkah, Arab Saudi. Akuisisi tersebut mencakup hotel dengan 1.461 kamar serta 14 bidang tanah untuk pengembangan di masa mendatang.
Pada Februari 2026, Danantara melalui Danantara Investment Management juga menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Rua Al Madinah Holding, perusahaan di bawah Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi. Kerja sama tersebut ditujukan untuk menjajaki peluang investasi dalam pengembangan proyek Rua Al Madinah dan Dar Al Hijrah, sekaligus memperkuat ekosistem layanan bagi jemaah Haji dan Umrah Indonesia.
Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan cakupan mandat Danantara yang mencakup pengelolaan portofolio BUMN, investasi di sektor strategis, serta pengembangan kemitraan dan aset di luar negeri. Meskipun Danantara berfokus pada investasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang melalui sektor strategis, penting bagi investor untuk memahami kompleksitas analisis dan manajemen risiko dalam pengelolaan dana negara.
Hal ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan yang hati-hati dan disiplin dalam manajemen risiko merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan investasi jangka panjang. Apabila Anda saat ini belum memiliki waktu, pengetahuan, atau pengalaman yang cukup untuk membuat keputusan investasi saham yang optimal, Anda dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di reksa dana saham.
Melalui reksa dana saham, dana Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) yang berpengalaman dalam memilih saham potensial dalam jangka panjang. Salah satu contoh reksa dana saham di Makmur yang memiliki eksposur pada saham dengan fundamental yang baik adalah Sucorinvest Maxi Fund. Hal itu terefleksi dari kinerjanya dalam beberapa periode secara historis. Berdasarkan data per 21 September 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 37,14% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti Road to Makmur.
Tautan: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui tautan di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik tautan di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik tautan di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat. Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut […]
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]
Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek. Mari kita ulas lebih […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]