makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

PPN Naik Jadi 12% Tahun Depan, Begini Dampaknya ke Perekonomian dan Pasar Modal

author
Content Management
author
03 Desember 2024
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Hai, Sobat Makmur! Kalian pasti sudah mendengar wacana pemerintah untuk menaikkan pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% tahun depan. Kenaikan tarif PPN dapat memberikan berbagai dampak terhadap pola konsumsi masyarakat. Dalam artikel kali ini, Makmur akan mengajak kalian untuk memahami dampak kenaikan PPN terhadap perekonomian hingga pasar modal. Pastinya artikel ini akan berguna bagi Sobat Makmur dalam berinvestasi. Yuk, disimak!

Kenapa PPN Bisa Naik?

Sebelum masuk ke pembahasan inti, ada baiknya Sobat Makmur memahami konsep dari PPN. PPN merupakan jenis pajak yang dibebankan kepada pembeli atas setiap pembelian barang dan/atau jasa. Dasar hukum pungutan PPN diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.

Saat ini, PPN yang masih diberlakukan di Indonesia adalah sebesar 11% yang berlaku sejak 1 April 2022. Namun, pemerintah berencana menaikkan pungutan PPN menjadi 12% tahun depan. Ada beberapa alasan di balik kenaikan PPN tahun depan menurut Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian. Pertama, kenaikan PPN dilakukan untuk meningkatkan pendapatan negara, dimana PPN memiliki peran vital dalam mendanai berbagai program pemerintah. Kedua, kenaikan PPN bertujuan mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri, dimana saat ini Indonesia masih bergantung pada utang untuk menutupi defisit anggaran. Ketiga, menyesuaikan dengan standar internasional. Saat ini tarif PPN Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara maju lainnya seperti Prancis (20%), Denmark (25%), Jerman (19%), dan Inggris (20%).

Bagaimana Dampak Dari Kenaikan PPN?

Meski tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara maju, tarif PPN Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi diantara negara di Asia Tenggara. Jika PPN tahun depan resmi naik 12%, PPN di Indonesia akan sama tingginya dengan Filipina yang telah terlebih dahulu menerapkan PPN 12%.

Grafik Perbandingan Tarif PPN, Pajak Barang, dan Layanan Kelompok Antar Negara Asia Tenggara (2023-2024)

Sumber : PricewaterhouseCoopers (PwC), diolah

Berikut merupakan sejumlah dampak apabila pemerintah menaikkan PPN menjadi 12% tahun depan.

1. Naiknya Inflasi Akibat Naiknya Harga Barang dan Jasa

Kenaikan PPN berpotensi mendorong kenaikan inflasi. Sebab, meski hanya 1%, dampak naiknya PPN akan merambat hampir ke semua harga produk dan beberapa aktivitas jasa. Kenaikan pajak di tingkat produsen biasanya diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga. Hal ini mendorong timbulnya inflasi biaya (cost-push inflation) akibat peningkatan biaya produksi dan distribusi. Dalam jangka pendek, kenaikan PPN dapat menciptakan tekanan harga yang signifikan. Namun, dalam jangka panjang, dampak kenaikan PPN dapat diredam jika pemerintah memberikan insentif kepada produsen atau memberikan subsidi kepada kelompok masyarakat rentan.

2. Turunnya Daya Beli dan Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Naiknya harga barang dan jasa akibat kenaikan PPN dapat menurunkan daya beli Masyarakat sehingga mengakibatkan tingkat konsumsi rumah tangga melemah. Masyarakat akan lebih selektif dalam pengeluaran karena merasa ada penambahan beban pajak yang harus dibayarkan sehingga menurunkan pola konsumsi, terlebih untuk barang jenis non primer. Jika penurunan daya beli terus meluas, maka bisa menyebabkan terjadinya efek berantai, mulai dari menurunnya pendapatan usaha perusahaan hingga pelemahan aktivitas ekonomi secara umum.

3. Berpotensi Meningkatkan Angka Pengangguran

Kenaikan tarif PPN berpotensi dapat meningkatkan angka pengangguran. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya beban biaya produksi dan konsumsi, yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Ketika daya beli melemah, tingkat utilisasi dan penjualan produk juga ikut turun, sehingga mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Penurunan kinerja tersebut dapat menyebabkan pengurangan penyerapan tenaga kerja, yang pada akhirnya berkontribusi pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Apakah Kenaikan PPN Berdampak ke Pasar Modal?

Kenaikan PPN juga dapat berdampak terhadap pasar modal, meskipun dampaknya bersifat tidak langsung. Kenaikan PPN dapat mempengaruhi konsumsi masyarakat karena harga barang dan jasa meningkat, sehingga daya beli menurun. Jika penurunan daya beli ini signifikan, perusahaan (emiten) yang bergantung pada konsumsi domestik berpotensi mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih. Jika laba emiten menurun, bisa saja harga sahamnya mengalami tekanan. Kondisi ini terjadi karena investor berasumsi emiten tersebut memberi potensi keuntungan (profitabilitas) yang lebih rendah sehingga terjadi aksi jual yang kemudian menekan saham suatu perusahaan.

Untuk instrumen reksa dana, dampak kenaikan PPN terhadap reksa dana akan bergantung pada jenis reksa dana yang kamu miliki. Misalnya untuk reksa dana saham, dimana reksa dana jenis ini dapat terdampak secara langsung jika portofolionya berfokus pada sektor-sektor yang sensitif terhadap konsumsi seperti barang konsumsi (consumer), ritel, hingga sektor jasa. Akan tetapi, Manajer Investasi (MI) akan berusaha untuk memitigasi risiko ini dengan melakukan rebalancing atau penyesuaian yakni mengalihkan alokasi ke sektor-sektor yang lebih tahan terhadap penurunan konsumsi. Sementara itu, reksa dana lain seperti reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap kemungkinan kurang terpengaruh langsung oleh kebijakan ini.

Nah, Sobat Makmur, itu dia beberapa dampak dari kenaikan PPN terhadap perekonomian dan juga pasar modal. Dari artikel tersebut kamu bisa memilih instrumen reksa dana yang cenderung aman dari dampak kenaikan PPN.

Dengan berinvestasi di reksa dana, danamu akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI) secara profesional. MI bertanggung jawab memilih aset yang akan dimasukkan ke dalam portofolio reksa dana, seperti saham, obligasi, atau instrumen pasar uang, sesuai dengan jenis reksa dana yang kamu pilih. Proses pemilihan aset ini dilakukan dengan analisis mendalam dan mempertimbangkan berbagai faktor makroekonomi guna memastikan pengelolaan investasi berjalan secara optimal.

Di Makmur, kamu bisa juga memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo December Wealth, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.


Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.

Link: Promo-Promo di Makmur

Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:

Website: Makmur.id


Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Realisasi Investasi Danantara di Tahun 2026, Saham, Proyek Hilirisasi, dan Aset Luar Negeri

Key Takeaways: Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) milik negara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengkonsolidasikan aset BUMN secara strategis dan mengelola kekayaan negara secara terpusat. Lembaga ini bertujuan menjadi sovereign wealth fund (SWF) untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. SWF merupakan lembaga investasi khusus yang […]

author
Content Management
calendar
22 September 2026
Artikel

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%–4,00%, Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?

Key Takeaways: Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat.  Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut […]

author
Content Management
calendar
18 September 2026
Artikel

Menilai Penggunaan Dana Hasil Right Issue, Apa yang Harus Diperhatikan Investor Sebelum Menebusnya?

Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]

author
Content Management
calendar
17 September 2026
Artikel

Mengapa Investor Wajib Menghitung Risiko Negative Real Return? Ini Alasannya

Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]

author
Content Management
calendar
16 September 2026
Artikel

Tertarik Investasi Saham Ala Lo Kheng Hong? Ini Cara Memilih Perusahaan yang Fundamentalnya Kuat

Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek.  Mari kita ulas lebih […]

author
Content Management
calendar
15 September 2026
Artikel

Belanja Pemerintah dan Investasi: Seberapa Besar Keterkaitannya?

Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]

author
Content Management
calendar
10 September 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0