






Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar?
WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal yang ditanggung perusahaan untuk mendanai asetnya, baik melalui utang maupun ekuitas. Secara umum, WACC dihitung dengan rumus berikut:
| WACC = (E/V × Re) + (D/V) × Rd × (1 – T) |
WACC rendah sering dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan mampu mendapatkan pendanaan dengan biaya yang relatif murah. Ini memberikan beberapa keunggulan:
WACC yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan dapat memperoleh dana dengan biaya yang lebih terjangkau, baik itu dari utang maupun ekuitas. Biaya modal yang lebih rendah memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke dalam ekspansi atau operasional, tanpa terbebani dengan beban biaya yang tinggi. Hal ini memberi perusahaan peluang lebih besar untuk menjalankan proyek yang berpotensi menghasilkan laba lebih tinggi daripada biaya modal, sehingga meningkatkan laba bersih dan kinerja keuangan.
Hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan agar suatu investasi proyek dianggap layak. Jika WACC lebih rendah, maka hurdle rate yang digunakan emiten untuk menilai kelayakan proyek investasi juga akan lebih rendah, berarti perusahaan bisa mempertimbangkan proyek-proyek yang mungkin tidak memberikan pengembalian yang sangat tinggi, tetapi tetap cukup menguntungkan.
Semakin rendah WACC, semakin tinggi Net Present Value (NPV) dari arus kas masa depan perusahaan. NPV adalah metrik keuangan yang menghitung nilai semua arus kas masa depan dari suatu proyek perusahaan, yang didiskontokan kembali ke nilai saat ini. Semakin tinggi NPV, semakin banyak nilai yang dihasilkan perusahaan dari investasinya, yang membuatnya lebih bernilai di mata pasar.
Dengan WACC yang rendah, perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak nilai dari modal yang digunakan, yang meningkatkan NPV dan berdampak positif terhadap valuasi saham perusahaan. Hal ini meningkatkan daya tarik perusahaan bagi investor dan berpotensi meningkatkan harga saham.
Perusahaan dengan biaya modal rendah menunjukkan bahwa mereka memiliki struktur keuangan yang efisien dan stabil. Hal ini membuat investor dan kreditur lebih percaya bahwa perusahaan mampu mengelola pendanaan dengan baik, sehingga lebih mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan eksternal. Akses terhadap pendanaan menjadi lebih mudah dan murah, yang memungkinkan perusahaan untuk terus berkembang dan memperluas operasional tanpa harus menghadapi kendala pendanaan yang berat.
Namun, penting untuk diingat bahwa WACC yang terlalu rendah bisa menjadi ilusi efisiensi, terutama bila didorong oleh penggunaan utang yang berlebihan. Sebagai contoh, mari kita telaah perhitungan WACC PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berdasarkan laporan keuangan 2023.
Perlu dicatat bahwa saham WSKT saat ini berada dalam status suspensi pada harga Rp202, namun angka tersebut tetap digunakan sebagai acuan nilai pasar ekuitas.
| WACC = (5,82/87,02) × 24,08 + (81,20/87,02) × 5,42 × (1 – 22) |
Hasil perhitungan WACC berdasarkan data WSKT adalah 5,55%, meskipun angka WACC terlihat sangat rendah (murah), ini adalah contoh yang cukup berisiko bagi investor. Rendahnya WACC disebabkan oleh porsi utang yang mencapai 93,31%, karena utang lebih murah daripada ekuitas, maka secara matematis WACC akan ikut turun.
Di bawah ini merupakan alasan mengapa WACC yang rendah tidak selalu menguntungkan investor, karena:
Leverage tinggi memang dapat menurunkan WACC melalui manfaat pajak yang diperoleh dari pengurangan bunga utang. Namun, jika perusahaan terlalu banyak bergantung pada utang, risikonya meningkat. Ketika pendapatan operasi perusahaan tidak cukup untuk menutupi beban bunga, maka perusahaan menghadapi risiko kebangkrutan. Bagi pemegang saham, ini bisa berarti potensi kerugian besar karena utang yang belum terbayar atau bahkan pembubaran perusahaan.
Perusahaan yang sudah memasuki tahap matang atau stabil biasanya memiliki WACC yang rendah, karena tingkat risiko bisnis yang lebih rendah dan stabilitas yang lebih baik. Namun, WACC rendah ini juga bisa menjadi tanda bahwa perusahaan sudah tidak lagi memiliki peluang ekspansi yang agresif atau potensi pertumbuhan yang signifikan. Bagi investor yang mencari perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi, WACC rendah bisa mengindikasikan stagnasi atau kurangnya inovasi, yang dapat mengurangi daya tarik perusahaan dalam jangka panjang.
Selain itu, WACC perlu dianalisis secara industri. Misalnya, industri utilitas cenderung memiliki WACC yang rendah karena pendapatan yang stabil dan risiko yang lebih kecil. Namun, untuk industri yang lebih dinamis seperti teknologi, WACC yang terlalu rendah bisa menjadi indikator kurangnya inovasi atau kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar.
WACC memang merupakan salah satu tools dalam mengevaluasi efisiensi dan kesehatan finansial perusahaan. Namun, investor tidak boleh terjebak pada angka nominal yang rendah tanpa memahami konteksnya. WACC rendah bisa berarti efisiensi, tapi juga bisa menyembunyikan risiko besar, terutama jika disebabkan oleh utang yang terlampau besar.
Investor perlu membandingkan WACC dengan Return on Invested Capital (ROIC) untuk menilai apakah perusahaan benar-benar menciptakan nilai. ROIC adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan laba. ROIC dihitung dengan membagi laba bersih setelah pajak dengan total modal yang diinvestasikan dalam bisnis, yang meliputi ekuitas dan utang.
Semakin tinggi ROIC dibandingkan dengan WACC, semakin efektif perusahaan dalam menghasilkan nilai yang lebih besar daripada biaya modalnya. ROIC yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk pendanaan (baik utang maupun ekuitas). Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya menutupi biaya modalnya, tetapi juga menghasilkan keuntungan yang signifikan.
Bila Anda tidak memiliki pengalaman atau waktu yang cukup untuk menganalisis WACC suatu saham secara mendalam, berinvestasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang lebih efektif. Manajer investasi (MI) pada reksa dana saham akan melakukan analisis fundamental dan mengukur WACC emiten yang ada dalam portofolio.
Di Makmur, terdapat berbagai pilihan reksa dana saham yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi Anda. Salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G, yang telah menunjukkan performa mengesankan. Berdasarkan data per 3 Juni 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 35,96% dalam 3 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan InfoVesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan […]
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]
Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]
Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]
Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]