






Hai, Sobat Makmur! Negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali menjadi sorotan pasar global. Kali ini, pertemuan lanjutan digelar di London sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang meningkat sejak awal tahun. Tak hanya menjadi momen penting dalam hubungan kedua negara, perundingan ini juga berpotensi mempengaruhi pasar keuangan global. Dalam artikel ini, Makmur akan mengulas poin-poin utama apa saja yang akan dibahas dalam perundingan, dampaknya terhadap ekonomi global, serta strategi investasi yang dapat Sobat Makmur pertimbangkan di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlangsung. Yuk, disimak!
Pertemuan negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok kembali digelar di Lancaster House, London, dan berlanjut ke hari kedua. Ini merupakan lanjutan dari upaya meredakan ketegangan dagang yang sebelumnya sempat mereda usai tercapainya kesepakatan sementara di Jenewa.
Agenda utama mencakup tarif perdagangan, kontrol ekspor, serta akses terhadap ekspor logam tanah jarang (rare earths) dan komoditas strategis lainnya. Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa pembicaraan berlangsung positif, meski belum ada pernyataan resmi terkait hasil akhirnya. Di sisi lain, kehadiran pejabat tinggi seperti Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng menegaskan keseriusan kedua negara dalam mencari titik temu kesepakatan.
Rare earths menjadi sorotan utama dalam perundingan kali ini. Saat ini, Tiongkok masih mendominasi rantai pasok global rare earths (komponen penting bagi industri kendaraan listrik, pertahanan, dan semikonduktor).
AS mendesak Tiongkok untuk kembali membuka keran ekspor rare earths yang sempat dihentikan sejak April lalu. Presiden Trump menyatakan bahwa Presiden Xi telah menyetujui pengiriman kembali rare earths dalam percakapan telepon pekan lalu. Mengutip laporan Bloomberg, izin ekspor sementara telah diberikan kepada beberapa pemasok Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan tiga produsen mobil terbesar AS. Namun, pencabutan penuh pembatasan ekspor masih belum pasti, mengingat AS tetap berhati-hati membuka akses terhadap teknologi strategis.
Sementara itu, dampak dari ketegangan dagang ini mulai terasa pada ekonomi global. Ekspor Tiongkok ke AS anjlok 34,5% year-on-year (yoy) pada Mei 2025, penurunan terdalam sejak pandemi. Di sisi lain, AS mencatat pelemahan sentimen bisnis dan rumah tangga, serta kontraksi PDB kuartal I akibat lonjakan impor menjelang kenaikan tarif.
Jika negosiasi gagal mencapai titik temu, gangguan rantai pasok global diperkirakan berlanjut, membebani pemulihan ekonomi dunia. Sektor-sektor strategis seperti otomotif, teknologi, dan pertahanan akan menjadi yang paling terdampak karena sangat bergantung pada pasokan rare earths.
Di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung, pelaku pasar global menunjukkan kecenderungan bersikap risk-off. Indeks utama seperti S&P 500 pada perdagangan 9 Juni ditutup flat, dengan menguat tipis 0,09%.
Sementara itu, indeks di kawasan Asia pada perdagangan 10 Juni bergerak variatif. Shanghai Index (Tiongkok) ditutup melemah 0,44%, sedangkan IHSG menguat sebesar 1,65% setelah libur panjang dan koreksi sebelumnya, menunjukkan adanya technical rebound.
Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang masih menanti kejelasan arah kebijakan dari hasil perundingan. Di sisi lain, harga emas global menguat 0.20% pada perdagangan hari ini (10/6), mengindikasikan peningkatan minat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar.
Dalam kondisi pasar yang belum stabil, Sobat Makmur perlu memiliki strategi investasi yang cermat agar portofolio kamu tetap optimal. Salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan adalah diversifikasi. Diversifikasi dapat dilakukan dengan mengalokasikan dana ke beberapa jenis reksa dana. Reksa dana dinilai cocok di tengah ketidakpastian karena dikelola oleh Manajer Investasi (MI) profesional yang memahami dinamika pasar. Oleh karena itu, kamu tidak perlu repot menganalisis pasar sendiri.
Reksa dana juga menawarkan berbagai pilihan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan. Jika kamu menginginkan investasi yang lebih stabil dalam jangka pendek, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) bisa menjadi pilihan karena resikonya rendah. Namun, jika ingin mendapatkan potensi imbal hasil lebih besar untuk jangka menengah, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) bisa dipertimbangkan.
Kamu juga bisa mempertimbangkan Reksa Dana Campuran. Reksa dana ini menggabungkan instrumen saham, obligasi, dan pasar uang dalam satu produk. Pilihan ini tepat bagi kamu yang ingin melakukan diversifikasi sekaligus mengejar pertumbuhan jangka panjang.
Di Makmur, kamu juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur bisa membeli reksa dana pilihanmu dengan memanfaatkan promo seperti promo June Invest dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]
Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]
Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]
Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]
Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]
Key Takeaways: Sebagai investor, pemahaman terhadap pergerakan saham sangat diperlukan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Salah satu fitur yang dapat membantu investor untuk memprediksi pergerakan saham adalah data broker flow. Broker Flow adalah data yang merangkum aktivitas transaksi (beli dan jual) yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas atau broker dalam periode waktu tertentu. Data […]