makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

BEI Rilis 9 Saham dengan Kepemilikan di Atas 95%, Ini yang Perlu Investor Tahu

author
Content Management
author
09 April 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Implementasi HSC oleh BEI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham.
  • Saham yang masuk kategori HSC umumnya memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan sangat tinggi, yaitu di atas 95%.
  • Proses penilaian HSC dilakukan secara terstruktur oleh KSEI dan BEI dengan mempertimbangkan pengelompokan kepemilikan dari kelompok terafiliasi.

Transparansi menjadi fondasi dalam menjaga kepercayaan investor di pasar modal. Oleh karena itu, regulator di Indonesia melakukan berbagai pembenahan dan langkah strategis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menuntaskan empat agenda penguatan transparansi pasar modal Indonesia. 

Salah satu dari empat agenda penting tersebut adalah implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC). HSC merupakan pengumuman kepada publik terkait data kepemilikan saham atas perusahaan tercatat yang terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham.

Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari proposal yang diajukan kepada global index providers, yaitu Indeks MSCI. Berdasarkan pengumuman resmi BEI yang dirilis pada 2 April 2026, terdapat sembilan emiten yang masuk dalam kategori HSC, di antaranya:

Tabel 1. Saham yang Masuk Kategori HSC

Nama PerusahaanKode SahamKonsentrasi Kepemilikan
PT Rockfields Properti Indonesia TbkROCK99,85%
PT Ifishdeco TbkIFSH99,77%
PT Satria Mega Kencana TbkSOTS98,35%
PT Samator Indo Gas TbkAGII97,75%
PT Barito Renewables Energy TbkBREN97,31%
PT Panca Anugrah Wisesa TbkMGLV95,94%
PT Dian Swastatika Sentosa TbkDSSA95,76%
PT Lima Dua Lima Tiga TbkLUCY95,47%
PT Abadi Lestari Indonesia TbkRLCO95,35%

Sumber: IDX

Melalui informasi di atas, investor mendapatkan informasi tentang kondisi likuiditas dan struktur kepemilikan saham secara lebih mendalam. Status HSC tersebut tidak bersifat permanen, BEI akan melakukan evaluasi secara rutin status HSC suatu emiten.

Kriteria Saham yang Masuk Kategori HSC

Melalui kategori HSC, Anda dapat lebih mudah mengidentifikasi saham yang secara struktur memiliki keterbatasan distribusi kepemilikan, sehingga proses analisis investasi menjadi lebih komprehensif. Di bawah ini alasan mengapa suatu emiten masuk kategori HSC:

1. Batasan tingkat konsentrasi

Penentuan batasan menjadi elemen penting dalam klasifikasi HSC. Saham yang masuk kategori HSC memiliki tingkat kepemilikan oleh kelompok tertentu mencapai sekitar 95% atau lebih dari total saham beredar.

Rentang ini dapat Anda lihat pada daftar sembilan saham tadi, dengan konsentrasi antara 95% hingga hampir 100%. Artinya, hanya sebagian kecil saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan secara aktif di pasar.

Sebagai tambahan informasi, saham BREN memiliki kepemilikan oleh kelompok tertentu sebesar 97,31%. Meskipun free float tercatat sebesar 12,3%, saham yang benar-benar beredar di luar kelompok tersebut hanya sekitar 2,96%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak semua free float mencerminkan likuiditas riil di pasar.

2. Cara BEI dan KSEI menilai HSC

Penilaian terhadap status HSC dilakukan melalui mekanisme yang terstruktur dan berbasis data. Proses ini melibatkan komite bersama antara BEI dan KSEI yang menggunakan metodologi sesuai standar operasional prosedur.

Penilaian didasarkan pada data struktur kepemilikan saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat, pada tanggal acuan tertentu. Dalam daftar yang dirilis pada 2 April 2026, tanggal yang digunakan adalah 31 Maret 2026.

Hal yang menjadi fokus adalah agregasi kepemilikan dari beberapa pihak yang dianggap sebagai satu kelompok. Pendekatan ini penting karena dalam praktiknya, kepemilikan saham memang tersebar, tetapi masih berada dalam kendali entitas yang saling terafiliasi.

Dengan metode ini, regulator dapat menilai apakah suatu saham memiliki tingkat konsentrasi yang berpotensi mengganggu likuiditas pasar dan proses price discovery, yaitu proses pasar untuk mencari dan menentukan harga wajar suatu aset melalui pertemuan antara pembeli dan penjual.

Jadi, bila disimpulkan saham pada kategori HSC dinilai memiliki risiko likuiditas dan fluktuasi harga lebih tinggi. Sebab, bila jumlah saham yang beredar terbatas, aktivitas jual beli kurang likuid. Hal ini dapat menyebabkan spread harga yang lebar serta pergerakan harga yang lebih volatil.

Pasca pengumuman kategori HSC pada 2 April 2026, harga saham BREN dan DSSA tercatat mengalami koreksi. Pada penutupan perdagangan Senin, 6 April 2026, saham BREN melemah sebesar -19,26%, sementara DSSA -9,34%. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap saham dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Selain itu, saham dengan status HSC cenderung tidak memenuhi preferensi masuk indeks global seperti Indeks MSCI jika free float riil belum mencapai batas minimum yang disyaratkan, yaitu 15%. Kondisi ini berpotensi membatasi aliran dana dari investor asing ke saham tersebut.

Namun, penting untuk dipahami bahwa status HSC bukan merupakan sanksi atau indikasi pelanggaran terhadap regulasi free float. Status ini bersifat informatif, dengan tujuan meningkatkan transparansi dan membantu investor dalam menilai risiko.

Langkah yang dilakukan oleh OJK, BEI, dan KSEI dalam merilis daftar saham High Shareholding Concentration (HSC) merupakan bagian dari upaya memperkuat transparansi pasar modal Indonesia. Jika Anda ingin mendapatkan potensi imbal hasil dari saham, namun belum memiliki waktu untuk melakukan analisis struktur kepemilikan dan menilai potensi pertumbuhan perusahaan di masa depan, reksa dana saham dapat menjadi pilihan. 

Ada beragam reksa dana saham di Makmur, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data 7 April 2026, reksa dana tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 69,90% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Makmur merupakan perusahaan Wealth Tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo April Resilience dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Situs web: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Suku Bunga Acuan BI Naik 50 bps di Mei 2026 untuk Menguatkan Mata Uang Rupiah, Apa yang Investor Perlu Lakukan?

Key Takeaways: Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus […]

author
Content Management
calendar
20 Mei 2026
Artikel

ETF dan Reksa Dana Terlihat Sama, Tapi Ini Mekanisme yang Membedakannya

Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]

author
Content Management
calendar
19 Mei 2026
Artikel

Mengapa Capital Inflow Bisa Menjadi Indikator Positif untuk Investasi? Ini Dampaknya untuk Investor Saham

Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]

author
Content Management
calendar
18 Mei 2026
Artikel

Diversifikasi ke Beberapa MI atau Fokus di Satu MI? Ini Strategi yang Tepat untuk Profil Risiko Anda

Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]

author
Content Management
calendar
13 Mei 2026
Artikel

Ingin Mengetahui Expected Return Reksa Dana? Ini Cara Menghitungnya

Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]

author
Content Management
calendar
12 Mei 2026
Artikel

Pemerintah Berencana Naikkan Tarif Royalti Sejumlah Komoditas Mineral, Timah Berpotensi Paling Terdampak

Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]

author
Content Management
calendar
11 Mei 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0