makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Mengandalkan Scalping Method dalam Perdagangan Saham, Ini Risiko yang Perlu Dievaluasi secara Objektif

author
Content Management
author
06 Februari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Scalping method adalah strategi perdagangan saham yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari pergerakan harga dalam jangka pendek.
  • Meskipun menawarkan potensi keuntungan, scalping juga memiliki risiko yang tinggi karena tekanan psikologis dan potensi kerugian yang terakumulasi.
  • Investor perlu melakukan evaluasi objektif untuk menentukan apakah metode scalping sesuai dengan profil risiko.

Ketika membeli saham, terdapat berbagai strategi yang dapat diterapkan oleh investor, mulai dari investasi jangka panjang hingga perdagangan jangka pendek. Salah satu strategi yang cukup populer di kalangan trader aktif adalah scalping method. Meskipun terlihat menarik dengan potensi keuntungan yang cepat, scalping mengandung berbagai risiko yang perlu dipahami dengan baik sebelum diterapkan.

Scalping merupakan strategi perdagangan yang dirancang untuk memperoleh keuntungan kecil dari fluktuasi harga saham dalam periode waktu yang sangat singkat, biasanya hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Seorang scalper dapat melakukan puluhan hingga ratusan transaksi dalam sehari, dengan target keuntungan berkisar antara 0,5% hingga 5% per posisi. Tentunya angka tersebut adalah kisaran, di mana semakin besar modal, umumnya semakin kecil target keuntungan per transaksi.

Cara Kerja Scalping Method

Untuk memahami risiko scalping, Anda perlu memahami terlebih dahulu bagaimana strategi ini bekerja. Berikut adalah cara kerja dari scalping method, di antaranya:

1. Memilih saham yang tepat

Tidak semua saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) cocok untuk diperdagangkan menggunakan metode scalping. Sebagai seorang scalper, penting untuk memilih saham yang aktif diperdagangkan oleh investor. Saham yang memiliki likuiditas tinggi dan volume transaksi yang besar memberikan peluang lebih besar bagi scalper untuk keluar-masuk pasar dengan cepat. Salah satu cara untuk memilih saham yang tepat adalah dengan mengamati daftar saham teraktif berdasarkan jumlah lembar saham (volume) yang ditransaksikan di BEI. 

Gambar 1: Saham Teraktif Berdasarkan Volume Transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Sumber: Makmur App

Sebagai contoh, berdasarkan data per 03 Februari 2026 yang ditampilkan pada gambar di atas, beberapa saham dengan volume transaksi tinggi adalah:

  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
  • PT Sentul City Tbk (BKSL)
  • PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
  • PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)

Selain melihat daftar saham yang aktif diperdagangkan berdasarkan volume, Anda juga bisa melihat dari sisi nilai perdagangan maupun frekuensi transaksi. Informasi tersebut juga bisa diperoleh melalui aplikasi Makmur.

2. Menentukan risk-reward ratio dan memiliki win rate ideal

Salah satu keberhasilan dalam scalping method adalah menentukan risk-reward ratio yang tepat dan memiliki win rate yang ideal. Risk-reward ratio mengukur potensi keuntungan yang diharapkan dibandingkan dengan risiko yang diambil pada setiap transaksi. Sebagai contoh, jika Anda menetapkan rasio risk-reward 1:2, berarti Anda siap mengambil risiko penurunan sebesar 1% untuk berpotensi mendapatkan keuntungan 2% pada setiap transaksi.

Berikut adalah simulasi sederhana untuk menggambarkan bagaimana risk-reward dan win rate berfungsi dalam strategi scalping dengan rasio risk-reward 1:2 dan win rate 40%:

  • Target profit, 2% per transaksi (berdasarkan rasio risk-reward 1:2).
  • Stop loss, 1% per transaksi (berdasarkan rasio risk-reward 1:2).
  • Jumlah transaksi per hari, 10 transaksi.
  • Win rate 40%, artinya Anda memiliki peluang mendapatkan profit pada 4 dari 10 transaksi, sementara 6 transaksi lainnya mengalami kerugian.

Simulasi scalping method:

  • Potensi keuntungan dari 4 transaksi: 4 transaksi x 2% (target profit) = 8% keuntungan.
  • Kerugian dari 6 transaksi yang merugi: 6 transaksi x 1% (kerugian per transaksi) = 6% kerugian.
  • Keuntungan bersih setelah kerugian: keuntungan 8% – Kerugian 6% = 2% keuntungan.

Meskipun win rate hanya 40%, dengan rasio risk-reward yang tepat (1:2), Anda tetap dapat menghasilkan keuntungan bersih 2% per hari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidak semua transaksi menguntungkan, rasio risk-reward yang lebih besar dari kerugian memberikan hasil positif dalam jangka panjang.

Penting untuk dicatat bahwa scalping method bertumpu pada konsistensi dalam penerapan risk-reward yang tepat dan pengelolaan risiko yang disiplin, serta menjaga ketenangan dalam menghadapi kerugian.

3. Mengandalkan analisis teknikal dan hasil backtest

Scalper umumnya mengandalkan analisis teknikal untuk mengidentifikasi peluang entry dan exit dalam perdagangan saham. Analisis teknikal ini berfokus pada penggunaan berbagai indikator dan pola untuk menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual saham. Indikator yang sering digunakan oleh scalper meliputi Volume, Bollinger Bands, dan pola candlestick. Keputusan beli dan jual biasanya diambil berdasarkan sinyal yang muncul dari indikator pada time frame pendek, seperti grafik 15 menit, 30 menit, dan 1 jam. Pada pasar saham Indonesia, biasanya waktu 30 menit pertama perdagangan dan akhir perdagangan akan dibutuhkan untuk melakukan scalping pada saat volatilitas pasar sedang tinggi.

Selain itu, hasil backtest juga menjadi bahan yang sangat berguna karena scalper bisa mengetahui risk-reward ratio dan menghitung win rate, serta menentukan jumlah nominal untuk membeli saham per transaksi. Backtest adalah proses menguji strategi perdagangan menggunakan data historis untuk melihat bagaimana strategi tersebut jika diterapkan di masa lalu. Dengan menggunakan backtest, scalper dapat mengoptimalkan strategi, mengetahui potensi risiko, dan meningkatkan keakuratan sinyal teknikal sebelum menerapkannya pada kondisi pasar yang sesungguhnya.

Secara keseluruhan, mengandalkan analisis teknikal yang didukung dengan hasil backtest yang valid memungkinkan scalper untuk membuat keputusan perdagangan yang lebih terinformasi dan meningkatkan peluang keberhasilan dalam jangka pendek.

4. Persiapan modal yang ideal

Dikarenakan target keuntungan per transaksi dalam scalping method relatif kecil, scalper biasanya membutuhkan modal yang cukup besar untuk setiap posisi dalam memastikan keuntungan nominal yang signifikan. Sebagai contoh, jika seorang scalper menargetkan profit 2% per transaksi, keuntungan yang diperoleh dari posisi sebesar Rp100 juta akan mencapai Rp2 juta. Namun, jika posisi yang digunakan hanya sebesar Rp10 juta, keuntungan 2% hanya akan menghasilkan Rp200 ribu.Oleh karena itu, persiapan modal yang ideal sangat penting untuk memaksimalkan potensi keuntungan dalam scalping method. Dengan menggunakan modal yang lebih besar, scalper dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar pula meskipun target profit per transaksi relatif kecil. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan modal yang terlalu besar juga meningkatkan risiko psikologis, sehingga pengelolaan risiko yang baik dan disiplin dalam menetapkan batasan kerugian per transaksi sangat diperlukan.

Risiko Scalping yang Perlu Dievaluasi

Meskipun scalping method terdengar menarik karena transaksi lebih sering dilakukan, terdapat sejumlah risiko yang perlu Anda evaluasi secara objektif:

1. Biaya Transaksi yang Menggerus Profit

Setiap transaksi jual beli saham di Indonesia dikenakan sejumlah biaya, yang terdiri dari beberapa komponen, termasuk komisi broker, pajak, dan biaya lainnya. Biaya ini perlu diperhitungkan dengan cermat, terutama bagi seorang scalper yang mengandalkan keuntungan kecil per transaksi.

Pada tahun 2026, biaya jual beli saham di Indonesia umumnya berkisar antara 0,35% hingga 0,50%. Rincian komponen biaya tersebut adalah sebagai berikut:

  • Komisi broker (broker fee), biaya jasa untuk perusahaan sekuritas, yang biasanya berkisar antara 0,15% hingga 0,25% untuk transaksi beli dan 0,25% hingga 0,35% untuk transaksi jual. Beberapa sekuritas menawarkan tarif yang lebih rendah mulai dari 0,10%.
  • Levy (biaya transaksi BEI), biaya penggunaan fasilitas bursa sebesar 0,04% dari nilai transaksi.
  • Pajak pertambahan nilai (PPN), dikenakan atas jasa broker dengan tarif 12% dari nilai komisi broker (bukan dari total transaksi).
  • PPh final (hanya untuk jual), sebesar 0,1% dari total nilai penjualan saham.
  • Biaya lainnya, termasuk biaya penyelesaian KSEI (0,003%), biaya kliring KPEI (0,009%), dan dana jaminan KPEI (0,01%).

Sebagai contoh, jika komisi broker untuk beli adalah 0,15% dan untuk jual adalah 0,25%, maka total biaya per round trip (beli dan jual) bisa mencapai sekitar 0,40% dari nilai transaksi. Artinya, jika target profit Anda hanya 1% per transaksi, maka sekitar 40% dari profit tersebut akan tergerus oleh biaya transaksi.

Dengan frekuensi transaksi yang tinggi, biaya-biaya ini dapat terakumulasi menjadi sangat besar. Sebagai ilustrasi, jika seorang scalper melakukan 10 round trip per hari dengan modal Rp100 juta per posisi, maka biaya transaksi harian yang harus dikeluarkan bisa mencapai sekitar Rp4.000.000 atau 4% dari modal Anda. Oleh karena itu, penting bagi seorang scalper untuk memperhitungkan biaya transaksi dalam merancang strategi perdagangan agar dapat menjaga profitabilitas.

2. Tekanan psikologis yang tinggi

Scalping adalah strategi perdagangan yang memerlukan konsentrasi dan pengambilan keputusan yang cepat dalam waktu singkat. Dengan frekuensi transaksi yang sangat tinggi, scalper dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan psikologis. Keputusan untuk membeli atau menjual saham sering kali harus diambil dalam hitungan detik atau menit, yang meningkatkan risiko kesalahan akibat keputusan terburu-buru. Tekanan psikologis ini dapat memicu beberapa perilaku negatif, seperti:

  • Overtrading

Transaksi berlebihan yang dilakukan dalam upaya untuk mengimbangi kerugian atau mengejar keuntungan yang lebih besar. Scalper yang mengalami kerugian dalam beberapa transaksi berturut-turut mungkin merasa perlu untuk melakukan lebih banyak transaksi dengan harapan bisa “memperbaiki” keadaan. Hal ini dapat mengarah pada keputusan yang kurang rasional dan memperbesar risiko kerugian.

  • Revenge trading

Perilaku ini terjadi ketika seorang scalper melakukan transaksi emosional untuk membalas kerugian yang dialami sebelumnya. Misalnya, setelah mengalami kerugian dalam beberapa transaksi, scalper dapat meningkatkan ukuran posisi atau mengambil risiko yang lebih besar, berusaha keras untuk “membalas” kerugian tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar, karena keputusan yang diambil didorong oleh emosi, bukan analisis yang rasional.

Penting bagi seorang scalper untuk memiliki kontrol diri yang kuat, serta kemampuan untuk menjaga emosi dan membuat keputusan yang rasional, meskipun berada dalam tekanan tinggi. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah loss aversion, kecenderungan psikologis untuk lebih merasakan dampak negatif dari kerugian dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperoleh dari keuntungan. Mengelola loss aversion dengan bijak sangat penting, karena perasaan cemas atau takut kehilangan dapat mendorong perilaku impulsif, seperti mengambil risiko yang lebih besar atau melakukan revenge trading.

3. Potensi kerugian yang terakumulasi

Dalam strategi scalping, meskipun kerugian per transaksi bisa relatif kecil, akumulasi kerugian dari banyak transaksi yang merugi dapat mengakibatkan penurunan signifikan pada nilai akun. Oleh karena itu, penting juga memahami dan mengelola maksimum drawdown untuk menjaga modal, terutama ketika menghadapi serangkaian kerugian berturut-turut.

Maksimum drawdown adalah acuan yang mengukur seberapa besar batas penurunan nilai akun dari puncak (peak). Nilai ini menjadi ukuran risiko yang sangat krusial, karena kerugian beruntun bisa menyebabkan penurunan modal yang cukup dalam jika tidak dibatasi.

Contoh simulasi:

  • Win rate: 40% 
  • Modal awal: Rp100 juta
  • Drawdown harian: 5% dari modal
  • Maksimum drawdown dalam 1 bulan: 10% dari modal 
  • Rasio risk-reward: 1:2 (risiko 1% dan potensi keuntungan 2%).

Jika seorang scalper mengalami 5 transaksi kerugian berturut-turut dalam satu hari dengan risiko 1% per transaksi, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

  • Kerugian per transaksi, 1% x Rp100 juta = Rp1 juta.
  • Total kerugian setelah 5 transaksi berturut-turut, 5 x Rp1 juta = Rp5 juta.

Pada kondisi tersebut, kerugian harian yang terjadi mencapai Rp5 juta atau 5% dari modal awal. Artinya, batas drawdown harian telah tercapai, sehingga secara disiplin manajemen risiko, scalper seharusnya menghentikan transaksi pada hari tersebut.

Jika pada hari berikutnya scalper mengalami 5 transaksi kerugian berturut-turut lagi dengan kerugian yang sama (1% per transaksi), maka perhitungannya akan seperti berikut:

  • Kerugian per transaksi, 1% x Rp100 juta = Rp1 juta.
  • Kerugian total setelah 5 transaksi kerugian berturut-turut, 5 x Rp1 juta = Rp5 juta.
  • Total kerugian dalam sebulan, Rp5 juta + Rp5 juta = Rp10 juta.

Dengan demikian, total kerugian telah mencapai 10% dari modal awal, yang merupakan batas maksimum drawdown bulanan. Pada titik ini, scalper perlu menghentikan aktivitas perdagangan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi yang digunakan, guna mencegah penurunan modal yang lebih dalam.

Meskipun scalper mungkin masih memiliki peluang untuk melanjutkan perdagangan dengan transaksi yang menguntungkan pada bulan ini. Namun, sangat penting untuk berhenti dan mengevaluasi setiap keputusan yang telah diambil. Menghentikan perdagangan pada saat drawdown mencapai batas yang ditentukan akan membantu melindungi modal dan mencegah kerugian lebih besar. Scalper dapat melanjutkan transaksi kembali pada bulan berikutnya setelah melakukan evaluasi terhadap strategi dan keputusan yang telah diambil.

4. Keterbatasan waktu dan fokus

Metode scalping memerlukan pemantauan pasar secara real-time selama jam perdagangan untuk dapat mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang cepat. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan saham berlangsung dalam dua sesi setiap hari. Sesi I berlangsung pada pukul 09.00–12.00 WIB, sementara Sesi II berlangsung pada pukul 13.30–16.00 WIB. Khusus hari Jumat, terdapat perbedaan jadwal, di mana Sesi I berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB dan Sesi II dimulai lebih lambat, yaitu pukul 14.00 WIB. Kondisi ini menuntut seorang scalper untuk berada di depan layar hampir sepanjang sesi perdagangan guna memantau pergerakan harga dan mengeksekusi transaksi secara tepat waktu.

Proses ini membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi dan keputusan yang cepat, mengingat bahwa peluang untuk mendapatkan keuntungan hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat. Dengan frekuensi transaksi yang tinggi dan kebutuhan untuk melakukan analisis secara terus-menerus, seorang scalper harus benar-benar terfokus pada pasar sepanjang sesi perdagangan.

Bagi investor yang memiliki pekerjaan atau aktivitas lain di luar perdagangan saham, komitmen waktu yang dibutuhkan untuk melakukan scalping sulit untuk dipenuhi. Scalping memerlukan keterlibatan penuh, dan jika tidak dilakukan secara penuh waktu, banyak peluang potensial bisa terlewatkan, yang akhirnya bisa berpengaruh pada kinerja yang suboptimal. 

Sebagai kesimpulan, scalping method memang menawarkan potensi keuntungan, namun risiko yang menyertainya tidak boleh diabaikan. Biaya transaksi yang tinggi, tekanan psikologis, dan potensi kerugian terakumulasi adalah faktor yang perlu Anda evaluasi secara objektif sebelum memutuskan untuk menerapkan strategi ini.

Tabel 1. Perbandingan scalping method dan investasi jangka panjang

Bagi sebagian besar investor, terutama yang tidak memiliki waktu untuk memantau pasar atau belum memiliki pengalaman trading yang matang, pendekatan investasi jangka panjang dengan fokus pada fundamental perusahaan seringkali memberikan hasil yang lebih konsisten dan berkelanjutan.

Jika Anda ingin berinvestasi di pasar saham namun tidak memiliki waktu atau keahlian untuk melakukan transaksi secara aktif maupun melakukan analisis serta riset yang mendalam, reksa dana saham dapat menjadi pilihan yang efisien. Melalui reksa dana saham, portofolio Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang menerapkan strategi investasi berbasis riset dan analisis fundamental, sehingga Anda tidak perlu memantau pasar setiap saat.

Ada beragam produk reksa dana saham di Makmur yang bisa dipertimbangkan, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data per 05 Februari 2026, reksa dana tersebut bertumbuh sebesar 23,11% dalam 3 bulan terakhir. 


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Saham dengan Free Float Rendah, Apakah Layak untuk Investasi Jangka Panjang?

Key Takeaways: Keberhasilan dalam berinvestasi saham melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah menilai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang. Free float saham merujuk pada jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka, yang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali ataupun pihak korporasi. Saham dengan free float rendah dapat memengaruhi […]

author
Content Management
calendar
19 Februari 2026
Artikel

Sebelum Membeli atau Menjual Reksa Dana, Ketahui Pentingnya Memahami Cut-Off Time NAB

Key Takeaways: Dalam berinvestasi reksa dana, keputusan membeli atau menjual sering dipengaruhi oleh kondisi pasar pada hari tertentu. Namun, harga yang digunakan dalam transaksi bukanlah harga saat instruksi diberikan, melainkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada tanggal efektif sesuai ketentuan cut-off time. Jika transaksi dilakukan setelah batas waktu tersebut, maka akan menggunakan NAB hari bursa berikutnya. […]

author
Content Management
calendar
18 Februari 2026
Artikel

Banyak Investor Mengandalkan Broker Summary, Padahal Ada Hal Lain yang Perlu Dipahami

Key Takeaways: Broker summary adalah laporan yang mencakup informasi terkait volume transaksi yang dilakukan oleh broker, harga beli dan jual saham, perubahan harga saham yang dipengaruhi oleh aktivitas broker, serta akumulasi dan distribusi saham yang dilakukan oleh market maker. Market maker merupakan pihak berupa institusi atau individu yang menyediakan likuiditas di pasar keuangan. Meskipun broker […]

author
Content Management
calendar
13 Februari 2026
Artikel

Cara Menganalisis Sektor yang Diuntungkan Ketika Ada Arus Dana Asing

Key Takeaways: Arus dana asing bisa menjadi indikator kunci dalam menganalisis saham, karena aliran dana asing dari luar negeri dapat memberikan dampak signifikan terhadap sektor tertentu di pasar saham, termasuk perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, penting bagi investor untuk memahami cara menganalisis sektor yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari arus dana asing.  […]

author
Content Management
calendar
12 Februari 2026
Artikel

Menghadapi Saham dengan Status Full Call Auction (FCA), Apa Strategi Investor yang Tepat?

Key Takeaways: Status Full Call Auction (FCA) merupakan mekanisme perdagangan khusus yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap saham yang masuk dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK). Melalui mekanisme ini, perdagangan saham tidak lagi dilakukan seperti biasa di Pasar Reguler, melainkan hanya pada waktu tertentu melalui proses lelang. Bagi investor yang memiliki saham dengan status […]

author
Content Management
calendar
11 Februari 2026
Artikel

Saham Syariah Tidak Berarti Bebas Risiko, Ini yang Perlu Anda Analisis

Key Takeaways: Investasi saham syariah biasanya menjadi pilihan bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah. Namun, perlu dipahami bahwa saham syariah tetap memiliki risiko, meskipun sesuai dengan ketentuan syariah. Sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, penting untuk memahami kriteria perusahaan yang memenuhi syarat sebagai saham syariah serta melakukan analisis yang mendalam. Karena setiap saham […]

author
Content Management
calendar
10 Februari 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0