






Hai, Sobat Makmur! Salah satu kesalahan terbesar dalam berinvestasi adalah terus menunda keputusan berinvestasi. Padahal, berinvestasi sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan tidak harus menunggu usia matang. Sebab, semakin cepat kamu berinvestasi, semakin cepat pula kamu memetik hasilnya. Pada artikel kali ini, Makmur akan membahas kenapa kamu harus memulai berinvestasi sejak muda dan sedini mungkin. Yuk, disimak!
Sobat Makmur, tahukah kamu kalau demografi investor saat ini didominasi oleh usia muda? Melansir data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per Oktober 2024 sebanyak 54,99% investor saat ini yang berjumlah 14,34 juta adalah investor dengan usia kurang dari 30 tahun. Kemudian, investor yang berusia di rentang 31 tahun sampai 40 tahun sebanyak 24,36%, disusul investor berusia 41 tahun sampai 50 tahun sebanyak 11,99% dan investor berusia 51 tahun sampai 60 tahun. Generasi muda yang mendominasi kalangan investor menunjukkan kesadaran investasi di kalangan anak muda semakin tinggi.
Banyaknya pertimbangan terkadang membuat seseorang menunda untuk berinvestasi, sehingga melewatkan potensi keuntungan yang ada. Kebiasaan menunda investasi bisa menimbulkan cost of delay, yakni biaya atau potensi kerugian yang muncul ketika kamu semakin lama menunda untuk berinvestasi. Dalam artian, semakin lama penundaan yang dilakukan, maka semakin rendah pula potensi keuntungan yang bisa kamu dapatkan dibandingkan dengan berinvestasi sejak dini. Ada beberapa alasan kenapa kamu harus berinvestasi sejak usia muda.
1. Mengatasi Risiko Inflasi
Sebagai pengingat, dalam perekonomian terdapat istilah inflasi, yakni naiknya harga barang dan jasa secara umum dan terjadi terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Inflasi yang terus meningkat membuat nilai uang yang kamu miliki akan terus berkurang jika hanya disimpan tanpa diinvestasikan. Dengan berinvestasi, kamu dapat mendapat imbal hasil yang lebih tinggi, atau setidaknya mampu menyamai tingkat inflasi, sehingga membantu mempertahankan nilai uang milikmu. Dengan memulai investasi lebih awal, tandanya kamu telah menjaga nilai kekayaan dari penurunan nilai lebih awal. Dengan kata lain, semakin lama kamu menunda investasi, semakin besar dampak negatif inflasi terhadap uang yang kamu miliki.
2. Kehilangan Kesempatan Membeli Aset di Harga Diskon
Ada kalanya pasar modal dan pasar keuangan mengalami penurunan atau koreksi yang signifikan, entah akibat sentimen negatif (seperti pandemi, kebijakan suku bunga, data ekonomi yang mengecewakan) maupun akibat koreksi wajar. Koreksi pasar menyebabkan harga saham atau aset lainnya mengalami diskon atau dengan kata lain memiliki harga wajar atau fair value yang lebih murah. Jika kamu terus menunda untuk mulai berinvestasi, kamu mungkin kehilangan peluang untuk memperoleh aset dengan harga yang lebih rendah. Penundaan ini bisa membuatmu terpaksa membeli aset dengan harga lebih tinggi di masa depan, karena nilai aset investasi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Akibatnya, potensi keuntungan yang bisa kamu raih menjadi kurang optimal.
3. Lebih Fleksibel Dalam Mengambil Risiko
Habiskan masa mudamu untuk belajar. Memulai investasi di usia muda memberimu lebih banyak waktu untuk mempelajari berbagai instrumen dan strategi investasi. Investor usia muda cenderung memiliki kemampuan lebih besar untuk menerima risiko dibandingkan mereka yang baru memulai investasi di usia yang lebih matang. Kesalahan yang terjadi di usia muda dapat menjadi pelajaran berharga tanpa memiliki dampak besar terhadap keuanganmu. Selain itu, jika kamu berinvestasi di usia muda, kamu memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencoba berbagai jenis instrumen investasi, seperti saham, reksa dana, atau investasi riil seperti properti. Pengetahuan yang kamu dapatkan dari pengalaman investasi ini akan membantu kamu dalam membuat keputusan yang lebih baik di masa depan. Proses ini juga akan memberikan Sobat Makmur kepercayaan diri dalam mengelola keuangan secara keseluruhan.
4. Persiapan Dana Pensiun Hingga Dana Kebutuhan Lainnya
Berinvestasi sejak dini tandanya kamu telah menyiapkan kebutuhan dana seperti dana darurat, dana pensiun, dan dana kebutuhan lainnya lebih cepat. Berinvestasi di usia matang seperti saat memasuki masa pensiun sering kali menghadirkan tantangan yang lebih besar dibandingkan masa ketika kamu masih muda. Sehingga, merencanakan tujuan investasi sejak dini dapat membantu kamu dalam menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera dan bahagia di masa tua.
5. Mencapai Financial Freedom Lebih Cepat
Berinvestasi lebih cepat dan lebih dini berarti kamu akan semakin cepat dalam meraih financial freedom atau kebebasan finansial. Financial freedom adalah keadaan ketika individu telah mencapai kondisi kemapanan keuangan. Ketika kamu sudah bisa mencapai tahap financial freedom, kamu bisa hidup sesuai dengan keinginanmu tanpa harus khawatir tentang masalah keuangan. Dalam artian, ketika kamu telah mencapai kondisi financial freedom, kamu tidak lagi pusing mengatur alokasi gaji untuk membeli kebutuhan yang sifatnya tersier.
Oleh karena itu, kamu harus memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko kamu agar dapat mencapai imbal hasil (return) yang mendukung target kebebasan finansial yang kamu inginkan. Jika kamu adalah investor pemula dan ingin memulai investasi, kamu bisa memilih reksa dana. Ketika kamu berinvestasi di reksa dana, danamu akan dikelola secara profesional oleh pihak ketiga, yaitu Manajer Investasi (MI). MI bertugas menentukan aset yang akan dimasukkan ke dalam portofolio reksa dana, seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Pemilihan aset dilakukan melalui analisis yang mendalam, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi makro seperti kebijakan suku bunga, kebijakan moneter, dan kebijakan fiskal.
Dengan berinvestasi di reksa dana, kamu juga secara otomatis melakukan diversifikasi. Diversifikasi ini membantu mengurangi risiko akibat ketergantungan pada satu jenis instrumen atau perusahaan tertentu. Dengan demikian, jika salah satu instrumen mengalami penurunan nilai, kinerja portofoliomu dapat terbantu oleh performa instrumen lainnya. Selain itu, modal awal berinvestasi reksa dana tidaklah besar dan hanya membutuhkan modal yang minim. Di Makmur, kamu bisa menemukan reksa dana terbaik yang bisa dibeli hanya dengan modal awal Rp10.000.
Di Makmur, kamu bisa juga memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo November Growth, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.
Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi
Key Takeaways: Mulai Januari 2026, terdapat perubahan fundamental di pasar modal Indonesia. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas investasi saham bagi perusahaan asuransi dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada institusi pengelola dana, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja portofolio investasi investor. Perubahan batas investasi dapat memengaruhi dinamika harga […]
Key Takeaways: Sepanjang year-to-date (YTD) 2026 hingga 22 Juni 2026, pasar obligasi Indonesia menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan tensi geopolitik yang masih berlanjut meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas […]
Key Takeaways: Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 18 Juni 2026 menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan ini merupakan yang ketiga sejak Mei 2026 setelah BI lebih dulu menaikkan suku bunga pada 20 Mei dan 9 Juni 2026. Langkah tersebut diambil sebagai […]
Key Takeaways: Dalam ekosistem pasar modal Indonesia, terdapat dua lembaga yang berperan penting dalam mendukung kelancaran transaksi efek, yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Berdasarkan POJK Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penerapan Tata Kelola Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, baik KSEI maupun KPEI […]
Key Takeaways: Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan […]
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]