Key Takeaways:
Banyak orang beranggapan bahwa kegagalan perusahaan umumnya disebabkan oleh kerugian operasional atau penurunan laba. Namun, pada kenyataannya, penyebab kegagalan perusahaan sering karena pengelolaan risiko likuiditas atau liquidity risk management. Pengelolaan risiko likuiditas berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, seperti pembayaran utang dan biaya operasional, serta kemampuan untuk mencairkan aset yang dimiliki dengan cepat.
Meskipun perusahaan memiliki aset yang besar atau pendapatan yang tinggi, ketidakmampuan memenuhi kewajiban saat jatuh tempo dapat meningkatkan risiko gagal bayar dan, dalam kondisi tertentu, berujung pada kebangkrutan. Oleh karena itu, meskipun pengelolaan arus kas dan kerugian finansial saling terkait, pengelolaan risiko likuiditas yang buruk bukanlah kerugian operasional secara langsung, melainkan faktor yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan jika tidak ditangani dengan baik.
Mari kita bahas berbagai aspek dari liquidity risk management dan bagaimana hal itu dapat menyebabkan kegagalan perusahaan.
Salah satu masalah yang muncul akibat manajemen risiko likuiditas yang lemah adalah ketidaksesuaian antara waktu penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan. Banyak perusahaan memiliki aset besar, seperti properti atau mesin produksi, namun aset tersebut tidak dapat segera dijual atau dikonversi menjadi kas. Ketika utang jatuh tempo, perusahaan yang tidak memiliki dana kas yang cukup untuk membayar akan menghadapi kesulitan.
Jika perusahaan terlalu banyak menginvestasikan dalam aset yang tidak likuid tanpa mempertimbangkan kebutuhan kas jangka pendek, mereka berisiko kehabisan dana untuk menjalankan operasional sehari-hari.
Contoh yang dapat menggambarkan kondisi tersebut adalah PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) pada 2021–2022. Kasus SSTM menunjukkan bahwa kepemilikan aset tetap yang besar tidak selalu berarti perusahaan memiliki likuiditas yang kuat.
Pada 2021, SSTM mencatat laba bersih sebesar Rp56,8 miliar. Namun, pada 2022, perusahaan berbalik mencatatkan rugi bersih sebesar Rp6,0 miliar seiring tekanan pada kinerja bisnis. Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana pelemahan kinerja operasional dapat meningkatkan tekanan terhadap kondisi keuangan perusahaan. Di sisi lain, kepemilikan aset tetap yang besar belum tentu dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan kas secara cepat. Aset seperti mesin dan fasilitas produksi membutuhkan waktu untuk dikonversi menjadi kas, sementara biaya operasional dan kewajiban perusahaan tetap harus dipenuhi.
SSTM terjebak dalam siklus industri tekstil yang lesu dengan struktur utang yang kaku. Pada tahun 2021, tingkat utilisasi mesin industri tekstil nasional turun hingga 60%. Sementara itu, SSTM sudah berinvestasi besar pada aset tetap berupa mesin, sehingga biaya pemeliharaan dan penyusutan tetap berjalan meski produksi menurun.
Meskipun sempat terpuruk, manajemen SSTM mengungkapkan strategi baru untuk memulihkan kelangsungan usaha, di antaranya dengan fokus pada bisnis inti, yaitu divisi pemintalan benang, serta efisiensi operasional untuk tetap kompetitif di pasar. SSTM juga berupaya meningkatkan utilisasi mesin dengan memperluas penetrasi pasar untuk memaksimalkan kapasitas produksi.
Pertumbuhan yang cepat sering kali dianggap sebagai indikator kesuksesan sebuah perusahaan. Namun, tanpa manajemen risiko likuiditas yang baik, ekspansi yang terlalu agresif dapat berisiko besar. Perusahaan yang mengalami overtrading, yaitu kondisi ketika perusahaan tumbuh terlalu cepat tanpa dukungan modal kerja yang memadai, berisiko mengalami tekanan likuiditas yang serius.
Tanpa pengelolaan kas yang baik, perusahaan dapat kesulitan membayar utang atau memenuhi kewajiban lainnya, meskipun penjualannya tinggi. Salah satu contoh nyata adalah PT Modern Internasional Tbk (MDRN), pengelola gerai 7-Eleven (Sevel) di Indonesia.
Pada 2009, MDRN melalui entitas anaknya, PT Modern Sevel Indonesia, membuka gerai 7-Eleven pertama di Bulungan, Jakarta Selatan. Pada 31 Desember 2009, harga saham MDRN berada di kisaran Rp44,82.
Masa keemasan MDRN terjadi antara 2011 dan 2014. Pada 22 Februari 2013, harga saham mencapai titik tertinggi di angka Rp1.050. Jumlah gerai pun melonjak pesat, dari 50 gerai pada 2011 menjadi 190 gerai pada akhir 2014. Perusahaan menggelontorkan dana hingga ratusan miliar rupiah setiap tahunnya untuk belanja modal (capex), seperti sewa lokasi premium dan renovasi fasilitas hangout.
Namun, pada April 2015, terbit Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 yang melarang penjualan minuman beralkohol di minimarket. Produk alkohol, yang menyumbang sekitar 10%–15% dari total penjualan Sevel, memiliki margin keuntungan yang sangat tinggi. Hilangnya pendapatan tersebut menciptakan kesenjangan besar dalam arus kas operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan tahunan MDRN 2016, perusahaan tercatat mengalami kerugian besar sebesar Rp636,48 miliar. Selain itu, saldo utang bank jangka pendek meningkat drastis hingga Rp597,1 miliar. Sebagai upaya efisiensi, pada 2016, MDRN mulai menutup 25 gerai yang tidak menguntungkan.
Namun karena gagal membayar utang dan beban operasional yang terus merugi, pada 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di Indonesia resmi berhenti beroperasi. Pada Desember 2017, saham MDRN turun drastis ke level “Gocap” (Rp50) dan mengalami suspensi perdagangan saham berkali-kali oleh BEI.
Kasus MDRN menggambarkan bagaimana ekspansi yang agresif dapat meningkatkan tekanan terhadap modal kerja dan likuiditas ketika pertumbuhan penjualan tidak mampu mengimbangi biaya operasional dan kebutuhan pendanaan.
Krisis eksternal seperti pandemi, bencana alam, atau perubahan kebijakan ekonomi yang mendadak sulit untuk diprediksi. Namun, perusahaan yang memiliki manajemen risiko likuiditas yang baik biasanya telah menyiapkan cadangan kas yang cukup untuk bertahan dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Sebaliknya, perusahaan yang tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis eksternal akan kesulitan bertahan ketika pendapatan mereka tiba-tiba menurun atau ketika biaya operasional meningkat secara signifikan.
Sebagai contoh, selama pandemi COVID-19, banyak perusahaan yang terpaksa menghentikan operasional sementara waktu karena penurunan tajam pendapatan. Namun, perusahaan-perusahaan yang memiliki manajemen risiko likuiditas yang baik masih dapat bertahan berkat adanya cadangan kas yang cukup.
Tanpa adanya “bantalan kas” atau dana darurat yang memadai, perusahaan yang tidak siap menghadapi krisis eksternal berisiko menghadapi kesulitan keuangan ketika pendapatan turun secara tiba-tiba. Industri penerbangan adalah salah satu sektor yang paling terdampak oleh krisis eksternal seperti pandemi.
Contohnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifikan akibat pembatasan perjalanan global selama periode 2020–2022. Pada tahun 2020, perusahaan ini mencatatkan kerugian hingga Rp36,2 triliun.
Sebelum pandemi, Garuda sudah dibebani dengan utang besar, terutama karena biaya sewa pesawat yang mahal. Ketika krisis eksternal datang, penurunan pendapatan yang tajam membuat perusahaan semakin kesulitan memenuhi biaya operasional dan kewajiban utangnya.
Akibatnya, saham GIAA disuspensi oleh BEI mulai 18 Juni 2021 setelah perusahaan menunda pembayaran kupon sukuk global. Garuda kemudian harus melalui proses restrukturisasi utang (PKPU) yang panjang untuk menghindari kebangkrutan total.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya perusahaan untuk memiliki manajemen risiko likuiditas yang baik dan cadangan kas yang memadai, agar dapat bertahan dalam menghadapi krisis yang tidak terduga.
Masalah likuiditas sering kali menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kegagalan perusahaan dan tidak selalu terlihat sejak awal. Meskipun perusahaan memiliki aset atau penjualan yang besar, tanpa manajemen risiko likuiditas yang tepat, perusahaan bisa mengalami kebangkrutan akibat ketidaksesuaian arus kas, pertumbuhan yang tidak terkendali, keterlambatan dalam membayar kewajiban, atau krisis eksternal yang tak terduga.
Penting untuk memahami bahwa investasi saham melibatkan risiko yang tinggi. Jika Anda tidak memiliki waktu atau keahlian untuk melakukan analisis fundamental secara mendalam, reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang lebih bijak.
Manajer Investasi (MI) pada reksa dana saham memiliki keahlian dan pengalaman untuk memperhitungkan potensi risiko dan imbal hasil. Selain itu, MI juga melakukan diversifikasi untuk meminimalkan risiko dan berupaya memaksimalkan potensi imbal hasil.
Ada beragam reksa dana saham yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya Sucorinvest Sustainability Equity Fund.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) milik negara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengkonsolidasikan aset BUMN secara strategis dan mengelola kekayaan negara secara terpusat. Lembaga ini bertujuan menjadi sovereign wealth fund (SWF) untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. SWF merupakan lembaga investasi khusus yang […]
Key Takeaways: Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat. Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut […]
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]
Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek. Mari kita ulas lebih […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]