






Pasar modal Indonesia memasuki babak baru dengan diberlakukannya aturan ambang batas free float minimum yang lebih tinggi. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menaikkan batas minimum free float menjadi 15% dari total saham tercatat yang mulai berlaku pada 31 Maret 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari revisi Peraturan Bursa Nomor I-A yang telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia. Peningkatan batas free float diharapkan dapat memperkuat likuiditas saham, meningkatkan transparansi, serta mendorong praktik tata kelola emiten yang lebih baik. Selain itu, aturan kenaikan ambang batas free float juga sejalan dengan perhatian lembaga indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap aspek investability pasar.
Hal ini karena saham dengan free float yang rendah cenderung memiliki likuiditas terbatas dan rentan terhadap volatilitas harga. Dengan memperbesar porsi saham yang beredar di publik, diharapkan proses pembentukan harga menjadi lebih wajar dan mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
BEI menyampaikan bahwa saat ini masih terdapat 267 emiten yang belum memenuhi aturan free float 15%. 49 di antaranya merupakan emiten berkapitalisasi besar yang menyumbang sekitar 90% total kapitalisasi pasar dari kelompok tersebut. Di sisi lain, BEI juga menyadari bahwa penyesuaian struktur kepemilikan saham membutuhkan waktu, terutama bagi emiten yang selama ini memiliki free float relatif rendah. Oleh karena itu, disediakan masa transisi dengan tenggat waktu yang berbeda berdasarkan kondisi masing-masing emiten.
Berikut adalah rincian tenggat waktu yang ditetapkan:
● Emiten dengan free float saat ini berada di kisaran 12,5% hingga 15% diwajibkan mencapai atau mempertahankan minimal 15% paling lambat pada 31 Maret 2027.
● Emiten dengan market cap minimal Rp5 triliun wajib memenuhi batas 12,5% pada 31 Maret 2027 dan mencapai 15% pada 31 Maret 2028.
● Emiten dengan market cap di bawah Rp5 triliun diberikan waktu lebih panjang, yaitu memenuhi 15% paling lambat pada 31 Maret 2029, tanpa tahapan target antara.
Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, berikut adalah tabel yang berisi beberapa contoh emiten dengan market cap terbesar di masing-masing kategori berdasarkan data harga saham per April 2026:
Tabel 1. Contoh Saham Berdasarkan Kategori Baru Free Float

Sumber: IDX Channel
Data ini menunjukkan bahwa masih banyak emiten besar maupun menengah yang perlu melakukan penyesuaian signifikan untuk memenuhi ketentuan baru.
Perubahan aturan free float tidak dapat dilepaskan dari tujuan besar untuk meningkatkan daya tarik pasar Indonesia di mata investor global. Dalam praktiknya, aliran dana asing sangat dipengaruhi oleh faktor likuiditas, transparansi, dan standar tata kelola.
Berikut adalah sejumlah aspek utama yang menjelaskan bagaimana kebijakan ini dapat memengaruhi aliran dana asing.
Dengan ambang batas free float yang lebih tinggi, jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar menjadi lebih besar. Likuiditas yang meningkat memungkinkan investor asing melakukan transaksi dalam jumlah signifikan tanpa menyebabkan fluktuasi harga yang tajam. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi jangka panjang.
Selain untuk emiten yang sudah tercatat, BEI juga memperbarui ketentuan free float bagi emiten yang akan melakukan Initial Public Offering (IPO). Persyaratan tersebut kini disusun berdasarkan tiering system sebagai berikut:
● Minimum 15% untuk emiten dengan market cap ≥ Rp50 triliun
● Minimum 20% untuk emiten dengan market cap Rp5–50 triliun
● Minimum 25% untuk emiten dengan market cap < Rp5 triliun
Aturan ini menekankan bahwa semakin kecil skala emiten, semakin besar porsi saham yang harus beredar di publik. Tujuannya adalah memastikan likuiditas yang memadai sejak awal pencatatan.
Lembaga indeks global seperti MSCI menempatkan aspek investability sebagai salah satu indikator utama dalam menentukan kelayakan suatu saham untuk masuk indeks. Dengan free float yang lebih besar, saham berpotensi memiliki tingkat likuiditas yang lebih baik sehingga mendukung pemenuhan berbagai aspek investability yang menjadi perhatian MSCI.
Sebagai konteks tambahan, mekanisme FCA sempat menjadi sorotan karena dinilai berpotensi menurunkan likuiditas perdagangan saham dan transparansi saham, yang turut menjadi perhatian MSCI dalam mengevaluasi status pasar Indonesia.
Peningkatan free float serta penyempurnaan berbagai aspek struktur pasar, termasuk evaluasi terhadap mekanisme FCA, diharapkan dapat mendukung pemenuhan kriteria yang menjadi perhatian MSCI.
Pengetatan definisi free float dengan mengecualikan kepemilikan pihak afiliasi pengendali dapat membuat struktur kepemilikan saham menjadi lebih transparan. Transparansi ini berkontribusi pada peningkatan kepercayaan investor asing yang cenderung lebih sensitif terhadap risiko tata kelola dan risiko manipulasi harga.
Kebijakan peningkatan ambang batas free float menjadi 15% merupakan langkah strategis yang berpotensi membawa dampak positif terhadap pasar modal Indonesia. Aturan ini mendorong likuiditas yang lebih baik, transparansi yang meningkat, serta praktik tata kelola yang lebih kuat.
Dalam kaitannya dengan aliran dana asing, kebijakan ini membuka peluang yang lebih besar melalui peningkatan daya tarik saham Indonesia di mata investor asing dan lembaga indeks internasional. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan emiten dalam melakukan penyesuaian serta konsistensi implementasinya.
Makmur menyediakan beragam reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berpengalaman, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data per 28 Juli 2026, reksa dana tersebut mencatatkan imbal hasil 48,11% dalam satu tahun terakhir.
Selain reksa dana saham, Anda juga dapat mempertimbangkan reksa dana campuran untuk diversifikasi. Salah satunya Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A, yang pada periode yang sama mencatatkan kinerja sebesar 22,42%.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Banyak investor memiliki keinginan untuk membeli saham pada harga serendah mungkin. Secara teori, membeli di titik terendah memang dapat menghasilkan potensi keuntungan yang lebih besar ketika pasar kembali naik. Namun, dalam praktiknya, menentukan kapan harga saham atau indeks mencapai titik terendah bukanlah hal yang mudah. Fenomena ini sering dikaitkan dengan market timing, yaitu […]
Key Takeaways: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menjaga kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Seiring skalanya yang besar, komposisi anggaran program ini turut menjadi bahan diskusi publik, termasuk mengenai porsi belanja untuk komponen pendukung di luar bahan makanan. Untuk memahami gambaran tersebut, berikut alokasi anggaran Badan Gizi […]
Key Takeaways: Investasi saham sering menjadi pilihan bagi para investor yang bertujuan memperoleh keuntungan. Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang signifikan, investasi saham juga memiliki risiko yang cukup tinggi, termasuk bila harga saham yang dibeli mengalami penurunan. Terdapat beberapa strategi untuk mengatasi kerugian tersebut, salah satunya adalah average down. Strategi ini memungkinkan investor membeli lebih banyak […]
Key Takeaways: Masuk ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO) merupakan salah satu langkah besar dalam perjalanan sebuah bisnis. Dengan IPO, akses terhadap pendanaan menjadi lebih luas melalui penerbitan saham. Namun dalam praktiknya, IPO bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh dana tambahan. Banyak emiten tetap aktif menghimpun dana melalui instrumen lain, salah satunya obligasi korporasi. […]
Key Takeaways: Dalam industri tambang batu bara, harga komoditas global kerap menjadi acuan utama dalam menentukan pendapatan emiten. Untuk batu bara termal, acuan yang umum dipakai adalah indeks seperti Newcastle atau ICI, sedangkan batu bara metalurgi (kokas) mengacu pada harga hard coking coal. Pergerakan harga ini sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran global, sehingga […]