makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Siap Berinvestasi di 2025, Ini Sejumlah Sentimen Pasar yang Harus Kamu Cermati!

author
Content Management
author
06 November 2024
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Hai, Sobat Makmur! Dalam hitungan pekan, kita akan memasuki tahun 2025. Menjelang pergantian tahun, kamu pasti sudah memiliki resolusi dan rencana investasi baru. Namun, sebelum memasang resolusi dan rencana investasi di 2025, ada baiknya kamu mencermati sejumlah sentimen yang akan mewarnai pasar modal tahun depan. Pada artikel kali ini, Makmur akan mengajak kamu untuk membahas sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri yang berpotensi terjadi tahun depan, dan juga strategi investasi untuk mewujudkan tujuan finansialmu di 2025. Yuk, disimak!

Rekap Sentimen 2024

Sebelum membahas mengenai sentimen pasar di 2025, ada baiknya kita sedikit melakukan kilas balik (throwback) terhadap sentimen pasar yang terjadi pada 2024. Bisa dibilang, tahun 2024 merupakan tahun yang cukup ramai sentimen bagi pasar modal Indonesia. Dari dalam negeri misalnya, ada sentimen pemilihan umum (pemilu) sekaligus menandakan perpindahan estafet kepemimpinan dari Presiden Jokowi ke Presiden Prabowo. Kemudian, ada sejumlah data-data ekonomi yang menjadi cerminan kondisi perekonomian domestik, diantaranya fenomena deflasi yang terjadi 5 bulan secara beruntun, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, hingga kebijakan pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).

Dari luar negeri, sentimen datang dari berlanjutnya aksi genosida di Timur Tengah, dimana ketidakpastian yang terjadi di wilayah ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi eskalasi yang bisa mengganggu stabilitas pasar dan rantai pasok energi. Lalu, sejumlah bank sentral negara di dunia juga mulai melakukan pemangkasan suku bunga, seperti Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, Bank Sentral Uni Eropa, hingga Bank Sentral China. Kebijakan suku bunga bank sentral global turut mempengaruhi arus dana asing ke pasar modal domestik.

Sentimen di 2025

Sejumlah sentimen utama, baik dari dalam maupun luar negeri, diproyeksi akan membayangi pasar modal dalam negeri sepanjang tahun depan. Ini dia beberapa sentimen yang bisa kamu cermati sebagai persiapan untuk berinvestasi di 2025.

1. Kebijakan Pemangkasan Suku Bunga Bank Sentral Berlanjut

Era suku bunga rendah diperkirakan akan terus berlanjut tahun depan seiring dengan tren kebijakan pemangkasan suku bunga bank sentral dunia. Sejumlah bank sentral utama dunia seperti The Fed, European Central Bank (ECB), People’s Bank of China (PBOC), hingga BI diperkirakan masih memiliki ruang yang cukup untuk melakukan pemangkasan suku bunga tahun depan. Sejumlah faktor menjadi pendorong bank sentral ini melakukan kebijakan pelonggaran moneter, mulai dari tingkat inflasi yang mulai melandai, kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan, hingga adanya dorongan untuk memulihkan pasar tenaga kerja.

Kebijakan pemangkasan suku bunga ini akan mempengaruhi arus dana asing ke pasar modal Indonesia. Ketika suku bunga turun (khususnya di negara maju), investor cenderung mencari return lebih tinggi di pasar negara berkembang atau emerging market (EM), termasuk Indonesia. Arus modal asing ini bisa memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan likuiditas pasar modal, sehingga mendorong kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya saham yang memiliki kaitan dengan suku bunga seperti perbankan, perusahaan pembiayaan, dan properti.

2. Pertumbuhan Ekonomi Global

Kinerja ekonomi negara-negara besar yang menjadi mitra dagang utama seperti AS, China, India, dan Uni Eropa akan mempengaruhi permintaan dan perekonomian global, utamanya terhadap komoditas. Indonesia sendiri merupakan negara yang cukup bergantung pada kekuatan harga komoditas global seperti batubara, minyak, gas, dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Ketika ekonomi negara-negara mitra dagang utama tumbuh dengan baik, permintaan atas produk-produk komoditas ekspor Indonesia cenderung meningkat. Hal ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik dan mendukung pendapatan emiten yang bergerak di sektor tersebut. Selain itu, ketika ekonomi negara besar di dunia mengalami pertumbuhan positif, investor asing cenderung lebih percaya diri menanamkan modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

3. Tren Pergantian Kepemimpinan dan Kebijakan Negara di Dunia

Beberapa negara yang memiliki pengaruh besar bagi perekonomian global akan segera memiliki pemimpin baru pada tahun depan. Dua diantaranya adalah Inggris dan AS. Pergantian kepemimpinan akan disertai dengan perubahan arah kebijakan dari pemimpin sebelumnya. Tentunya, setiap kebijakan dari pemimpin baru dunia akan berdampak bagi negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Sebagai contoh, AS saat ini sedang menggelar pemilihan presiden, dimana calon dari Partai Republik yakni Donald J. Trump unggul sementara. Trump dikenal memiliki kebijakan yang cukup protektif terhadap produk dalam negeri. Salah satu kebijakan kampanyenya adalah mengenakan tarif 10% hingga 20% pada semua barang impor (termasuk dari Indonesia), dengan pengenaan tarif tertinggi terhadap barang dari China yang mencapai 60%.

Jika nantinya diterapkan, kebijakan ini bisa menyebabkan biaya tarif dagang untuk produk dari China yang di ekspor ke AS naik signifikan. Dampaknya, biaya produksi meningkat dan menyebabkan harga barang mengalami kenaikan, sehingga tingkat inflasi AS berpotensi merangkak naik. Kondisi ini akan semakin mempersulit The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga. Terbatasnya ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter tentu akan berdampak pada arus dana asing yang masuk ke Indonesia.

4. Konflik Geopolitik yang Masih Terus Berlanjut

Konflik geopolitik dan genosida yang terus berlanjut di Timur Tengah turut mempengaruhi sentimen investor terhadap risiko jangka panjang. Investor akan mengubah strategi portofolio untuk mengurangi paparan risiko. Jika konflik geopolitik terus berlanjut, investor akan cenderung menghindari aset berisiko dan memilih instrumen investasi yang lebih aman (safe haven). Kondisi ini dapat menekan pasar modal Indonesia terutama ketika investor asing melepas aset-aset mereka di Indonesia untuk berinvestasi di pasar yang dianggap lebih stabil. Tekanan ini bisa berdampak pada likuiditas di pasar modal domestik​. Selain itu, konflik geopolitik juga berdampak pada volatilitas harga komoditas, terutama komoditas energi seperti minyak dan gas alam. Kondisi ini bisa memicu reaksi negatif di pasar modal, terutama terhadap sektor yang sensitif terhadap harga energi seperti manufaktur dan sektor migas.

Nah, Sobat Makmur, dari artikel di atas, dapat disimpulkan bahwa sentimen pasar modal tahun 2025 masih seputar adanya ketidakpastian ekonomi dan juga arah kebijakan suku bunga bank sentral. Untuk itu, penting bagi kamu untuk memilih instrumen yang tepat guna menghadapi sentimen di tahun 2025.

Untuk menghadapi ketidakpastian, kamu bisa memilih instrumen yang cenderung aman dan stabil, salah satunya reksa dana pasar uang. Reksa dana pasar uang memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan instrumen lainnya. Ketika kondisi pasar bergejolak, kinerja investasi reksa dana pasar uang cenderung stabil. Seluruh portofolio reksa dana pasar uang diinvestasikan ke instrumen jangka pendek, yakni instrumen investasi yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun seperti deposito, Sertifikat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan sejenisnya. Keunggulan lain dari reksa dana pasar uang adalah aspek likuiditas yang tinggi, dimana reksa dana ini mudah untuk dicairkan kapanpun tanpa dikenakan denda.

Sementara untuk menghadapi potensi penurunan suku bunga, kamu bisa mencermati reksa dana pendapatan tetap. Mayoritas portofolio reksa dana ini merupakan efek yang bersifat utang (baik obligasi dan/atau sukuk). Ketika suku bunga turun, harga obligasi akan cenderung naik. Penurunan tingkat suku bunga acuan akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik, sehingga akan membuat investor lebih tertarik berinvestasi di instrumen obligasi dibandingkan dengan menaruh uangnya di deposito. Era suku bunga rendah yang diperkirakan berlanjut tahun depan bisa membantu kamu dalam memaksimalkan potensi return dari reksa dana pendapatan tetap.

Kamu juga bisa melakukan strategi diversifikasi dengan mencermati reksa dana campuran. Sebab, reksa dana ini mengombinasikan berbagai jenis instrumen seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Karena ada campuran antara aset berisiko rendah dan berisiko tinggi, reksa dana campuran memberikan potensi pertumbuhan yang optimal, akan tetapi dengan risiko yang terkontrol. Dengan memilih reksa dana campuran, kamu bisa menikmati potensi keuntungan yang lebih tinggi dari reksa dana pasar uang namun dengan fluktuasi yang lebih rendah dibandingkan reksa dana saham.

Selain memilih instrumen yang tepat, kamu juga harus memilih platform investasi yang tepat dan aman. Di Makmur, kamu bisa juga memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo November Growth, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.


Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.

Link: Promo-Promo di Makmur

Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:

Website: Makmur.id


Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Emiten Melakukan Spin-off Perusahaan, Apa Dampaknya terhadap Saham Induk dan Anak Usaha?

Key Takeaways: Spin-off perusahaan adalah aksi korporasi di mana sebuah perusahaan induk memisahkan unit bisnis atau anak perusahaannya untuk menjadi entitas mandiri yang berdiri sendiri. Aksi korporasi ini kerap dipilih oleh perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis inti dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, spin-off perusahaan tidak hanya berpengaruh pada struktur internal organisasi, tetapi juga dapat […]

author
Content Management
calendar
20 Agustus 2026
Artikel

Saham Bonus vs Dividen, Mana yang Lebih Memperbesar Portofolio Investor?

Key Takeaways: Bagi investor saham, terdapat berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, di antaranya melalui pembagian dividen dan saham bonus. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada pemegang saham, tetapi mekanisme dan dampaknya terhadap investasi sangat berbeda.  Lalu, mana yang lebih memperbesar portofolio investor, saham bonus atau dividen? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu cara kerja masing-masing aksi […]

author
Content Management
calendar
19 Agustus 2026
Artikel

Strategi Diversifikasi Aset Saat Volatilitas Valas Tinggi untuk Mengelola Risiko Investasi

Key Takeaways: Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang year-to-date (YTD) 2026 per 18 Agustus menunjukkan tekanan yang cukup tinggi. Rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/USD pada awal April 2026 dan terus melemah hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.201/USD secara intraday pada 8 Juni 2026.  Sepanjang pertengahan Agustus 2026, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.700 […]

author
Content Management
calendar
18 Agustus 2026
Artikel

Strategi Emiten Telekomunikasi, Cara Telkom (TLKM) dalam Menjaga Stabilitas ARPU Melalui Integrasi IndiHome dan Telkomsel

Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]

author
Content Management
calendar
13 Agustus 2026
Artikel

Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal BI, Penguatan Rupiah di Depan Mata?

Key Takeaways: Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut. […]

author
Content Management
calendar
12 Agustus 2026
Artikel

Fenomena Silent Wealth dan Mengapa Strategi Mengelola Exposure Instrumen Investasi Efektif untuk Investor Jangka Panjang

Key Takeaways: Di tengah maraknya tren yang menunjukkan gaya hidup mewah di media sosial, banyak investor dengan kemampuan finansial yang baik justru memilih untuk tidak menampilkan kekayaan secara berlebihan. Tren tersebut dikenal sebagai silent wealth, yaitu konsep yang memandang pertumbuhan aset dan kesehatan finansial tidak diukur dari barang yang dimiliki atau ditunjukkan, melainkan dari aset […]

author
Content Management
calendar
11 Agustus 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0