






Dalam berinvestasi pada reksa dana, banyak investor yang lebih fokus pada return atau imbal hasil yang dapat diperoleh. Meskipun return merupakan salah satu pertimbangan utama, penting untuk tidak mengabaikan aspek risiko yang menyertainya. Risiko pada reksa dana dapat berasal dari berbagai faktor yang memengaruhi kinerja investasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai risiko ini sangat penting agar investor dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan mengelola potensi kerugian dengan lebih efektif.
Berikut ini aspek risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi dalam reksa dana:
Risiko pasar adalah risiko yang timbul akibat fluktuasi harga pasar yang memengaruhi nilai investasi dalam reksa dana. Fluktuasi ini bisa disebabkan oleh gejolak ekonomi maupun sentimen pasar. Selain itu, risiko pasar juga dapat dipengaruhi oleh faktor politik, seperti perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi kinerja pasar secara keseluruhan. Dalam reksa dana saham, risiko pasar sangat berpengaruh karena pergerakan harga saham yang dinamis.
Sebagai contoh sentimen pasar yang baru terjadi beberapa minggu lalu, MSCI secara resmi mengumumkan kebijakan pembekuan sementara terhadap indeks saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot tajam hingga 8,0% pada 28 Januari 2026, yang memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt.
Berdasarkan data per 19 Februari 2026, IHSG -8,25% dalam 1 bulan terakhir. Beberapa reksa dana saham juga mencatatkan kinerja yang searah dengan pelemahan pasar. Sucorinvest Sharia Equity Fund, misalnya, dalam 1 bulan terakhir kinerjanya tercatat -4,88%. Namun, secara 1 tahun terakhir, kinerjanya masih berada di level positif sebesar 42,85%.
Risiko pasar tidak dapat dipisahkan dari investasi reksa dana, terutama pada reksa dana saham. Fluktuasi pasar yang terjadi dapat memengaruhi kinerja jangka pendek, namun potensi return jangka panjang tetap dapat terjaga.
Risiko likuiditas muncul ketika reksa dana kesulitan menjual asetnya dalam waktu singkat tanpa harus menurunkan harga secara signifikan. Risiko ini sering terjadi pada reksa dana yang berinvestasi dalam aset dengan likuiditas rendah. Dalam kondisi pasar yang tidak mendukung atau saat terjadi krisis ekonomi, reksa dana mungkin kesulitan mengonversi aset menjadi uang tunai, yang dapat memengaruhi kemampuan investor untuk mencairkan investasinya dengan harga yang wajar.
Sebagai contoh, pada akhir tahun 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memerintahkan pembubaran (likuidasi) beberapa produk reksa dana Minna Padi. Salah satu kendala yang dihadapi saat itu adalah risiko likuiditas. Ketika produk reksa dana tersebut harus dibubarkan dan asetnya dijual untuk mengembalikan uang kepada investor, manajer investasi (MI) mengalami kesulitan dalam menjual saham tersebut karena tidak ada pembeli di pasar.
Akibatnya, proses pengembalian dana ke investor memakan waktu lama dan nilai yang diterima jauh di bawah ekspektasi. Pada saat OJK memerintahkan pembubaran dan likuidasi enam produk reksa dana PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) pada November 2019, portofolionya mencakup aset senilai sekitar Rp6 triliun. Sebagian besar saham dalam portofolio tersebut merupakan saham dengan likuiditas rendah atau kapitalisasi pasar kecil hingga menengah, yang sering disebut sebagai saham lapis kedua atau ketiga.
Untuk meminimalkan risiko likuiditas, investor perlu melakukan pengecekan terhadap fund fact sheet reksa dana yang ingin mereka investasikan. Dengan melihat fund fact sheet, investor dapat mengetahui jenis aset yang dimiliki oleh reksa dana tersebut, termasuk likuiditas dan kapitalisasi pasar dari saham-saham yang ada dalam portofolio. Selain itu, investor juga dapat memeriksa informasi terkait rasio likuiditas, track record manajer investasi, dan kinerja reksa dana selama periode yang berbeda.
Risiko wanprestasi merupakan potensi gagal bayar yang terjadi ketika pihak yang berutang, atau emiten yang menjadi aset dalam reksa dana, tidak dapat memenuhi kewajibannya, seperti gagal membayar bunga atau pokok utang. Risiko ini lebih relevan bagi reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi dalam obligasi atau instrumen surat utang.
Ketika emiten gagal memenuhi kewajibannya, nilai investasi reksa dana dapat mengalami penurunan, sehingga meningkatkan risiko bagi investor dan berpotensi menyebabkan kerugian, baik sebagian maupun seluruhnya, dari dana yang diinvestasikan.
Sebagai contoh, pada 3 Februari 2026, Pefindo menurunkan peringkat obligasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menjadi idD (Default) setelah perusahaan gagal membayar kupon yang jatuh tempo.
Sebelumnya, pada Februari 2025, WIKA juga gagal melunasi pokok obligasi dan sukuk senilai Rp1,75 triliun dan Rp750 miliar. Akibat kegagalan pembayaran tersebut, reksa dana yang memiliki obligasi WIKA terpaksa menurunkan nilai asetnya, yang berdampak pada penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tersebut.
Meskipun reksa dana dapat memberikan imbal hasil positif, jika return yang diperoleh tidak cukup untuk mengimbangi tingkat inflasi, nilai riil investasi akan menurun. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan inflasi sebagai salah satu faktor dalam menilai imbal hasil investasi reksa dana, terutama untuk reksa dana yang memiliki risiko rendah atau cenderung memberikan return stabil.
Berdasarkan data tahun 2025, angka inflasi di Indonesia tercatat sebesar 2,92% year-on-year (YoY). Ketika mempertimbangkan investasi reksa dana pasar uang, pastikan performanya dalam satu tahun berada di atas tingkat inflasi tersebut. Jika return yang diperoleh berada di bawah angka inflasi, maka imbal hasil yang diperoleh tidak akan optimal.
Reksa dana pasar uang memiliki probabilitas lebih tinggi untuk menghasilkan return di bawah tingkat inflasi, karena dana kelolaannya sebagian besar ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti deposito dan instrumen surat utang atau obligasi jangka pendek, yang cenderung memberikan imbal hasil yang relatif stabil. Maka dari itu, reksa dana pasar uang lebih cocok untuk investasi jangka pendek.
Untuk mengurangi risiko reksa dana, penting bagi Anda untuk memahami cara yang efektif dalam mengelola dana dan meminimalkan dampak risiko tersebut:
Sebelum berinvestasi, penting untuk memahami profil risiko Anda. Profil risiko mencerminkan sejauh mana Anda siap menghadapi risiko dalam investasi. Setiap jenis reksa dana memiliki tingkat risiko yang berbeda sehingga penting untuk memilih reksa dana yang sesuai dengan toleransi risiko Anda.
Sebagai contoh, jika Anda cenderung memiliki profil risiko rendah atau konservatif, maka jenis reksa dana pasar uang akan lebih cocok. Sementara itu, jenis reksa dana campuran dan reksa dana saham lebih tepat bagi investor dengan profil risiko agresif atau memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi.
Diversifikasi portofolio adalah salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi risiko investasi. Dengan mendiversifikasi dana Anda ke dalam berbagai jenis reksa dana, seperti reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, dan saham, Anda dapat mengurangi potensi kerugian yang mungkin terjadi akibat penurunan nilai salah satu aset dalam portofolio.
Strategi ini membantu menyebarkan risiko di antara berbagai kelas aset, sehingga fluktuasi pasar yang memengaruhi satu jenis aset tidak langsung memengaruhi keseluruhan portofolio. Dengan demikian, portofolio yang terdiversifikasi akan lebih mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar, meningkatkan peluang untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang Anda.
Sebelum berinvestasi, pastikan untuk membaca prospektus reksa dana yang berisi informasi penting mengenai strategi investasi, biaya, dan risiko terkait. Meskipun reksa dana dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional, tidak ada salahnya untuk secara berkala mengevaluasi kinerja reksa dana yang Anda miliki.
Pastikan untuk membaca laporan kinerja yang diterbitkan secara berkala oleh MI, yang mencakup informasi mengenai imbal hasil, risiko, dan perubahan dalam strategi investasi. Jika kinerja reksa dana tidak memenuhi ekspektasi atau jika ada perubahan signifikan dalam kondisi pasar yang dapat memengaruhi hasil investasi, Anda mungkin perlu melakukan penyesuaian atau switching reksa dana, yaitu proses memindahkan investasi dari satu reksa dana ke reksa dana lainnya tanpa menarik dana ke rekening pribadi.
Fokus pada tujuan investasi Anda atau terapkan pendekatan Life-Cycle Investing, baik itu untuk pensiun, membeli rumah, atau dana pendidikan anak. Setiap tujuan investasi membutuhkan strategi yang berbeda sehingga penting untuk memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan tersebut. Selain mempertimbangkan potensi return, pastikan juga bahwa reksa dana yang dipilih sejalan dengan jangka waktu investasi dan profil risiko Anda.
Jika Anda tertarik untuk berinvestasi dalam reksa dana, Anda dapat melakukannya melalui Makmur, perusahaan wealth technology berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menghadirkan layanan investasi reksa dana dan saham dalam satu platform terpadu. Produk reksa dana dan MI yang tersedia di Makmur telah terkurasi secara profesional untuk memastikan kualitas dan kesesuaian dengan kebutuhan investasi Anda.
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial […]
Key Takeaways: Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal. Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]