makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun, Pemerintah Tegaskan Masih Sesuai Rencana Fiskal

author
Content Management
author
27 Februari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Meskipun defisit APBN pada Januari 2026 mencapai Rp54,6 triliun, pemerintah memastikan bahwa angka tersebut masih terkendali. 
  • Salah satu faktor utama yang menyebabkan defisit adalah lonjakan belanja negara yang mencapai Rp227,3 triliun, meningkat 25,7% secara yoy.
  • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mengalami penurunan signifikan sebesar 20,4% yoy pada Januari 2026.
  • Beban bunga utang yang semakin meningkat juga menjadi salah satu faktor pendorong defisit APBN.

Pada Januari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tercatat mengalami defisit. Berdasarkan pengumuman Kementerian Keuangan pada 23 Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun dan belanja negara sebesar Rp227,3 triliun. Selisih tersebut menghasilkan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara 0,21% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Gambar 1. Realisasi APBN per Januari 2026 vs Januari 2025

Angka pada tabel di atas mencerminkan situasi yang cukup berat di awal tahun fiskal, mengingat defisit tersebut mencapai 0,21% dari PDB yang dibebani oleh peningkatan Belanja Pemerintah Pusat sebesar 53,3% yoy, terutama Belanja K/L (Kementerian/Lembaga) yang melonjak 128,9% yoy. Meskipun demikian, pemerintah menganggap defisit ini masih dalam kondisi yang terkendali dan sesuai dengan desain fiskal yang telah ditetapkan. Lalu, faktor apa yang menjadi pemicu defisit tersebut?

Faktor Penyebab Defisit

Ada tiga faktor yang membebani APBN Januari 2026 dan menyebabkan defisit, di antaranya:

1. Lonjakan belanja negara

Salah satu faktor yang menyebabkan defisit APBN pada Januari 2026 adalah lonjakan belanja negara. Total belanja negara pada bulan Januari 2026 tercatat sebesar Rp227,3 triliun, mengalami kenaikan 25,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan belanja ini terutama disebabkan oleh tingginya alokasi anggaran untuk program pemerintah yang sifatnya mendesak.

Salah satu program yang menyumbang besar pada peningkatan belanja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang mencapai Rp19,5 triliun pada bulan Januari 2026. Program ini bertujuan untuk memperkuat daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Peningkatan belanja untuk program ini menjadi langkah strategis pemerintah di awal tahun untuk menjaga kestabilan sosial dan ekonomi. Meskipun penting, peningkatan belanja yang signifikan ini turut membebani anggaran negara, yang kemudian berujung pada defisit APBN di awal tahun.

2. Penurunan PNBP

Selain lonjakan belanja, faktor yang turut berkontribusi pada defisit APBN adalah penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang mengalami penurunan sebesar 20,4% yoy. PNBP yang terdiri dari berbagai sumber penerimaan selain pajak, seperti pendapatan negara dari sektor sumber daya alam, dividen BUMN, serta pendapatan lainnya.

Salah satu penyebab penurunan PNBP pada Januari 2026 adalah penurunan harga komoditas, khususnya harga minyak mentah internasional (ICP). Pada Januari 2026, harga ICP tercatat hanya sebesar US$64,4 per barel, turun cukup signifikan dibandingkan dengan harga pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$76,8 per barel. Penurunan harga sekitar US$12,4 per barel atau sekitar 16,1% ini berdampak pada pendapatan negara yang berasal dari sektor migas.

Selain itu, turunnya setoran dividen dari BUMN, terutama BUMN perbankan, juga menjadi faktor utama penurunan PNBP. Sejak Februari 2025, pemerintah resmi mengoperasikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dividen dari BUMN, termasuk bank Himbara seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, kini tidak lagi disetorkan langsung ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bawah Kementerian Keuangan.

Dana dividen tersebut kini dikelola oleh Danantara untuk diinvestasikan kembali guna menciptakan nilai tambah atau konsolidasi aset BUMN, bukan lagi digunakan sebagai komponen langsung dalam pendapatan negara untuk menutup belanja rutin. 

3. Beban bunga utang

Beban bunga utang juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan defisit APBN pada Januari 2026. Pemerintah Indonesia merencanakan untuk membayar bunga utang sebesar Rp599,4 triliun sepanjang tahun 2026, meningkat sekitar 13% dibandingkan dengan proyeksi bunga utang tahun 2025 yang sebesar Rp552,9 triliun.

Beban bunga utang yang semakin membengkak menjadi tantangan besar bagi pemerintah pada 2026, terutama dalam menjaga keseimbangan antara belanja produktif dan kewajiban pembayaran bunga. Meskipun pemerintah berupaya untuk menyeimbangkan keduanya, peningkatan pembayaran bunga utang memberi dampak langsung terhadap defisit APBN, terutama pada awal tahun ketika penerimaan negara belum mencapai puncaknya.

Defisit APBN Masih dalam Koridor yang Terkendali

Meskipun defisit APBN pada Januari 2026 terbilang cukup besar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit sebesar Rp54,6 triliun ini masih dalam kondisi yang terkendali dan sesuai dengan desain fiskal yang telah direncanakan untuk tahun 2026. Menurut Purbaya, defisit tersebut masih berada dalam koridor yang diperbolehkan berdasarkan kebijakan fiskal pemerintah.

Pemerintah juga optimis dengan pertumbuhan penerimaan pajak pada Januari 2026. Penerimaan pajak tercatat mengalami kenaikan sebesar 30,7% yoy, yang menunjukkan bahwa sektor ekonomi yang berkontribusi terhadap pendapatan negara memiliki kinerja cukup baik. Jika tren pertumbuhan ini dapat dipertahankan sepanjang tahun, maka target penerimaan pajak tahunan diperkirakan akan tercapai, defisit APBN juga dapat menyusut secara bertahap.

Lonjakan belanja yang terjadi di awal tahun, meskipun memberikan tekanan pada defisit, dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya beli masyarakat, yang diharapkan akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Program tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat.

Pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga defisit APBN agar tetap berada di bawah 3% dari PDB, sesuai dengan amanat undang-undang. Meskipun defisit APBN Januari 2026 cukup signifikan, pemerintah tetap optimis dan menilai bahwa kondisi ini masih sesuai dengan desain fiskal tahun 2026.

Meski defisit APBN Januari 2026 cukup besar, pemerintah menilai masih ada ruang optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan. Meskipun dalam setahun terakhir terjadi penyesuaian tarif PPN menjadi 12%, termasuk pengenaan tarif penuh untuk sejumlah barang kena pajak tertentu, pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 30,7% tetap mencerminkan daya tahan konsumsi domestik yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia di awal 2026.

Kuatnya konsumsi masyarakat meski ada penyesuaian pajak menjadi salah satu tanda bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 dapat tetap tumbuh stabil. Anda bisa membeli reksa pendapatan tetap yang dikelola oleh manajer investasi (MI) yang profesional. Reksa dana pendapatan tetap menawarkan potensi pertumbuhan yang stabil, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Jenis reksa dana ini cocok untuk investor yang mencari potensi imbal hasil dengan risiko moderat.

Terdapat beragam reksa dana pendapatan tetap di Makmur yang bisa Anda pertimbangkan, salah satunya Sucorinvest Bond Fund. Berdasarkan data per 26 Februari 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,04% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.


Pastikan Anda berinvestasi melalui Makmur, perusahaan wealth tech berizin OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang menyediakan platform investasi terpadu untuk reksa dana dan saham. Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan promo Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Ramadan Sering Jadi Momentum Seasonal, Ini Strategi Beli Saham yang Perlu Dipertimbangkan

Key Takeaways: Ramadan merupakan bulan penuh berkah dan menjadi momen yang bermakna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama Ramadan, terjadi perubahan pola konsumsi, sehingga mendorong peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat, karena banyaknya tradisi dan kebutuhan yang perlu dipenuhi selama bulan suci tersebut. Aktivitas ekonomi tersebut mendorong kinerja perusahaan di sektor tertentu. Oleh […]

author
Content Management
calendar
05 Maret 2026
Artikel

Cara Memeriksa Pemegang Saham di Atas 1% dan Mengapa Hal ini Penting bagi Investor

Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara resmi mulai mempublikasikan data kepemilikan saham emiten di atas 1% kepada publik sejak 3 Maret 2026. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 1/KDK.04/2026 yang menetapkan BEI dan KSEI sebagai penyedia data kepemilikan saham perusahaan terbuka bagi publik. […]

author
Content Management
calendar
04 Maret 2026
Artikel

Gejolak Pasar Meningkat Akibat Eskalasi AS‑Iran, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dicermati

Key Takeaways: Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer yang menargetkan pusat pemerintahan dan fasilitas militer di Teheran serta sejumlah provinsi lain di Iran. Pemerintah Iran kemudian mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026 dan di hari yang sama Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan […]

author
Content Management
calendar
03 Maret 2026
Artikel

Saham yang Bagi Dividen Empat Kali Setahun, Apakah Benar Lebih Stabil untuk Investasi Jangka Panjang?

Key Takeaways: Investasi saham adalah salah satu instrumen keuangan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Banyak investor yang mencari saham dengan pembagian dividen yang konsisten sebagai sumber penghasilan pasif. Dividen adalah pembagian laba yang diberikan perusahaan kepada pemegang sahamnya. Namun, tidak semua emiten memberikan dividen dengan frekuensi yang sama.  Di Indonesia, sebagian besar saham blue […]

author
Content Management
calendar
02 Maret 2026
Artikel

Reksa Dana Pasar Uang Terbaik Februari 2026 Berdasarkan Return

Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito berjangka dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi […]

author
Content Management
calendar
28 Februari 2026
Artikel

Reksa Dana Pendapatan Tetap Terbaik Februari 2026 Berdasarkan Return

Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp261,64 triliun per Januari 2026, naik 3,14% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]

author
Content Management
calendar
28 Februari 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0