Dalam dunia investasi, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh investor untuk mengelola aset investasi, di antaranya barbell strategy dan diversifikasi portofolio. Meskipun keduanya bertujuan untuk meminimalkan risiko dan mengoptimalkan potensi return investasi, pendekatan yang digunakan dalam kedua strategi ini cukup berbeda.
Untuk memahami perbedaan barbell strategy dengan diversifikasi portofolio, investor perlu mengetahui terlebih dahulu konsep dasar dari masing-masing strategi. Melalui pemahaman tersebut, investor dapat menilai strategi mana yang lebih sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko.
Di bawah ini merupakan beberapa aspek yang menjadi tolak ukur, dalam membedakan barbell strategy dan diversifikasi portofolio, di antaranya:
Dalam barbell strategy, risiko dikelola dengan cara mengurangi eksposur pada aset investasi dengan risiko “menengah”, seperti obligasi. Sebab, investor melihat investasi layaknya barbell alat olahraga, ada dua sisi di mana satu sisi merupakan investasi yang sangat rendah risiko dan sisi lainnya merupakan aset investasi yang memiliki risiko tinggi.
Di sisi lain, diversifikasi portofolio merupakan pengelolaan risiko investasi dengan cara lebih seimbang. Alih-alih berfokus pada dua sisi seperti barbell strategy, investor mendistribusikan investasi secara merata di berbagai sektor dan kelas aset sesuai dengan tujuan keuangan.
Misalnya, investor meletakkan sebagian dana dalam deposito yang memiliki risiko rendah, lalu sebagian dana dibelikan obligasi yang memiliki risiko menengah, dan sebagian lagi diinvestasikan ke saham yang memiliki risiko tinggi. Dengan kata lain, diversifikasi adalah strategi untuk menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil secara merata.
Barbell strategy bisa tahan terhadap ketidakpastian pasar karena memiliki porsi besar pada aset yang memiliki risiko rendah. Di sisi lain, saat kondisi ekonomi bertumbuh dengan baik, potensi keuntungan dari aset yang berisiko tinggi bisa cukup besar, sehingga memberikan imbal hasil yang maksimal.
Kekurangan dari barbell strategy, ketika pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi, aset dengan risiko tinggi berpotensi mengalami drawdown yang signifikan, yaitu penurunan nilai investasi dalam portofolio.
Sementara itu, diversifikasi portofolio memiliki ketahanan saat terjadi ketidakpastian ekonomi. Dikarenakan alokasi investasi di aset yang memiliki risiko tinggi tidak terlalu banyak, drawdown investasi Anda tidak akan terlalu besar.
Namun kekurangannya, dalam kondisi pasar yang bertumbuh, Anda tidak akan mendapatkan potensi keuntungan maksimal, karena sebagian besar aset dalam portofolio Anda tidak berada pada sisi yang memiliki imbal hasil tinggi.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang kedua strategi ini, mari lihat contoh implementasi dari kedua strategi investasi yang tadi sudah dibahas.
Sebagai contoh penerapan barbell strategy, katakanlah Anda memiliki dana Rp1.000.000.000, lalu menempatkan 50% dari portofolio Anda dalam instrumen yang memiliki risiko rendah seperti deposito. Lalu, 50% lainnya Anda investasikan ke saham. Misalkan terjadi 2 kondisi, pertama pasar sedang bertumbuh dan kedua tidak sesuai harapan, mari kita hitung potensi keuntungan serta kerugiannya.
Rp515.000.000 (Deposito) + Rp575.000.000 (Saham)
= Rp1.090.000.000, naik Rp90.000.000
Rp515.000.000 (Deposito) +Rp425.000.000 (Saham)
= Rp940.000.000, proyeksinya -Rp60.000.000
Disclaimer: Perhitungan di atas hanya proyeksi dan alokasi aset investasi bisa disesuaikan dengan tujuan masing-masing investor.
Dalam diversifikasi portofolio, katakanlah Anda juga memiliki Rp1.000.000.000, lalu mengalokasikan ke beberapa aset investasi, 40% pada deposito, 30% pada obligasi, 30% ke saham. Sama seperti sebelumnya, terjadi 2 kondisi dimana pasar sedang bertumbuh dan kedua tidak sesuai harapan, mari kita hitung potensi keuntungan serta kerugiannya.
Rp412.000.000 (Deposito) + Rp318.000.000 (Obligasi) + Rp345.000.000 (Saham)
= Rp1.075.000.000, proyeksinya bertumbuh Rp75.000.000.
Rp412.000.000 (Deposito) + Rp318.000.000 (Obligasi) + Rp255.000.000 (Saham)
= Rp985.000.000, proyeksinya -Rp15.000.000
Disclaimer: Perhitungan di atas hanya proyeksi dan alokasi aset investasi bisa disesuaikan dengan tujuan masing-masing investor.
Dari implementasi di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun kedua strategi bertujuan untuk mengelola risiko, keduanya memiliki hasil proyeksi keuntungan dan drawdown (potensi kerugian) yang berbeda. Di bawah ini merupakan ringkasan proyeksinya:
| Strategi | Kondisi pasar bertumbuh | Kondisi pasar tidak sesuai harapan |
| Barbell strategy | Rp90.000.000 | -Rp60.000.000 |
| Diversifikasi portofolio | Rp75.000.000 | -Rp15.000.000 |
Terlihat pada tabel di atas, barbell strategy mengalokasikan sebagian dana pada instrumen investasi saham yang memiliki risiko tinggi dan sebagian lainnya pada deposito, sehingga potensi keuntungan besar bisa terjadi saat pasar bertumbuh, namun juga berpotensi memiliki drawdown tinggi jika pasar tidak sesuai harapan.
Sementara itu, diversifikasi portofolio mengalokasikan ke beberapa aset, seperti deposito, obligasi, dan saham, di mana drawdown-nya (potensi kerugian) tidak terlalu besar karena adanya alokasi investasi dengan risiko menengah, yaitu obligasi. Di sisi lain, potensi keuntungannya lebih rendah saat pasar sedang bertumbuh atau sesuai harapan.
Bagaimana? Apakah Anda sudah menentukan dari kedua strategi ini mana yang paling sesuai dengan tujuan investasi dan toleransi risiko? Apabila Anda ingin lebih mudah dalam pengelolaan portofolio investasi, maka reksa dana bisa menjadi pilihan karena manajer investasi (MI) profesional yang akan mengelola dana investasi Anda.
Jika Anda menyukai pendekatan diversifikasi portofolio, maka reksa dana campuran bisa menjadi pilihan yang tepat. Reksa dana ini akan mengalokasikan dana kelolaan maksimal 79% di masing-masing instrumen saham, obligasi, dan pasar uang.
Namun, jika Anda lebih memiliki preferensi pada barbell strategy karena toleran terhadap risiko tinggi, reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang sesuai. Reksa dana ini menempatkan minimal 80% aset kelolaan pada instrumen saham.
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda juga bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Smart September, promo Semua Bisa Makmur dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]