






Loss aversion merupakan bias psikologis di mana seseorang cenderung memiliki rasa sakit yang lebih besar akibat kerugian dibandingkan dengan kebahagiaan yang dirasakan dari keuntungan dengan nilai yang sama. Dalam investasi saham, bias ini bisa sangat merugikan, sehingga berpotensi membuat keputusan yang tidak rasional atau menunda tindakan yang seharusnya segera diambil.
Di bawah ini merupakan dampak loss aversion dalam investasi saham:
Salah satu dampak paling umum dari loss aversion dalam investasi saham adalah menunda keputusan untuk cut loss. Misalnya, investor membeli saham A di harga Rp500, lalu harga saham turun menjadi Rp480. Pada kondisi tersebut, nilai portofolio mengalami kerugian sekitar -4%.
Namun, karena investor tidak memiliki investment plan yang jelas, ia enggan untuk menjual saham tersebut dan berharap harga saham akan kembali naik. Akhirnya, harga saham terus turun hingga mencapai Rp460 dan harus menerima kerugian yang lebih besar, yaitu sekitar -8%.
Penundaan ini biasanya bukan karena pertimbangan rasional, tetapi lebih karena dorongan emosional yang kuat untuk tidak menerima kenyataan bahwa investasi tersebut telah gagal. Keengganan untuk mengakui kesalahan bisa menjadi jebakan psikologis yang mahal harganya, terutama ketika keputusan tidak didukung oleh investment plan sejak awal.
Loss aversion tidak hanya berisiko merugikan investor secara langsung melalui keputusan menunda cut loss, tetapi juga dapat menyebabkan mereka melewatkan peluang lain yang lebih menguntungkan.
Ketika investor terjebak pada saham yang merugi, mereka cenderung terlalu fokus pada saham tersebut dan tidak memperhatikan peluang investasi lain yang lebih berpotensi. Misalnya, seorang investor mengalami kerugian pada saham di sektor perbankan dan terlalu fokus untuk menunggu kenaikan saham tersebut.
Di sisi lain, sektor komoditas emas sedang mengalami kenaikan signifikan akibat sentimen positif pasar. Investor yang terfokus pada sektor perbankan ini bisa saja melewatkan peluang di sektor emas yang berpotensi memberikan keuntungan lebih besar dalam periode tersebut.
Kesulitan dalam menerima kerugian sering kali menghalangi investor untuk melihat peluang baru secara objektif. Investor umumnya terlalu fokus pada “pemulihan” dari kerugian, padahal fokus pada peluang baru sering kali lebih menguntungkan.
Investasi yang dipengaruhi oleh loss aversion sering kali didorong oleh keputusan emosional daripada analisis rasional. Emosi seperti rasa takut, cemas, dan keinginan untuk menghindari kerugian dapat mengaburkan penilaian objektif investor.
Hal ini sering mengarah pada keputusan yang tidak rasional, seperti menjual saham dalam kondisi floating loss hanya karena takut kerugian semakin dalam, atau hold saham yang memiliki fundamental terus merugi tanpa prospek bisnis yang jelas dengan harapan harga akan kembali pulih.
Keputusan emosional ini bisa membuat investor terjebak dalam pola pikir yang merugikan, di mana mereka lebih memilih untuk mempertahankan kerugian daripada menerima kenyataan dan melakukan tindakan rasional untuk mengurangi kerugian tersebut.
Di bawah ini merupakan strategi mengatasi loss aversion saat investasi saham, di antaranya:
Salah satu cara efektif untuk mengatasi loss aversion adalah dengan merencanakan segala sesuatu sejak awal. Sebelum membeli saham, tentukan terlebih dahulu batas kerugian (stop loss) dan target keuntungan (take profit).
Dengan menetapkan investment plan, Anda dapat mengurangi ketergantungan pada keputusan emosional yang timbul di tengah perjalanan investasi. Ketika harga saham mencapai level stop loss atau take profit yang telah ditentukan, Anda dapat dengan lebih mudah menjalankan strategi yang sudah direncanakan tanpa dipengaruhi oleh perasaan pribadi.
Memiliki rencana yang jelas membuat Anda lebih disiplin dalam menjalankan investasi dan menghindari keputusan yang terburu-buru berdasarkan ketakutan akan kerugian. Anda tidak perlu khawatir akan fluktuasi harga saham, karena sudah memiliki rencana yang membuat keputusan lebih objektif dan terarah.
Salah satu cara untuk mengurangi dampak loss aversion adalah dengan mengubah perspektif Anda tentang kerugian dalam investasi. Alih-alih melihat kerugian sebagai kegagalan pribadi, sadari bahwa kerugian adalah risiko yang tak terhindarkan dalam dunia investasi. Semua investor pasti akan mengalami kerugian pada suatu titik, dan hal terpenting adalah bagaimana Anda mengelola risiko dan meminimalkan kerugian tersebut.
Jangan terlalu terfokus pada fluktuasi harian harga saham. Gunakan jangka waktu yang lebih menengah-panjang untuk evaluasi kinerja investasi Anda. Dengan cara ini, perhatian tidak teralihkan oleh kerugian jangka pendek, tetapi lebih fokus pada potensi keuntungan jangka menengah-panjang. Sikap ini membantu investor tetap tenang saat terjadi koreksi sementara dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih rasional.
Menggunakan data yang objektif dan evaluasi rutin terhadap kinerja portofolio Anda juga merupakan langkah penting untuk mengatasi loss aversion. Diversifikasi investasi Anda ke berbagai aset yang berbeda, sehingga Anda tidak terlalu bergantung pada satu saham atau sektor tertentu. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko kerugian besar pada satu saham.
Selain itu, pastikan untuk meninjau portofolio Anda secara rutin, baik secara mingguan maupun bulanan, untuk memastikan bahwa portofolio Anda tetap sesuai dengan rencana investasi yang telah ditentukan. Jangan biarkan bias loss aversion memengaruhi evaluasi portofolio Anda. Fokuslah pada data dan analisis, bukan pada perasaan atau fluktuasi harga jangka pendek.
Loss aversion merupakan bias psikologis yang dapat sangat merugikan bagi investor saham jika tidak dikelola dengan baik. Namun, melalui perencanaan investasi yang terstruktur, mengubah perspektif terhadap kerugian, serta menggunakan data yang objektif dalam evaluasi portofolio, Anda dapat mengurangi dampak dari bias ini dan menjadi investor yang lebih bijak.
Jika Anda merasa tidak memiliki pengalaman untuk mengelola investasi atau portofolio saham secara mandiri, salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan berinvestasi melalui reksa dana saham. Selanjutnya, manajer investasi (MI) profesional akan mengelola dan melakukan diversifikasi portofolio, sehingga dapat membantu Anda mengurangi risiko yang terkait dengan keputusan investasi yang dipengaruhi oleh emosional.
Pastikan Anda berinvestasi reksa dana saham melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada beragam produk reksa dana saham yang bisa Anda pilih, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data per 09 Januari 2026, reksa dana ini bertumbuh sebesar 72,70% dalam 1 tahun terakhir.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January, dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]
Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]
Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]
Key Takeaways: Akuisisi perusahaan merupakan aksi korporasi yang berdampak material terhadap harga saham dan kinerja keuangan pihak-pihak yang terlibat, di mana suatu perusahaan membeli atau mengendalikan perusahaan lain untuk memperluas bisnis atau meningkatkan nilai. Bagi investor yang memiliki saham pada perusahaan pengakuisisi, penting untuk mengevaluasi berbagai aspek untuk memahami implikasi jangka pendek dan jangka panjang dari […]