






Masuk ke bursa melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) selama ini dianggap sebagai pilihan bagi perusahaan yang ingin memperoleh pendanaan publik dan meningkatkan kredibilitas. Namun, dalam praktiknya, tidak semua perusahaan memilih jalur tersebut. Terdapat beberapa perusahaan yang menempuh jalur backdoor listing sebagai alternatif. Melalui mekanisme ini, perusahaan dapat menjadi emiten tanpa melalui proses penawaran umum perdana saham. Bagaimana caranya? Mari kita bahas secara detail.
Secara sederhana, backdoor listing adalah proses masuknya sebuah perusahaan ke bursa dengan cara mengambil alih perusahaan yang telah tercatat atau sudah terbuka. Di Indonesia, praktik ini tidak dilarang, selama tetap mematuhi ketentuan yang berlaku. Regulasi yang mengaturnya antara lain POJK No. 9/POJK.04/2018 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka, POJK No. 74/POJK.04/2016 tentang merger dan konsolidasi, serta Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Dengan kerangka hukum tersebut, backdoor listing diposisikan sebagai aksi korporasi yang sah, bukan jalan pintas yang menghindari aturan. Salah satu contoh perusahaan yang pernah melakukan backdoor listing adalah PT Asia Investment Capital (AIC) dengan mengakuisisi PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) pada 24 Oktober 2025.
Tidak semua perusahaan berada dalam posisi ideal untuk melantai di bursa melalui IPO. Regulasi yang panjang, kebutuhan ketahanan keuangan, serta pertimbangan prospek jangka panjang membuat jalur IPO kerap sulit ditempuh. Dalam situasi tersebut, backdoor listing menjadi solusi yang lebih cepat dan fleksibel untuk menjawab kebutuhan permodalan dan ekspansi bisnis. Berikut sejumlah alasan strategis yang mendorong perusahaan memilih jalur ini.
Proses IPO umumnya memakan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun, mulai dari persiapan laporan keuangan, due diligence, hingga penawaran kepada publik. Sebaliknya, backdoor listing memungkinkan perusahaan memperoleh status emiten dalam waktu relatif lebih singkat karena struktur perusahaan terbuka sudah tersedia. Fokusnya hanya pada proses akuisisi dan pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi.
Dalam konteks AIC, pengambilalihan SOFA menjadi sarana untuk memperoleh status emiten dalam waktu yang lebih efisien dibandingkan menempuh IPO. Langkah ini selaras dengan rencana ekspansi ke sektor waste-to-energy yang sedang didorong oleh kebijakan pemerintah.
Sambil menunggu studi kelayakan bisnis baru, lini usaha SOFA tetap dijalankan agar operasional tidak terhenti. Manajemen juga menegaskan komitmennya tidak melakukan go private atau delisting, serta melaksanakan tender wajib sesuai regulasi.
Dengan demikian, efisiensi waktu menjadi salah satu keunggulan perusahaan melakukan backdoor listing, terutama bagi perusahaan yang ingin segera menangkap peluang bisnis. Dari sisi perspektif, kecepatan ini membuka jalan menuju aspek berikutnya, yaitu fleksibilitas valuasi.
Dalam IPO, valuasi perusahaan bisa dipengaruhi oleh mekanisme bookbuilding dan sentimen pasar pada saat penawaran. Kondisi pasar yang kurang kondusif, valuasi berpotensi tertekan, meskipun fundamental perusahaan tergolong solid. Sebaliknya, backdoor listing menawarkan pendekatan berbeda karena valuasi ditentukan melalui negosiasi langsung antara pihak pengakuisisi dan pemegang saham pengendali perusahaan terbuka.
Pada transaksi SOFA, AIC mengakuisisi sekitar 1,2 miliar lembar saham dengan harga Rp21 per saham, jauh di bawah harga pasar saat itu yang berada di kisaran Rp256. Selisih ini mencerminkan fleksibilitas penentuan nilai transaksi, dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan yang akan diakuisisi, prospek transformasi bisnis, serta risiko pasar yang akan ditanggung oleh perusahaan yang melakukan backdoor listing.
Status sebagai perusahaan terbuka memberikan akses langsung ke berbagai instrumen pendanaan, seperti rights issue, obligasi, atau aksi korporasi lainnya. Bagi perusahaan yang membutuhkan modal dalam waktu relatif singkat, backdoor listing memberikan jalur yang lebih cepat dibandingkan IPO.
Dalam kasus SOFA, pasca akuisisi, AIC secara otomatis memperoleh status sebagai pengendali perusahaan atau pemegang saham mayoritas. Dengan demikian, perseroan memiliki fleksibilitas untuk mengakses pendanaan melalui pasar modal tanpa harus menunggu proses pencatatan saham baru. Akses ini menjadi krusial untuk mendukung rencana pengembangan bisnis ke sektor waste-to-energy.
Dengan demikian, backdoor listing tidak hanya mempercepat masuk ke bursa, tetapi juga mempercepat akses ke beragam sumber pendanaan selain IPO. Hal ini berkaitan erat dengan tujuan restrukturisasi dan ekspansi bisnis jangka menengah hingga panjang.
Bagi perusahaan yang ingin mengubah arah bisnis atau melakukan restrukturisasi besar, menjadi perusahaan publik memberikan nilai tambah dari sisi visibilitas dan pendanaan. Backdoor listing memungkinkan transformasi tersebut dilakukan tanpa harus memulai dari nol. Sebagai contoh, setelah menjadi perusahaan terbuka, AIC dapat segera menjalankan rencana transformasi bisnis SOFA menuju sektor energi terbarukan melalui anak usaha PT Pratama Satya Prima.
Fokus pada pengolahan sampah menjadi energi mencerminkan strategi ekspansi ke sektor yang memiliki dukungan regulasi dan prospek jangka panjang. Sehingga, backdoor listing berfungsi sebagai sarana percepatan transformasi bisnis. Namun, efektivitas strategi ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi valuasi perusahaan target.
Salah satu daya tarik utama backdoor listing adalah peluang memanfaatkan perusahaan publik yang valuasinya relatif rendah. Kondisi ini memungkinkan pengendali baru memperoleh kendali mayoritas dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan membangun entitas publik dari awal. Berikut ini adalah rincian mengapa AIC memilih SOFA dalam rencana backdoor listing yang dilakukan.
Dalam kasus SOFA, sebelum pengumuman akuisisi pada Oktober 2025, harga saham berada di level sekitar Rp43 per saham pada awal tahun 2025. Kondisi ini memungkinkan PT Asia Investment Capital mengambil alih 70,96% saham dengan biaya perolehan yang relatif rendah.
Setelah rencana masuknya AIC diumumkan, pasar merespons positif dengan lonjakan harga saham hingga 145% dalam waktu kurang dari empat bulan. Harga saham SOFA sehari sebelum backdoor listing pada 23 Oktober 2025 berada di kisaran Rp234, lalu pada 8 Januari 2026 harga sahamnya sempat menembus level di atas Rp575.
Pergerakan harga tersebut menunjukkan adanya selisih nilai yang signifikan antara harga perolehan pengendali baru dan potensi nilai perusahaan setelah transformasi bisnis. Bagi investor, hal ini mencerminkan proses revaluasi oleh pasar terhadap prospek perusahaan pasca perubahan pengendalian.
Backdoor listing merupakan strategi korporasi yang sah dan semakin relevan di tengah dinamika pasar modal. Dibandingkan IPO, jalur ini menawarkan efisiensi waktu, fleksibilitas valuasi, akses cepat ke pendanaan, serta ruang untuk restrukturisasi dan ekspansi bisnis. Studi kasus AIC dan SOFA menunjukkan bagaimana backdoor listing dapat menjadi katalis transformasi bisnis sekaligus menciptakan revaluasi di mata pasar. Namun, keberhasilan strategi ini tetap bergantung pada kualitas eksekusi, transparansi manajemen, serta kemampuan perusahaan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Fenomena backdoor listing menunjukkan bahwa strategi akuisisi perusahaan terbuka selalu didasarkan pada kriteria tertentu. Sekarang, strategi serupa juga relevan bagi manajer investasi (MI) dalam menyeleksi saham dari perusahaan yang memiliki valuasi menarik dan prospek peningkatan nilai.
Salah satu produk reksa dana saham yang tersedia di Makmur adalah Sucorinvest Maxi Fund, per 06 Februari 2026, reksa dana ini mencatatkan kinerja positif sebesar 68,58% dalam satu tahun terakhir. Melalui pengelolaan oleh MI yang berpengalaman, kebijakan investasi dijalankan secara disiplin dengan tetap mematuhi ketentuan OJK serta berfokus pada optimalisasi imbal hasil jangka panjang melalui pemanfaatan peluang di pasar modal Indonesia.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan […]
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]
Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]
Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]
Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]
Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]