






Investasi saham adalah salah satu instrumen keuangan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Banyak investor yang mencari saham dengan pembagian dividen yang konsisten sebagai sumber penghasilan pasif. Dividen adalah pembagian laba yang diberikan perusahaan kepada pemegang sahamnya. Namun, tidak semua emiten memberikan dividen dengan frekuensi yang sama.
Di Indonesia, sebagian besar saham blue chip seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), atau PT Astra International Tbk (ASII) biasanya membagikan dividen dua kali dalam setahun. Meski demikian, ada beberapa emiten yang membagikan dividen hingga empat kali dalam setahun atau yang dikenal dengan istilah dividen kuartalan.
Secara umum, ada dua jenis dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya, yaitu dividen interim dan dividen final. Dividen interim adalah dividen yang dibagikan sebelum adanya rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), biasanya berdasarkan kinerja keuangan sementara dalam tahun buku berjalan.
Sementara itu, dividen final dibagikan setelah RUPST sebagai bentuk distribusi laba bersih untuk menutup tahun buku yang bersangkutan. Sebagai contoh, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) pada tahun 2022 dan 2024 telah membagikan dividen empat kali dalam satu tahun. Berikut adalah beberapa contoh jadwal pembayaran dividen yang dilakukan oleh GEMS:
Tabel 1. Dividen PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) 2022 & 2024

Sumber: Investing
Walaupun GEMS merupakan contoh emiten yang membagikan dividen empat kali dalam setahun, jumlah perusahaan di Indonesia yang menerapkan kebijakan serupa relatif terbatas. Sebagian besar perusahaan besar lebih memilih untuk memberikan dividen dua kali dalam setahun. Sebagai informasi, pembagian dividen yang agresif tersebut terjadi saat harga batu bara global berada di level tinggi.
Pembagian dividen bukan satu-satunya indikator untuk menilai kualitas suatu perusahaan, terlebih jika hanya melihat frekuensinya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti prospek industri, kinerja arus kas, hingga pergerakan harga saham yang dapat memengaruhi nilai portofolio meskipun investor menerima dividen.
Ada beberapa alasan mengapa frekuensi pembagian dividen empat kali dalam setahun tidak menjamin stabilitas jangka panjang emiten, di antaranya:
Salah satu hal yang sering menjadi pertimbangan investor dalam memilih saham adalah dividen. Meskipun dividen menjadi salah satu indikator yang baik dalam menilai profitabilitas perusahaan, namun frekuensi pembagian dividen tidak selalu mencerminkan stabilitas jangka panjang perusahaan. Stabilitas jangka panjang tetap harus dinilai dari kinerja fundamental, seperti pertumbuhan pendapatan, laba bersih, kualitas manajemen, dan posisi pasar yang kompetitif.
Sebuah perusahaan yang membagikan dividen cukup sering namun tidak memiliki kinerja yang baik dari sisi keuangan atau menghadapi tantangan pasar yang besar, tidak bisa dianggap sebagai pilihan investasi yang stabil. Oleh karena itu, penting bagi investor untuk melihat lebih dalam pada faktor fundamental yang mendasari keputusan pembagian dividen.
Saham yang membagikan dividen empat kali setahun di Indonesia, seperti GEMS, umumnya bergerak di sektor komoditas. Misalnya, GEMS bergerak di industri batu bara, yang sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.
Harga batu bara dapat sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah, harga minyak dunia, atau permintaan dari negara besar seperti China dan India. Fluktuasi harga komoditas ini sering kali menyebabkan pendapatan perusahaan menjadi sangat tidak stabil.
Meskipun perusahaan membagikan dividen secara teratur, nilai dividen yang dibagikan bisa berubah secara signifikan tergantung pada kondisi pasar. Hal ini membuat dividen yang dibagikan oleh perusahaan komoditas tidak selalu dapat dijadikan patokan untuk stabilitas jangka panjang.
Sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, perusahaan perlu menyisihkan sebagian laba untuk investasi strategis seperti penelitian dan pengembangan (research and development), akuisisi, serta ekspansi usaha. Jika sebagian besar laba dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan akan memiliki lebih sedikit dana yang tersedia untuk kegiatan tersebut.
Pembagian dividen yang terlalu besar dan sering, seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang membagikan dividen empat kali setahun, dapat membatasi kemampuan perusahaan untuk mengalokasikan dana bagi ekspansi atau proyek yang dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Dividen yang dibagikan tanpa mempertimbangkan kebutuhan modal kerja dan ekspansi berisiko mengurangi daya saing perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, meskipun pembagian dividen yang sering dapat memberikan keuntungan jangka pendek bagi investor, hal itu belum tentu mencerminkan kemampuan perusahaan untuk bertumbuh dan beradaptasi di masa depan.
Meskipun saham yang membagikan dividen empat kali setahun terlihat menarik bagi investor yang mencari penghasilan pasif secara rutin, frekuensi pembagian dividen bukanlah jaminan stabilitas investasi jangka panjang. Faktor yang lebih penting untuk menilai stabilitas jangka panjang sebuah perusahaan adalah kinerja fundamentalnya, yang meliputi pertumbuhan laba, posisi pasar, dan kebijakan manajerial yang efektif.
Selain itu, sektor saham juga memengaruhi kestabilan pendapatan dan dividen yang dapat dibagikan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham yang membagikan dividen empat kali setahun, investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dengan seksama dan tidak hanya berfokus pada frekuensi dividen semata. Stabilitas perusahaan dan potensi pertumbuhannya adalah aspek yang lebih penting dalam menentukan keputusan investasi jangka panjang.
Bagi investor yang ingin mendapatkan potensi pertumbuhan jangka panjang tanpa perlu memilih saham satu per satu, reksa dana saham dapat menjadi alternatif. Manajer investasi (MI) yang berpengalaman akan mengelola portofolio dengan memilih saham dengan potensi pertumbuhan yang stabil dalam jangka panjang. Dividen yang diperoleh dari emiten akan dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi (MI). Selanjutnya, MI dapat mendistribusikan dividen kepada investor dalam bentuk tunai, penambahan unit penyertaan, atau melalui mekanisme reinvestasi.
Terdapat beragam produk reksa dana saham yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya adalah Sucorinvest Equity Fund Kelas A. Berdasarkan data per 27 Februari 2026, reksa dana tersebut memiliki kinerja yang solid, bertumbuh 13,31% dalam 3 bulan terakhir, bertumbuh 41,13% dalam 1 tahun terakhir. Kinerja tersebut mencerminkan stabilitas dan pertumbuhan yang baik dari Sucorinvest Equity Fund Kelas A.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito berjangka dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp261,64 triliun per Januari 2026, naik 3,14% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak fluktuatif pada Februari 2026 di tengah pembaruan pandangan lembaga pemeringkat terhadap posisi fiskal Indonesia. Moody’s merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara S&P Global Ratings menyoroti meningkatnya tekanan fiskal, khususnya rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara yang berpotensi melampaui ambang 15%. Jika tekanan tersebut berlanjut, hal ini dapat […]
Key Takeaways: Pada Januari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tercatat mengalami defisit. Berdasarkan pengumuman Kementerian Keuangan pada 23 Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun dan belanja negara sebesar Rp227,3 triliun. Selisih tersebut menghasilkan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara 0,21% terhadap produk domestik bruto (PDB). Gambar 1. Realisasi APBN per Januari […]