






Reverse stock atau penggabungan saham merupakan tindakan perusahaan untuk mengurangi jumlah saham beredar di pasar dengan cara menggabungkan sejumlah saham yang beredar menjadi satu saham baru.
Pada umumnya, reverse stock sering dilakukan oleh perusahaan yang memiliki harga saham yang sangat rendah. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan harga saham per lembar, sehingga terlihat lebih stabil dan menarik bagi investor. Namun, meskipun tampak sebagai langkah perbaikan, banyak yang mempertanyakan apakah reverse stock benar-benar mencerminkan perbaikan fundamental perusahaan atau justru menjadi indikasi masalah keuangan? Untuk mengetahuinya, mari bahas lebih lanjut.
Reverse stock bisa menjadi indikasi adanya tekanan pada kondisi fundamental emiten, terutama apabila tujuan dari aksi korporasi ini untuk menarik minat investor, namun tidak diikuti oleh fundamental perusahaan yang sejalan. Berikut adalah alasan perusahaan melakukan reverse stock.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar tetap terdaftar di bursa. Salah satu kriteria utama yang menjadi perhatian adalah harga saham perusahaan. Menurut aturan yang berlaku, emiten yang harga sahamnya jatuh di bawah batas tertentu dalam jangka waktu tertentu berisiko untuk dihapuskan atau delisting dari bursa.
Batas harga saham yang menjadi acuan untuk risiko delisting di BEI umumnya adalah apabila harga saham perusahaan jatuh di bawah Rp50 per saham selama 24 bulan berturut-turut. Jika harga saham perusahaan tidak mampu pulih dan terus berada di bawah level tersebut dalam periode waktu yang ditentukan, maka perusahaan tersebut akan terancam mengalami delisting, yang berarti sahamnya akan dikeluarkan dari daftar perusahaan yang terdaftar di BEI.
Selain harga saham, faktor lain yang memengaruhi keputusan delisting meliputi ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban laporan keuangan yang diharuskan oleh BEI, atau jika perusahaan mengalami kebangkrutan atau restrukturisasi yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk beroperasi sesuai standar yang ditetapkan oleh bursa.
Oleh karena itu, untuk menghindari risiko delisting, perusahaan perlu menjaga harga sahamnya agar tetap di atas batas yang ditetapkan serta memenuhi kewajiban administratif dan operasional lainnya. Salah satu strategi yang sering digunakan oleh perusahaan untuk mempertahankan harga sahamnya adalah dengan melakukan reverse stock, yang dapat meningkatkan harga saham nominal tanpa mengubah nilai total saham yang beredar.
Reverse stock dapat menjadi indikator penurunan kepercayaan pasar terhadap fundamental suatu perusahaan. Ketika sebuah perusahaan melaksanakan reverse stock, sering kali ada persepsi negatif di kalangan investor bahwa perusahaan tersebut menghadapi kesulitan keuangan yang serius. Aksi ini dilakukan ketika harga saham perusahaan telah jatuh ke level yang sangat rendah, sehingga perusahaan merasa perlu melakukan reverse stock untuk meningkatkan harga saham dan memperbaiki citranya di pasar.
Namun, langkah ini tidak selalu mencerminkan perbaikan fundamental perusahaan. Dalam banyak kasus, reverse stock terjadi setelah perusahaan mengalami penurunan kinerja atau harga saham yang tertekan akibat masalah internal seperti kerugian yang berlarut-larut, manajemen yang buruk, atau masalah likuiditas.
Sebagai contoh, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan aksi reverse stock pada 31 Mei 2018 dengan rasio 10:1, yang berarti 10 saham lama ditukar dengan 1 saham baru. Sebelum aksi ini, harga saham BNBR berada pada level sekitar Rp50, dan setelah reverse stock, harga saham menyesuaikan secara mekanis ke kisaran Rp500. Namun, meskipun harga saham BNBR sempat naik setelah reverse stock, namun kemudian pada 5 Oktober 2018 kembali terkoreksi, yaitu sekitar Rp50 per saham.
Hal ini menunjukkan bahwa reverse stock tidak selalu mencerminkan perbaikan fundamental perusahaan.
Keadaan ini menunjukkan bahwa meskipun perusahaan bisa mendapatkan keuntungan jangka pendek dalam hal harga saham yang lebih tinggi, reverse stock tidak secara langsung memperbaiki kinerja keuangan atau meningkatkan potensi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Masalah fundamental seperti ketidakmampuan dalam menghasilkan laba yang konsisten atau masalah likuiditas tidak dapat diatasi hanya dengan langkah reverse stock.
Selain itu, reverse stock juga kerap dilakukan oleh perusahaan yang mengalami penurunan kinerja keuangan, seperti kerugian beruntun atau penurunan laba yang signifikan. Kondisi ini biasanya berdampak pada penurunan harga saham dan menurunnya minat investor.
Dalam konteks ini, reverse stock lebih berfungsi sebagai penyesuaian struktur saham secara teknis, bukan sebagai solusi atas permasalahan fundamental. Perbaikan kinerja tetap bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan profitabilitas, menjaga likuiditas, serta memperbaiki struktur permodalan.
Oleh karena itu, investor perlu mencermati bahwa kenaikan harga saham pasca reverse stock tidak selalu mencerminkan perbaikan kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Sebaliknya, reverse stock juga dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menarik investor.
Saham yang diperdagangkan pada harga yang sangat rendah sering kali kurang menarik bagi investor institusi, yang biasanya lebih memilih saham dengan harga yang lebih tinggi dan stabil. Investor institusi, seperti dana pensiun, reksa dana, dan perusahaan asuransi, sering kali memiliki kebijakan internal yang membatasi pembelian saham berdasarkan harga saham minimum.
Mereka cenderung berinvestasi pada saham dengan harga yang lebih tinggi karena saham tersebut dianggap lebih stabil dan memiliki likuiditas yang lebih baik. Sebaliknya, saham dengan harga terlalu rendah dapat dipandang berisiko lebih tinggi dan kurang likuid, yang pada gilirannya dapat menghalangi minat investor institusi.
Contohnya pada emiten PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV), setelah reverse stock dengan rasio 2:1 dilakukan pada 21 Oktober 2024, harga saham NETV yang awalnya berada pada kisaran Rp154 per saham, mengalami lonjakan yang signifikan menjadi Rp218 per saham pada 23 Januari 2025. Kenaikan sebesar 41,56% dalam waktu sekitar tiga bulan ini, mencerminkan respons pasar terhadap aksi tersebut.
Peningkatan harga saham ini juga menunjukkan bahwa langkah restrukturisasi modal yang dilakukan NETV untuk memperbaiki ekuitas perusahaan dan mempersiapkan diri menghadapi private placement serta akuisisi oleh PT MD Entertainment Tbk (FILM), mengindikasikan respons pasar yang positif terhadap aksi tersebut.
Reverse stock dapat menjadi langkah strategis untuk menciptakan efisiensi dalam struktur permodalan perusahaan. Banyak perusahaan yang telah mengalami fase pertumbuhan yang pesat mungkin menemukan bahwa jumlah saham yang beredar menjadi terlalu banyak, yang menyebabkan terfragmentasinya struktur saham.
Dalam kondisi seperti ini, harga saham bisa menjadi tidak stabil, dan likuiditas pasar bisa menurun karena banyaknya saham yang diperdagangkan dalam jumlah kecil. Selain itu, struktur saham yang terlalu terfragmentasi sering kali menyebabkan harga saham yang lebih rendah dan lebih rentan terhadap fluktuasi besar.
Salah satu contoh nyata dari penerapan reverse stock untuk efisiensi struktur permodalan adalah yang dilakukan oleh PT Net Visi Media Tbk (NETV). Pada 21 Oktober 2024, perusahaan ini melaksanakan reverse stock dengan rasio 2:1, di mana setiap dua saham lama dikonversi menjadi satu saham baru. Sebelum reverse stock, harga saham NETV pada 21 Oktober 2024 adalah Rp154 per saham. Setelah melakukan langkah ini, perusahaan berhasil meningkatkan harga sahamnya dan memberikan tampilan yang lebih menarik bagi investor.
Langkah reverse stock ini juga merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperbaiki struktur ekuitas mereka dalam rangka persiapan untuk private placement dan akuisisi yang direncanakan oleh PT MD Entertainment Tbk (FILM). Dengan mengurangi jumlah saham yang beredar, perusahaan berharap dapat memperkuat posisi keuangannya dan memastikan bahwa struktur modal lebih sehat dan terorganisir saat proses akuisisi berlangsung.
Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memiliki landasan yang lebih solid ketika melakukan tindakan korporasi yang lebih besar, seperti akuisisi atau merger, serta meningkatkan kepercayaan pasar terhadap prospek jangka panjang.
Perusahaan yang tengah merencanakan aksi korporasi strategis seperti merger, akuisisi, atau spin-off mungkin juga melakukan reverse stock sebagai bagian dari persiapan. Dengan meningkatkan harga saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar, perusahaan bisa memperbaiki persepsi pasar dan mempersiapkan diri untuk aksi korporasi besar yang membutuhkan dukungan pasar yang kuat. Dalam hal ini, reverse stock bukan hanya langkah untuk meningkatkan harga saham, tetapi juga sebagai persiapan untuk langkah besar yang lebih menguntungkan di masa depan.
Reverse stock adalah langkah yang diambil oleh perusahaan untuk mengubah jumlah saham yang beredar tanpa memengaruhi nilai total kapitalisasi pasar. Meskipun langkah ini dapat mengindikasikan perbaikan di bidang strategi perusahaan, seperti restrukturisasi modal atau upaya menarik investor institusi, hal ini juga bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan sedang menghadapi masalah keuangan, seperti penurunan harga saham akibat kinerja yang buruk. Oleh karena itu, sebagai investor, Anda perlu lebih teliti dalam menilai tujuan dan dampak dari reverse stock yang dilakukan oleh perusahaan.
Reverse stock bisa menjadi sinyal perbaikan atau justru masalah yang lebih dalam, tergantung pada konteks dan tujuan perusahaan yang melaksanakannya. Sebagai investor, sangat penting untuk melakukan analisis fundamental secara mendalam terhadap perusahaan yang melakukan reverse stock dan melihat apakah langkah ini merupakan strategi untuk memperbaiki kinerja jangka panjang atau hanya langkah sementara untuk mengatasi masalah harga saham.
Namun, apabila Anda tidak memiliki waktu untuk memantau aksi korporasi reverse stock dan melakukan analisis, pertimbangkan untuk investasi di reksa dana saham. Manajer investasi (MI) akan mengelola portofolio Anda secara cermat dan melakukan pembelian saham secara selektif, mengidentifikasi peluang investasi yang berpotensi memberikan potensi imbal hasil yang optimal dengan mempertimbangkan profil risiko dan kondisi fundamental perusahaan.
Ada beragam reksa dana saham di Makmur yang bisa Anda pilih, salah satunya adalah TRIM Syariah Saham. Berdasarkan data per 26 Maret 2026, reksa dana tersebut memiliki pertumbuhan yang luar biasa, sebesar 48,96% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial […]
Key Takeaways: Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal. Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]