






Salah satu pendekatan yang cukup populer di kalangan investor adalah dengan menggunakan pendekatan analisis fundamental. Analisis ini salah satunya dapat digunakan digunakan untuk menemukan saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, atau yang sering disebut saham undervalue.
Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai valuasi saham adalah Price Earning Ratio (PER). PER mengukur seberapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap unit laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Meskipun terlihat sederhana, kita perlu memahami kita perlu memahami PER dengan melihat konteksnya secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk menghasilkan keputusan investasi yang tepat.
Untuk itu, berikut beberapa beberapa tips yang dapat membantu Anda menemukan saham yang undervalue menggunakan PER yang baik.
PER yang rendah pada satu sektor belum tentu menandakan bahwa saham tersebut undervalue jika dibandingkan dengan sektor lainnya, karena setiap sektor memiliki karakteristik risiko dan pertumbuhan yang berbeda, sehingga standar valuasi yang ideal pun bisa bervariasi. Selain itu, PER tidak selalu cocok digunakan untuk menilai semua jenis perusahaan.
Contohnya, perusahaan di sektor infrastruktur, properti, atau pembiayaan umumnya memiliki struktur utang besar, yang menimbulkan beban bunga tinggi dan menekan laba bersih. Akibatnya, rasio PER dapat terlihat tinggi dan kurang mencerminkan valuasi yang sebenarnya. Karena itu, PER sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan dalam menilai perusahaan.
Cara Menghitung Price Earning Ratio (PER)
Sebelum melanjutkan tips menemukan saham yang undervalue dengan Price Earning Ratio, ada baiknya untuk mengetahui tentang cara menghitung Price Earning Ratio. Berikut adalah rumus perhitungannya:
| PER = Harga Saham / Laba Bersih per Saham (EPS) |
Sebagai contoh, jika harga saham sebuah perusahaan adalah Rp5.000 dan laba bersih per saham (EPS) perusahaan tersebut adalah Rp500, maka:
Artinya, investor membayar Rp10 untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Semakin rendah nilai PER (dengan asumsi laba stabil), maka semakin “murah” harga sahamnya. Namun, penting untuk menafsirkan hasil PER ini dalam konteks yang tepat.
Perlu diingat juga, saat menghitung Price Earning Ratio, Anda harus menghitung laba bersih per saham (EPS) terlebih dahulu.
Sebaiknya, Anda tidak hanya mengandalkan PER dalam menilai valuasi saham. PER memberikan gambaran yang baik tentang harga relatif terhadap laba perusahaan, namun rasio keuangan lainnya seperti Price to Book Value (PBV), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return on Equity (ROE) perlu diperhitungkan untuk memberikan analisis yang lebih menyeluruh. Menggabungkan PER dengan rasio-rasio lain akan membantu Anda menghindari jebakan saham yang terlihat murah namun memiliki fundamental yang lemah.
Selain PER, rasio Price/Earnings to Growth (PEG) juga sangat berguna dalam menemukan saham undervalue. Rasio ini memasukkan faktor pertumbuhan laba perusahaan. Untuk menghitung PEG, Anda cukup membagi PER dengan tingkat pertumbuhan laba tahunan perusahaan.
Saham dengan PER rendah belum tentu layak disebut undervalue jika perusahaan tersebut tidak menunjukkan kinerja yang stabil. Oleh karena itu, penting untuk melihat tren laba bersih dan arus kas operasional perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Perusahaan dengan laba yang konsisten dan arus kas yang sehat cenderung lebih dapat diandalkan dalam jangka panjang. Jika laba bersih meningkat namun diikuti dengan arus kas yang tidak stabil atau negatif, maka hal ini bisa menandakan adanya masalah dalam perusahaan.
Kondisi eksternal dapat mempengaruhi PER sebuah perusahaan. Misalnya, sentimen negatif pasar atau gejolak ekonomi global dapat menyebabkan harga saham turun sementara, meskipun fundamental perusahaan tetap solid.
Hal ini bisa memberikan peluang bagi Anda untuk membeli saham yang undervalue. Namun, Anda perlu menganalisis apakah penurunan harga saham tersebut disebabkan oleh faktor eksternal yang sementara atau apakah ada masalah fundamental di dalam perusahaan yang membuat harga sahamnya jatuh.
Anda dapat menggunakan alat screening saham di suatu platform untuk mempermudah pencarian saham undervalue. Anda bisa memfilter saham berdasarkan PER, PBV, ROE, dan rasio keuangan lainnya sesuai dengan kriteria yang Anda tentukan.
Alat screening saham ini bisa menjadi langkah awal yang efektif dan mempersingkat waktu dalam memilah pilihan saham yang perlu dianalisis lebih mendalam. Setelah mendapatkan beberapa pilihan, Anda bisa melakukan analisis fundamental lebih lanjut untuk memastikan kualitas saham yang Anda pilih.
Salah satu cara untuk menilai apakah saham tersebut undervalue adalah dengan memperhatikan fluktuasi PER dari waktu ke waktu. Jika PER sebuah saham cenderung rendah dalam jangka panjang tetapi perusahaan tersebut menunjukkan kinerja yang baik dan stabil, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa saham tersebut undervalue.
Menemukan saham undervalue dengan PER yang menarik tentunya butuh pemahaman yang tidak hanya terbatas pada angka-angka rasio keuangan. Sebab, menemukan saham yang undervalue juga harus memperhatikan konteks industri, kualitas manajemen, serta faktor eksternal yang mempengaruhi pasar.
Selain membeli saham langsung, Anda juga bisa investasi saham melalui reksa dana saham. Reksa dana saham adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan minimal 80% dari portofolionya ke dalam saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Salah satu Reksa Dana Saham di Makmur berdasarkan data per 24 Juni 2025 adalah Bahana Icon Syariah Kelas G. Reksa Dana ini memberikan return 18,35% dalam satu tahun terakhir.
*Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Invest dan Promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus […]
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]
Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]
Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]