






Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal.
Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh peran manajer investasi (MI) yang melakukan pengelolaan portofolio secara profesional, sehingga investor tidak perlu terlibat dalam pengambilan keputusan.
Namun, potensi mengalami posisi negatif (floating loss) ketika berinvestasi reksa dana, khususnya reksa dana saham tidak bisa dihindari. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 19,19%, namun pada periode 2 Januari – 9 April 2025 di mana IHSG sempat terkoreksi hingga -16,7% dengan titik terendah mencapai level 5.967 dari kisaran 7.164.
Tekanan pasar ini berdampak langsung pada kinerja reksa dana, salah satunya reksa dana saham. Koreksi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi eksternal, yang dipicu oleh momen signifikan seperti pengumuman “Liberation Day” oleh Donald Trump.
Perlu diketahui, ada beberapa jenis reksa dana dengan karakter yang berbeda, sehingga tidak semua jenis reksa dana memiliki korelasi dengan fluktuasi IHSG. Di bawah ini merupakan penjelasan detailnya:
Reksa dana ini cenderung stabil karena sebagian besar dana kelolaan diinvestasikan pada instrumen pasar uang dan obligasi jangka pendek. Sebagai contoh, Mandiri Investa Pasar Uang 2 mencatatkan kenaikan NAB dari Rp1.255,53 pada 2 Januari 2025 menjadi Rp1.264,70 pada 8 April 2025, atau meningkat sekitar 0,73% dengan alokasi 99,09% pada aset pasar uang.
Meskipun tidak ada kenaikan yang signifikan, namun hasil ini menegaskan bahwa reksa dana pasar uang tidak terlalu terpengaruh oleh koreksi IHSG pada saat itu, sehingga tetap menjadi pilihan yang cocok bagi investor yang mementingkan stabilitas modal dan likuiditas ketika kondisi pasar yang bergejolak.
Reksa dana jenis ini cenderung tidak berkorelasi langsung dengan pergerakan IHSG karena minimal 80% aset dialokasikan pada surat utang. Kinerjanya lebih dipengaruhi oleh pergerakan yield obligasi dan suku bunga. Sebagai contoh, KIM Fixed Income Fund Plus mencatatkan kenaikan NAB dari Rp1.069,78 pada 2 Januari 2025 menjadi Rp1.089,32 pada 8 April 2025, atau naik sekitar 1,83%, sehingga mencerminkan kinerja yang relatif stabil dengan risiko yang lebih terkendali.
Reksa dana campuran memiliki korelasi dengan pasar saham. Hal ini terjadi karena reksa dana campuran mengalokasikan secara proporsional asetnya ke instrumen pasar uang, obligasi, dan saham maksimal 79% pada salah satu asetnya.
Sebagai contoh, reksa dana campuran Sucorinvest Anak Pintar memiliki kinerja yang terdampak dari koreksi IHSG. Reksa dana ini mengalami penurunan dari Rp2.921,59 di Januari 2025 menjadi Rp2.641,77 di awal April 2025 atau turun sekitar 9,6%. Penurunan NAB ini terjadi karena alokasi aset dari produk reksa dana ini didominasi oleh saham sekitar 79,26%.
Reksa dana saham mengalami penurunan paling dalam apabila koreksi terjadi pada IHSG, karena minimal 80% dana kelolaan dialokasikan pada saham. Sebagai contoh, Bahana Icon Syariah Kelas G tercatat mengalami penurunan NAB dari Rp1.000,27 pada 2 Januari 2025 menjadi Rp723,49 pada 8 April 2025, atau turun sekitar 27,7%.
Meskipun per 2 Februari 2026 NAB Bahana Icon Syariah Kelas G sudah bertumbuh kembali di kisaran Rp1.341, kondisi tersebut menegaskan bahwa kinerja reksa dana saham sangat dipengaruhi oleh pergerakan IHSG, sehingga strategi investasi jangka panjang perlu mempertimbangkan volatilitas pasar saham.
Dalam kondisi pasar yang sedang turun, penerapan strategi buy and hold reksa dana tidak dapat dipandang sebagai keputusan yang seragam untuk semua investor. Berikut adalah rincian kondisi dan tujuan yang dapat Anda lakukan ketika ingin menggunakan strategi buy and hold.
Jika tujuan investasi Anda adalah jangka panjang, seperti dana pendidikan anak atau persiapan pensiun, maka fluktuasi pasar jangka pendek biasanya tidak terlalu memengaruhi hasil investasi Anda dalam jangka panjang. Contohnya, meskipun pada Januari-April 2025 IHSG mengalami koreksi, IHSG mulai pulih perlahan setelahnya.
Dengan tujuan jangka panjang, Anda bisa lebih fokus pada potensi pertumbuhan investasi Anda dalam periode yang lebih panjang, tanpa terlalu khawatir dengan pergerakan pasar dalam jangka pendek. Dengan buy and hold, Anda memberi kesempatan pada investasi Anda untuk tumbuh seiring waktu, yang biasanya lebih stabil dibandingkan mencoba mengatur waktu pasar.
Strategi buy and hold lebih cocok bagi investor yang memiliki profil risiko moderat hingga agresif, karena strategi ini mempertahankan investasi meskipun pasar mengalami volatilitas atau fluktuasi harga yang signifikan. Jika Anda berinvestasi di reksa dana saham atau campuran, yang memang lebih berisiko dibandingkan jenis reksa dana lainnya, maka Anda perlu siap menghadapi tekanan psikologis saat pasar bergerak turun.
Tanpa kesiapan mental dan pemahaman risiko, Anda mungkin merasa cemas atau panik, yang bisa memengaruhi keputusan investasi Anda. Oleh karena itu, strategi ini lebih cocok bagi mereka yang dapat tetap tenang dan disiplin meskipun pasar mengalami penurunan sementara.
Strategi buy and hold lebih efektif jika penurunan pasar disebabkan oleh faktor sementara yang bersifat jangka pendek, seperti koreksi pasar yang dipicu oleh kondisi geoekonomi atau perubahan sentimen negatif terhadap keadaan eksternal.
Misalnya, krisis yang terjadi akibat ketegangan politik atau masalah ekonomi global mungkin memengaruhi pasar sementara waktu, namun tidak memengaruhi fundamental ekonomi dalam jangka panjang.
Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung pulih setelah sentimen negatif tersebut mereda. Sebaliknya, jika penurunan pasar disebabkan oleh masalah fundamental yang lebih serius dalam ekonomi atau pasar, seperti resesi panjang atau krisis ekonomi besar, maka strategi buy and hold memiliki risiko yang tinggi.
Meski strategi buy and hold memiliki sejumlah keunggulan dan dapat efektif bila disesuaikan dengan situasi serta rencana investasi jangka panjang, strategi ini tetap menyimpan risiko yang perlu dipahami secara menyeluruh. Berikut adalah penjelasannya.
Salah satu risiko dari strategi buy and hold adalah kemungkinan terjadinya penurunan pasar yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Dalam kondisi seperti ini, nilai investasi dapat terus tertekan dalam waktu yang panjang sebelum menunjukkan tanda pemulihan.
Sebagai contoh, pada bulan Januari 2025 IHSG dibuka di level 7.163,21. Namun, dalam dua pekan pertama, IHSG turun sekitar 2% karena derasnya aliran modal asing yang keluar (net sell). Pelemahan berlanjut hingga menyentuh level 6.485,45 pada akhir bulan Februari. Tidak lama berselang, terjadi tekanan jual massal (panic selling) yang memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada 18 Maret 2025 setelah indeks anjlok lebih dari 6%.
IHSG menyentuh titik terendah tahunan di level 5.967 pada 9 April 2025, yang berarti anjlok selama 4 bulan dan mengalami penurunan sekitar 15,71% dari awal tahun 2025. Meskipun sempat mengalami tekanan, pada akhirnya IHSG berhasil kembali ke level sebelumnya seiring pertumbuhan yang berkelanjutan. Strategi buy and hold pada reksa dana saham tetap relevan, tetapi investor perlu bersabar dan memahami bahwa pemulihan memerlukan waktu.
Meskipun pasar secara keseluruhan mulai membaik, kinerja reksa dana tertentu tidak selalu langsung menunjukkan pemulihan. Perbedaan ini bisa terjadi karena MI menyesuaikan strategi portofolio, alokasi aset, atau menghadapi kendala likuiditas dan karakteristik instrumen yang dimiliki. Akibatnya, peningkatan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana saham tidak selalu sejalan dengan pergerakan pasar secara umum, sehingga investor perlu memahami dinamika kinerja reksa dana tersebut.
Sebagai ilustrasi, saat koreksi IHSG beberapa reksa dana saham menunjukkan pemulihan NAB yang lambat atau bahkan cenderung stagnan meskipun indeks telah kembali ke level sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa beberapa MI belum sepenuhnya memanfaatkan momentum pemulihan pasar, sehingga investor yang menerapkan strategi buy and hold perlu memikirkan strategi lain atau paling tidak melakukan diversifikasi aset.
Tekanan psikologis menjadi risiko yang tidak kalah besar. Penurunan nilai investasi yang berlangsung terus-menerus dapat memicu rasa takut, panik, atau bias perilaku seperti loss aversion. Kondisi ini sering kali mendorong keputusan yang tidak didasarkan pada analisis, melainkan reaksi emosional.
Sebagai gambaran, Bahana Icon Syariah Kelas G tercatat mengalami penurunan NAB sebesar 27,7% pada periode Januari sampai April 2025. Jika pemilik reksa dana saham tersebut melakukan cut loss akibat kepanikan, justru dapat kehilangan peluang menikmati pemulihan pasar di bulan-bulan berikutnya. Padahal, data menunjukkan reksa dana saham tersebut kembali menguat signifikan setelah titik terendahnya hingga saat ini.
Kekhawatiran berinvestasi reksa dana saat pasar turun adalah hal yang wajar. Dalam situasi ini, MI berperan mengelola portofolio melalui riset dan analisis fundamental, serta menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar dan siklus ekonomi. Oleh karena itu, Anda dapat mencapai tujuan investasi jangka panjang dengan lebih optimal.
Untuk diversifikasi portofolio yang lebih baik, reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap bisa jadi pertimbangan, namun untuk reksa dana saham, sangat penting memilih MI dengan rekam jejak yang baik dan mampu memulihkan keadaan setelah fluktuasi IHSG yang signifikan.
Makmur menyediakan produk dari berbagai MI dengan rekam jejak baik. Salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G yang mencatatkan kenaikan NAB sebesar 92,97% per akhir Maret 2026 dibandingkan NAB terendah pada April 2025, mencerminkan kemampuan portofolio dalam menangkap momentum pemulihan pasar.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo April Resilience dan Semua Bisa Makmur.
Link:Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]