






Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar modal Indonesia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 menciptakan ketidakpastian ekonomi yang cukup tinggi dan mendorong perubahan perilaku investor secara cepat.
Dalam kondisi seperti ini, pasar memasuki fase risk-off, yaitu fase ketika investor lebih berhati-hati dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih stabil. Dampaknya, saham yang sebelumnya menjadi penopang indeks seperti sektor perbankan, mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Untuk memahami dampaknya secara lebih konkret, berikut adalah data penurunan lima saham perbankan terbesar di Indonesia. Data ini mencerminkan periode setelah eskalasi konflik meningkat, yaitu sejak hari pembukaan pasca eskalasi pada 3 Maret 2026 hingga 9 April 2026.
Tabel 1. Penurunan saham perbankan

Sumber: Investing.com
Data tersebut menunjukkan bahwa terjadi tekanan yang cukup berat. Saham seperti BBRI dan BBNI bahkan mengalami koreksi dua digit dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini mencerminkan sensitivitas sektor perbankan terhadap sentimen global, khususnya yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi dan likuiditas pasar.
Menariknya, tidak semua bank terdampak dengan intensitas yang sama. Saham BBTN, misalnya, mencatat penurunan paling minim dibandingkan bank lainnya. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik bisnisnya yang lebih fokus pada pembiayaan perumahan. Namun, dominasi pembiayaan sektor perumahan membuat kinerja BBTN tetap sensitif terhadap kenaikan suku bunga karena berpotensi menekan permintaan kredit baru.
Tekanan terhadap saham perbankan tidak terjadi tanpa sebab. Ada sejumlah faktor fundamental dan sentimen global yang berperan dalam membentuk pergerakan tersebut.
Berikut adalah beberapa alasan utama yang menjelaskan mengapa saham perbankan cenderung melemah di tengah konflik geopolitik.
Konflik geopolitik menciptakan ketidakpastian yang tinggi terhadap prospek ekonomi global. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menghindari risiko dengan menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Saham perbankan yang memiliki likuiditas tinggi dan porsi kepemilikan asing yang besar sering menjadi target utama aksi jual. Arus keluar modal ini memberikan tekanan langsung terhadap kinerja, bahkan pada saham dengan fundamental yang kuat sekalipun.
Sebetulnya AS dan Iran sempat menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada tanggal 8 April 2026. Namun, sentimen positif tersebut tidak bertahan lama. Ketegangan kembali meningkat akibat konflik dalam skala kecil yang masih terjadi secara berkala selama gencatan senjata.
Hingga akhirnya, konflik tersebut mulai memasuki babak baru setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai. Perjanjian yang ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026, itu menandai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Kabar ini sempat memicu penurunan tajam harga minyak dunia hingga mencapai harga sekitar US$80 per barel.
Meski demikian, proses normalisasi pasca konflik tidak berlangsung mulus. Antrean kapal tanker, premi asuransi pengiriman yang masih tinggi, serta risiko keamanan yang belum sepenuhnya reda sempat membuat pasar tetap sangat volatil dalam beberapa pekan setelahnya.
Namun, jeda damai ini ternyata tidak bertahan lama. Awal Juli 2026, ketegangan kembali memanas setelah tiga kapal tanker dilaporkan diserang di sekitar Selat Hormuz pada 7 Juli 2026. Amerika Serikat merespons dengan menyerang lebih dari 80 sasaran militer di Iran, sementara Iran kembali menutup Selat Hormuz sekitar 12–13 Juli 2026. Eskalasi ini turut mendorong harga minyak dunia naik 2% pada 14 Juli dan 4% pada 17 Juli 2026, dengan ketegangan yang dilaporkan masih berlangsung hingga pertengahan Juli 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik di kawasan tersebut belum sepenuhnya reda.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu dampak langsung dari konflik di Timur Tengah, terutama ketika jalur distribusi seperti Selat Hormuz terganggu. Dengan sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, gangguan distribusi sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari 50% hingga menyentuh kisaran US$110–US$128 per barel pada puncak konflik.
Kenaikan biaya energi ini meningkatkan beban operasional industri di seluruh dunia dan menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini meningkatkan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan bank.
Tabel 2.1 NPL saham perbankan Q1 2026

Sumber: Investing.com
Menariknya, BBRI menjadi satu-satunya bank pada tabel yang justru mencatatkan penurunan NPL. Hal ini sejalan dengan strategi perseroan yang secara konsisten membersihkan kualitas asetnya, terutama pada segmen mikro yang selama ini menjadi kontributor utama kredit bermasalah. Langkah seperti penghapusbukuan (write-off) kredit macet, restrukturisasi selektif, serta pengetatan penyaluran kredit baru membantu menekan nilai NPL secara nominal, sehingga rasionya dapat turun meskipun tekanan makroekonomi meningkat.
Tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dapat mendorong bank sentral untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa kenaikan harga energi sebesar 10% dapat meningkatkan inflasi global sebesar 0,4% dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia (BI) pun memutuskan untuk menempuh kebijakan menaikkan suku bunga acuan. Sepanjang 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps), yakni sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026, lalu masing-masing 25 bps menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 dan 5,75% pada 18 Juni 2026.
Kenaikan pada 9 Juni bahkan dilakukan melalui rapat tidak terjadwal sebagai respons cepat atas pelemahan rupiah. Suku bunga yang tinggi dapat menekan permintaan kredit serta menurunkan valuasi aset keuangan yang dimiliki perbankan, sehingga berdampak pada kinerja saham.
Eskalasi konflik global juga berdampak pada pergerakan nilai tukar. Sejak eskalasi konflik hingga 9 April 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 1,42% terhadap dolar AS, dengan nilai tukar mencapai Rp17.098,6 per dolar AS.
Tekanan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menembus level di atas Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026, sebelum kembali menguat setelah Bank Indonesia melakukan serangkaian intervensi dan penyesuaian kebijakan suku bunga.
Pelemahan nilai tukar mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Bagi sektor perbankan, tekanan nilai tukar dapat memengaruhi portofolio yang memiliki eksposur valuta asing, baik dari sisi aset maupun liabilitas. Selain itu, volatilitas nilai tukar juga dapat meningkatkan risiko pasar secara keseluruhan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor perbankan tetap sensitif terhadap dinamika global, terutama melalui perubahan sentimen pasar, risiko inflasi, serta ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter.
Meski demikian, perbaikan sentimen global dapat membuka ruang bagi pemulihan pasar. Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, pergerakan saham perbankan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk arah kebijakan suku bunga, kondisi likuiditas global, serta perkembangan ekonomi domestik.
Oleh karena itu, memahami faktor-faktor yang memengaruhi pasar menjadi langkah penting bagi investor dalam menyusun strategi investasi yang lebih adaptif. Di tengah volatilitas pasar, diversifikasi portofolio dapat menjadi salah satu strategi untuk mengelola risiko dengan menyesuaikan pilihan instrumen berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi.
Instrumen dengan tingkat volatilitas lebih rendah, seperti reksa dana pasar uang, dapat menjadi alternatif untuk menjaga stabilitas portofolio. Salah satunya adalah Danapathi Money Market Fund yang tercatat mencatatkan kinerja sebesar 5,45% dalam periode satu tahun berdasarkan data per 28 Juli 2026.
Selain itu, reksa dana campuran dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan diversifikasi antara saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Salah satu produknya adalah Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A yang pada periode yang sama mencatatkan kinerja sebesar 22,42%.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]
Reksa dana USD merupakan instrumen investasi yang didenominasikan dalam dolar Amerika Serikat (USD) dan tersedia dalam berbagai kategori, mulai dari reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, hingga pasar uang. Instrumen ini banyak dipilih investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang sekaligus menjaga nilai portofolio di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah. Sepanjang Juli 2026, rupiah sempat […]