






Investasi saham melibatkan keputusan yang kompleks, salah satunya adalah mempertimbangkan apakah saham yang melakukan right issue layak untuk investasi jangka panjang. Right issue adalah mekanisme penerbitan saham baru yang memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham tambahan pada harga tertentu.
Keputusan ini memiliki potensi keuntungan bagi investor, namun juga menyimpan berbagai risiko yang perlu dipertimbangkan secara matang. Oleh karena itu, penting untuk memahami potensi dan risiko yang terkait dengan keputusan right issue sebelum membuat keputusan investasi.
Sebagai investor, penting untuk memahami proses teknis di balik penerbitan right issue yang dilakukan perusahaan. Proses ini tidak hanya melibatkan pengumuman, tetapi juga langkah-langkah penting lainnya yang memengaruhi keputusan investasi.
Perusahaan pertama-tama mengumumkan rencana right issue melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan media massa. Pada kasus right issue WIFI, pengumuman dilakukan pada 20 Agustus 2024, dan perusahaan menyatakan bahwa dana yang dihimpun akan digunakan untuk belanja modal dan modal kerja guna mendukung ekspansi jaringan fiber optik perusahaan.
Perusahaan kemudian menentukan rasio right issue, yaitu berapa banyak saham baru yang bisa dibeli oleh pemegang saham lama. Dalam hal ini, WIFI menawarkan rasio 4:5, artinya untuk setiap 4 saham lama yang dimiliki, pemegang saham berhak membeli 5 saham baru. Harga pelaksanaan saham baru ditetapkan sebesar Rp2.000 per lembar saham, yang sedikit lebih rendah dari harga pasar pada saat itu.
Setelah pengumuman, pemegang saham yang tercatat akan menerima Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), yang dapat diperdagangkan di pasar selama periode tertentu. Pada kasus WIFI, Recording Date ditetapkan pada 3 Juli 2025, yang menentukan pemegang saham yang berhak menerima hak tersebut. Investor dapat memilih untuk menggunakan hak atau menjual HMETD tersebut di pasar.
Pemegang HMETD dapat membeli saham baru sesuai dengan rasio yang telah ditentukan pada harga yang telah disepakati. Pada right issue WIFI, HMETD dapat diperdagangkan mulai 7 Juli 2025 hingga 15 Juli 2025, dan investor dapat memilih untuk membeli saham baru atau menjual HMETD di pasar tunai.
Menilai right issue yang diumumkan oleh perusahaan penting untuk memahami potensi keuntungan dan risiko yang terlibat. Berikut adalah beberapa langkah yang perlu diperhatikan.
Untuk menilai potensi right issue, penting untuk mempertimbangkan tujuan perusahaan, harga saham setelah penerbitan, dan kondisi keuangan. Salah satu contoh right issue yang menarik perhatian pasar pada tahun 2025 yakni PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge. WIFI memiliki potensi pertumbuhan yang kuat dan alokasi dana yang efektif untuk ekspansi jaringan fiber optik.
Perusahaan yang melakukan right issue biasanya memiliki tujuan yang jelas, seperti membayar utang, membiayai ekspansi, atau memperbaiki modal kerja. Dalam hal WIFI, dana yang dihimpun dari right issue digunakan untuk ekspansi jaringan fiber optik yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan pengembangan layanan broadband di Indonesia.
Saham yang diterbitkan melalui right issue biasanya dihargai lebih rendah dari harga pasar, memberikan kesempatan bagi investor untuk membeli dengan harga diskon.
WIFI menunjukkan dinamika yang menarik dalam mekanisme right issue di Bursa Efek Indonesia.
Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp2.000 per saham, yang relatif mendekati harga pasar saat pengumuman di kisaran Rp2.020 per 7 Juli 2025. Selisih yang tipis ini membuat right issue tetap memberikan insentif bagi investor, meskipun tidak dalam bentuk diskon yang besar seperti pada umumnya.
Secara mengejutkan, aksi korporasi ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 4 kali lipat dari jumlah saham yang tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa minat investor tidak semata didorong oleh faktor diskon harga, tetapi juga oleh ekspektasi terhadap prospek bisnis perusahaan ke depan. Namun, apabila tidak diikuti dengan kinerja yang baik, reaksi pasar berpotensi bergerak sebaliknya.
Sangat penting untuk menilai seberapa sehat kondisi keuangan perusahaan sebelum dan setelah right issue. Dalam kasus WIFI, laporan kinerja perusahaan menunjukkan bahwa pendapatan meningkat 101% YoY pada 9M25, yang menunjukkan adanya potensi pertumbuhan yang sangat kuat. Selain itu, dana yang dihimpun dari right issue dan utang digunakan untuk memperkuat ekspansi jaringan fiber optik, yang berpotensi meningkatkan pendapatan ke depan.
Meskipun right issue menawarkan peluang pendanaan yang besar, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan oleh investor, seperti dilusi saham, reaksi pasar, dan efektivitas penggunaan dana. Berikut ini adalah analisis risiko yang dapat dipertimbangkan.
Ketika perusahaan menerbitkan saham baru, jumlah saham yang beredar di pasar akan meningkat, yang dapat mengurangi persentase kepemilikan pemegang saham lama. Dalam kasus WIFI, potensi dilusi saham untuk pemegang saham yang tidak berpartisipasi dalam right issue bisa mencapai 55,56%. Artinya, pemegang saham yang tidak menggunakan hak untuk membeli saham baru akan mengalami penurunan kepemilikan secara signifikan.
Pasar bisa bereaksi negatif terhadap pengumuman right issue, jika dianggap sebagai indikasi perusahaan membutuhkan dana tambahan untuk menutupi masalah keuangan. Namun, dalam kasus WIFI, right issue berhasil oversubscribed hingga 4 kali lipat, yang menunjukkan bahwa investor memiliki kepercayaan terhadap prospek ekspansi jaringan fiber optik.
Ada risiko bahwa dana yang dihimpun dari right issue tidak digunakan secara efektif atau tujuan tidak tercapai. Investor berpotensi merasa investasi tersebut tidak memberikan dampak positif di masa depan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menilai apakah perusahaan memiliki rekam jejak yang baik dalam menggunakan dana dari right issue untuk proyek investasi yang menguntungkan.
Right issue dapat menjadi pilihan yang tepat ketika pasar saham stabil dan perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang kuat. Dalam kondisi tersebut, right issue menjadi metode yang efektif untuk mengumpulkan dana guna mendukung ekspansi bisnis. WIFI, dengan rencana ekspansi bisnis yang ambisius, menjadikan right issue sebagai langkah strategis untuk memperkuat modal perusahaan dan meningkatkan daya saingnya di pasar.
Emiten yang melakukan right issue bisa menjadi pilihan menarik untuk investasi jangka panjang jika emiten tersebut menggunakan dana yang dihimpun untuk memperkuat fundamental bisnis. WIFI dengan struktur kas yang lebih sehat setelah right issue, di mana Debt-to-EBITDA sebesar 3,3x, Debt-to-Equity sebesar 0,4x, dan Debt Service Coverage Ratio mengalami kenaikan sebesar 3,0x.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi dalam mengelola utang dan mampu memenuhi kewajiban keuangannya dengan baik. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan bagi investor terhadap kelangsungan dan pertumbuhan perusahaan di masa depan.
Right issue dapat menjadi pilihan yang tepat untuk investasi jangka panjang jika dilihat dari tujuan yang jelas, kondisi keuangan perusahaan yang mendukung, dan potensi pertumbuhan yang kuat. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko dilusi saham dan volatilitas harga saham pasca pengumuman right issue.
Right issue WIFI yang sukses dan oversubscribed menunjukkan kepercayaan pasar terhadap strategi ekspansi perusahaan, yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan di masa depan. Untuk mengoptimalkan potensi keuntungan dan meminimalkan risiko, investor perlu melakukan analisis terhadap tujuan, kondisi keuangan, dan dampak pasar dari right issue yang diumumkan oleh emiten.
Apabila Anda tidak memiliki waktu, pengetahuan, atau pengalaman yang cukup dalam menganalisis right issue saham, maka investasi reksa dana saham dapat menjadi pilihan. Melalui reksa dana saham, dana Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) berkompeten yang tahu potensi perkembangan dan risiko dari right issue sebuah emiten. Sehingga, MI memiliki dasar analisis dalam menentukan keputusan investasi terhadap saham right issue.
Salah satu produk reksa dana saham di Makmur yang dapat dipertimbangkan adalah Trim Kapital Plus. Berdasarkan data per 10 April 2026, reksa dana ini telah mencatatkan pertumbuhan 30,37% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur mendorong akses investasi yang lebih inklusif sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, mengedepankan aspek simplicity, trust, dan clarity dalam setiap langkah investasi melalui reksa dana terkurasi dan investasi saham.
Didirikan oleh para pakar teknologi dan finansial berpengalaman di Silicon Valley dan Wall Street, Makmur menerapkan teknologi analisis berbasis data untuk membantu setiap investor dalam membangun kekayaan jangka panjang. Kepercayaan ini diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan InfoVesta kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo April Resilience dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Pada Senin, 20 April 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Keputusan ini menandai penundaan perubahan konstituen indeks, termasuk penambahan saham baru maupun penyesuaian bobot saham yang sudah ada. Langkah ini bukan pertama kalinya dilakukan. Pembekuan rebalancing MSCI sebelumnya juga terjadi pada 27 […]
Key Takeaways: Buy on weakness sering dipandang sebagai strategi investasi yang bisa dilakukan setiap investor, karena dianggap cukup dengan membeli saham saat harga mengalami penurunan, lalu bisa mendapatkan potensi imbal hasil ketika harga sahamnya sudah pulih. Padahal, tidak semua saham yang mengalami koreksi layak untuk dibeli. Selain itu, koreksi pasar bisa terjadi dalam jangka waktu […]
Key Takeaways: Sektor saham basic materials di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencakup emiten penyedia bahan baku industri, seperti logam, pertambangan, semen, dan kimia. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada […]
Key Takeaways: Memasuki kuartal II 2026, pasar keuangan global masih menunjukkan peningkatan volatilitas yang dipicu oleh berlanjutnya tekanan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Di tengah kondisi tersebut, peningkatan penerbitan utang negara (debt issuance) secara global turut menambah pasokan obligasi di pasar, sehingga memberikan tekanan pada harga dan mendorong pergerakan yield menjadi semakin […]
Key Takeaways: Harga minyak dunia kembali melonjak setelah pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait kebijakan geopolitik. Pada (13/4) pagi, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai level US$105 per barel, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini dipicu oleh instruksi langsung kepada Angkatan Laut AS untuk memulai […]