Ilustrasi Ibu dan Anak (Sumber: Sasin Tipchai | Pixabay)
Dalam kehidupan berkeluarga, tidak sedikit dari suami yang mempercayakan keuangan pada istrinya sehingga tidak heran kalau kita sering mendengar menteri keuangan keluarga yaitu para ibu-ibu. Namun apakah semua ibu-ibu telah optimal dalam mengelola keuangan?
Faktanya belum semua ibu-ibu mengenal yang namanya Reksa Dana dan masih bergantung pada instrumen investasi konvensional seperti emas & deposito. “Kalau ada duit lebih yah saya beliin perhiasan emas sebagai investasi saya, atau kalau tidak yah simpan deposito bank aja” ini merupakan ungkapan yang sering kita dengar, namun apakah dengan investasi disana maka pengelolaan keuangan akan optimal?
Ini tips bagi para ibu-ibu biar bisa kelola keuangan keluarga lebih optimal dan bisa penuhi kebutuhan keluarga lebih oke lagi nantinya yaitu:
Pertama, para ibu-ibu perlu mencatat pengeluaran keluarga berapa besar sih dalam satu bulan. Misalnya aja nih pengeluaran dalam satu bulan seperti ini:
Belanja bahan makanan = Rp 800.000
Tiap weekend makan di mall = Rp 600.000
Biaya listrik & air = Rp 650.000
Biaya pulsa & paket data = Rp 200.000
Biaya transportasi = Rp 150.000
Biaya “Skincare” = Rp 400.000
Biaya nonton bioskop = Rp 200.000
Total biaya bulanan = Rp 3.000.000
Namun dalam pendapatan hasil usaha bisa menghasilkan rata-rata Rp 3.500.000 per bulan. Dilangkah pertama ini ibu-ibu wajib catat dulu nih data bulanan masing-masing.
Nah ditahap kedua ini para ibu-ibu perlu urutkan berdasarkan prioritas, mana yang harus ada tiap bulannya dan mana yang bisa ditunda seperti contohnya:
Wajib tiap bulan (biaya hidup):
1. Belanja bahan makanan = Rp 800.000
2. Biaya listrik & air = Rp 650.000
3. Biaya pulsa & paket data = Rp 200.000
4. Biaya transportasi = Rp 150.000
Total = Rp 1.800.000
Opsional:
1. Tiap weekend makan di mall = Rp 600.000
2. Biaya “Skincare” = Rp 400.000
3. Biaya nonton bioskop = Rp 200.000
Total = Rp 1.200.000
Nah kalau misal ibu-ibu yang memiliki gaya hidup “sosialita” dan ingin agar skincare itu wajib tiap bulan, tidak masalah karena memang sebagian ibu-ibu juga perlu merawat diri agar tetap tampil terbaik. Setidaknya sudah ada data mengenai rata-rata biaya bulanan ibu-ibu.
Tips yang terpenting yaitu dari selisih penghasilan dan pengeluaran tiap bulan tersebut bisa ditabung di Reksa Dana. Nah disini ibu-ibu bisa mempersiapkan juga untuk misalnya:
Penghasilan: Rp 3.500.000
Biaya hidup bulanan: Rp 1.800.000
Bisa ditabung: Rp 1.700.000
Namanya biaya bulanan kan bisa aja membengkak karena ada kebutuhan medadak atau lain sebagainya. Nah disini ibu-ibu boleh mempersiapkan dana darurat dengan menabung di Reksa Dana Pasar Uang. Selain nilai tabungan ibu-ibu terus meningkat (misalnya: +3% hingga +5% setahun), para ibu-ibu juga bisa kapan saja menarik tabungan ibu untuk digunakan.
Ada juga pilihan Reksa Dana yang memberikan hasil investasi lebih dari 5%, sebagai contoh Reksa Dana yang bunda dapat temukan di aplikasi Makmur:

Selain para bunda bisa mecairkannya kapan saja, kinerja Reksa Dana ini akan terus bertumbuh hari demi hari dengan hasil yang baik.
Yang penting sih kebiasaan rutin menabungnya yang perlu dimulai dari sekarang, dan nanti suatu saat pasti akan bangga melihat tabungan yang sudah makin melimpah di Reksa Dana.
Yuk mulailah berinvestasi di aplikasi yang Aman & Legal seperti Makmur, karena PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain kamu dapat berinvestasi Reksa Dana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai bonus investasi melalui promo-promo menarik dari Makmur. Yuk mulai perjalanan investasimu bersama Makmur dan temukan berbagai Reksa Dana terbaik dari Manajer Investasi pilihan.
Link: Promo-Promo Makmur
Yuk unduh Makmur melalui link dibawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Baca juga: Reksa Dana Ini Memberikan Uang Pertanggungan Seperti Halnya Asuransi Jiwa, Benarkah Bisa?
Website: Makmur.id
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]