Ilustrasi cuan
Bagi kamu yang belum tahu apa itu Reksa Dana, berikut pengertiannya singkatnya yaitu suatu wadah investasi yang menampung uang investor yang kemudian akan dikelola oleh Manajer Investasi. Pengelolaan Manajer Investasi akan bergantung dari jenis Reksa Dana yang akan dibuat, apabila Reksa Dana Saham maka instrumen investasinya akan berupa Saham, begitu pula Reksa Dana Pendapatan Tetap yang isinya berupa di Surat Hutang / Obligasi.
Baca juga : Apa Saja Jenis-Jenis Reksa Dana?
Investasi di Reksa Dana Pendapatan Tetap / Fixed Income Fund gak berarti kamu akan selalu cuan, namun ada pergerakan kinerja investasinya yang juga memiliki potensi turun alias rugi. Sebelum pembahasan lebih lanjut, kamu perlu tahu bahwa Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah Reksa Dana yang melakukan investasi paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk Efek bersifat utang / Obligasi.
Obligasi atau Surat Utang merupakan instrumen Efek yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dikala membutuhkan pendanaan untuk kebutuhan finansial / pengadaan proyek baru yang membutuhkan dana besar / ekspansi perusahaan.
Tentunya dimana-mana yang namanya investasi perlu yang namanya tingkat pengembalian investasi kan? Dalam hal ini Obligasi yang diterbitkan suatu perusahaan akan memberikan kupon alias bunga kepada investor yang membeli surat utang tersebut.
Pada umumnya setelah suatu Obligasi diterbitkan, maka pasti ada jadwal pembagikan kuponnya yaitu setiap 3 bulan sekali yang dimulai sejak tanggal penerbitan Obligasi. Nah karena jadwal pembagian kuponnya sudah ditetapkan, maka Reksa Dana yang investasinya mayoritas di Obligasi lebih dikenal sebagai Reksa Dana Pendapatan Tetap.
Berbicara mengenai risiko, tentu semua instrumen investasi memiliki tingkat risiko yang bervariasi tergantung dari instrumen investasinya, termasuk Deposito bank pun memiliki risiko yang terkecil diantara instrumen investasi lainnya. Karena Reksa Dana Pendapatan Tetap mayoritas berisikan instrumen Obligasi maka yuk kita pelajari risiko-risiko Obligasi antara lain:
1. Risiko Gagal Bayar (Default)

Ilustrasi bankrupt
Risiko utama yang perlu kamu tahu di Obligasi yaitu apabila perusahaan yang menerbitkan Obligasi / Surat Utang tak mampu membayar utangnya alias gagal bayar. Karena memiliki risiko tersebut, maka kupon Obligasi yang ditawarkan ke investor cenderung memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari bunga Deposito.
Kupon Obligasi cukup bervariasi yang dimulai dari 3% hingga 11% per tahunnya tergantung dari tingkat risiko Obligasi tersebut. Semakin tinggi risiko suatu Obligasi maka biasanya semakin tinggi pula tingkat kupon yang ditawarkan dengan tujuan meningkatkan minat investor.
Lembaga pemeringkat Obligasi di Indonesia yang cukup dikenal baik yaitu PT Pefindo atau Pemeringkat Efek Indonesia dan Fitch Ratings Indonesia. Obligasi yang tingkat risiko terendah akan diberikan peringkat AAA (triple A) dan risiko tertinggi dengan peringkat C (single C). Apabila suatu Obligasi perusahaan diberikan nilai D maka Obligasi perusahaan itu dinyatakan gagal bayar.
2. Risiko Perubahan Harga Obligasi
Pada umumnya Obligasi yang diterbitkan suatu perusahaan memiliki jangka waktu (tenor) pengembalian pokok investasinya misalkan 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun atau bahkan 20 tahun. Semakin lama jangka waktu suatu Obligasi maka semakin tinggi risikonya karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan yang menerbitkan Obligasi tersebut di beberapa tahun yang akan datang.
Karena apapun bisa terjadi pada suatu perusahaan seiring berjalannya waktu, maka Obligasi pun bisa diperjualbelikan oleh investor ke investor lainnya sehingga terbentuklah harga pasar. Pada umumnya Obligasi yang diterbitkan akan memiliki harga pasar yaitu harga 100 yang bisa naik / turun seiring berjalannya waktu dan akan kembali lagi ke harga 100 ketika Obligasi sudah jatuh tempo.
Jadi selain memberikan tingkat pengembalian / kupon yang tetap, Obligasi juga bisa diperdagangkan melalui mekanisme jual beli di sebuah perusahaan sekuritas.
Play Store
IOS : App Store
Website : Makmur.id
Baca Juga : Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Berinvestasi, Ketika Pasar Modal Anjlok atau “To the Moon”?
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]