makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

The Fed Diperkirakan Pangkas Fed Rate Lebih Cepat, Ini Instrumen Investasi yang Tepat!

author
Content Management
author
20 Januari 2025
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Hai, Sobat Makmur! Salah satu sentimen utama yang sering menjadi perhatian pasar adalah kebijakan bank sentral, khususnya Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve atau The Fed. Pemangkasan suku bunga Fed diperkirakan akan lebih cepat terjadi tahun ini, dimana kebijakan ini akan berpengaruh terhadap instrumen investasi seperti obligasi, saham, dan reksa dana. Dalam artikel kali ini, Makmur akan membahas mengenai pemilihan instrumen investasi yang tepat di tengah potensi pemangkasan fed rate. Yuk, disimak!

Fed Rate Diperkirakan Turun Lebih Cepat

Kebijakan suku bunga bank sentral menjadi salah satu sentimen yang cukup penting dicermati dalam berinvestasi. Sebab, naik atau turunnya suku bunga acuan akan mempengaruhi kinerja portofolio investasi. Sebagai investor yang berkualitas, kamu harus memahami terlebih dahulu alasan di balik pemangkasan suku bunga The Fed.

Pada Rabu (15/1), inflasi AS yang tercermin dari indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) dilaporkan lebih rendah dari estimasi. CPI pada Desember 2024 naik menjadi 2,9% secara year-on-year (YOY) dari November 2024 yang sebesar 2,7%. Sementara itu, core CPI yang mengecualikan komponen makanan dan energi tercatat sebesar 3,2%, berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,3%.

Perlu diingat bahwa suku bunga dan inflasi memiliki hubungan yang berkebalikan. Jika inflasi menurun, bank sentral akan menurunkan suku bunga yang bertujuan untuk mendorong pinjaman (kredit), konsumsi, dan investasi, sehingga meningkatkan aktivitas perekonomian. Hubungan ini menggambarkan peran suku bunga sebagai alat utama untuk menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang seimbang.

Nah, laju inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi ini menghidupkan kembali ekspektasi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih cepat dari proyeksi sebelumnya, yakni pada semester pertama 2025. Hal ini diperkuat dengan pernyataan beberapa pejabat Gubernur The Fed, salah satunya dilontarkan oleh Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller. Dalam pernyataanya ke CNBC International, Waller mengatakan bank sentral bisa saja menurunkan suku bunga lagi pada paruh pertama tahun 2025 jika data inflasi terus menunjukkan hasil positif.

Waller melanjutkan, jika angka inflasi mendatang sesuai dengan laporan Desember, The Fed mungkin akan memangkas suku bunga lebih banyak tahun ini dan lebih cepat dari perkiraan para investor. Dia optimis tren disinflasi ini akan terus berlanjut dan akan kembali mendekati 2% sedikit lebih cepat dari ekspektasi. Adapun The Fed menargetkan angka inflasi sebesar 2%.

BI Telah Melakukan Pemangkasan Suku Bunga Terlebih Dahulu

Angin segar juga datang dari Bank Indonesia (BI), dimana BI sudah memangkas suku bunganya terlebih dahulu. BI memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan (BI rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2025. Pada Rabu (15/1), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan pemangkasan suku bunga dilakukan BI berdasarkan dinamika yang terjadi, baik di tingkat global maupun domestik. Ada beberapa alasan yang mendasari pemangkasan suku bunga kali ini. Pertama, BI melihat arah kebijakan Fed rate yang sudah lebih jelas tahun ini. Kedua, dari sisi domestik, BI mencermati bahwa inflasi dalam negeri cukup rendah dan akan tetap rendah ke depannya. Ketiga, BI melihat adanya kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih rendah dari perkiraan pada 2025. Sehingga, BI berharap penurunan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Instrumen Tepat di Tengah Penurunan Suku Bunga

Sobat Makmur, tahukah kamu kalau pemangkasan suku bunga berdampak positif terhadap sejumlah instrumen investasi? Salah satu instrumen yang terkena dampak positif pemangkasan suku bunga adalah surat utang, yakni obligasi dan/atau sukuk. Ketika suku bunga turun, harga obligasi akan cenderung naik, begitu juga sebaliknya. Penjelasannya, pemangkasan suku bunga acuan akan menyebabkan suku bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi kurang menarik. Kondisi ini akan membuat investor mencari instrumen investasi yang bisa menghasilkan return yang lebih tinggi.

Akibatnya, investor akan lebih tertarik berinvestasi di instrumen obligasi dibandingkan dengan menaruh uangnya di deposito karena obligasi berpotensi menghasilkan return lebih tinggi saat suku bunga turun. Dalam kondisi era pemotongan suku bunga, reksa dana pendapatan tetap menjadi reksa dana yang paling diuntungkan. Sebab, reksa dana pendapatan tetap mayoritas portofolionya berisi efek yang bersifat utang, baik obligasi dan/atau sukuk. Dalam era pemotongan suku bunga, obligasi ini akan cenderung mengalami capital gain karena nilai imbal balik dari kupon utang akan menjadi semakin atraktif.

Tidak hanya diuntungkan oleh kebijakan penurunan suku bunga, beberapa reksa dana pendapatan tetap juga rutin memberikan dividen kepada investor. Dengan demikian, instrumen ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan pasif atau sebagai dana darurat untuk keperluan mendesak. Selain itu, reksa dana pendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan instrumen lain seperti deposito, karena sifat investasinya yang berjangka menengah hingga panjang.

Secara tidak langsung, penurunan suku bunga juga akan berdampak ke reksa dana saham. Penurunan suku bunga akan membuat investor mencari alternatif lain dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito, yakni pasar saham. Secara teori, meningkatnya permintaan saham di bursa akan menyebabkan harga saham mengalami kenaikan.

Namun, sebelum memutuskan berinvestasi reksa dana, kamu bisa menimbang beberapa faktor yang bisa menjadi pertimbangan. Pertama, mencermati risiko yang terkandung dalam reksa dana dan menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Kedua, memantau kinerja historis reksa dana dari fund fact sheet yang diterbitkan Manajer Investasi.

Di Makmur, kamu bisa juga memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo New Year Investment, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.


Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.

Link: Promo-Promo di Makmur

Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri R. Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Tidak Semua Bank Terdampak Sama saat Cost of Fund Naik, Apa yang Membedakan Bank dengan CASA Tinggi?

Key Takeaways: Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 100 basis poin pada kuartal II 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%, lalu menahannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli hingga Oktober 2026. Pada RDG 20–21 Oktober 2026, BI tetap menaikkan suku bunga deposit facility dari 4,75% menjadi 5,00%. Per September 2026, kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan, jauh lebih […]

author
Content Management
calendar
06 November 2026
Artikel

Reinvestasi ke Emiten yang Sama atau Diversifikasi, Mana yang Lebih Menguntungkan Setelah Musim Pembagian Dividen?

Key Takeaways: Sepanjang YTD 2026, tiga pembagi dividen tunai terbesar di Bursa Efek Indonesia berasal dari sektor perbankan, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sekitar Rp52,10 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp50,63 triliun, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp40,06 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berada […]

author
Content Management
calendar
05 November 2026
Artikel

Mitigasi Risiko Apabila Perusahaan Memutuskan Go Private, Ini Reorientasi Strategi yang Perlu Investor Lakukan

Key Takeaways: Keputusan suatu perusahaan terbuka untuk melakukan go private merupakan salah satu aksi korporasi yang perlu dicermati investor. Proses ini mengubah status perusahaan dari emiten yang sahamnya diperdagangkan di bursa menjadi perusahaan tertutup dan tidak lagi tunduk pada kewajiban sebagai perusahaan terbuka sebagaimana sebelumnya. Dalam praktiknya, proses go private dapat disertai voluntary delisting dari […]

author
Content Management
calendar
03 November 2026
Artikel

5 Reksa Dana Pasar Uang Terbaik Berdasarkan Return per Oktober 2026

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]

author
Content Management
calendar
31 Oktober 2026
Artikel

5 Reksa Dana Pendapatan Tetap Terbaik Berdasarkan Return per Oktober 2026

Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp211,23 triliun per September 2026. Meski turun 3,57% dibandingkan Agustus 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. RDPT mengalokasikan […]

author
Content Management
calendar
31 Oktober 2026
Artikel

5 Reksa Dana USD Terbaik Berdasarkan Return per Oktober 2026

Sepanjang Oktober 2026, rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar AS. Setelah berada di level terkuatnya di Rp17.873 per dolar AS pada 2 Oktober 2026, rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan bulan dan sempat menyentuh level terlemah di Rp18.180 per dolar AS pada 28 Oktober 2026. Rupiah ditutup di level Rp18.125 per dolar […]

author
Content Management
calendar
31 Oktober 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0