Ilustrasi Rupiah (Sumber: iqbal nuril anwar | Pixabay)
Berbicara mengenai perekonomian di suatu negara tentu tidak lepas dari yang namanya daya beli dan suku bunga.
Beberapa waktu yang lalu, dunia diguncangkan dengan pandemi covid-19 dimana virus ini sangat gampang menyebar dan membahayakan jiwa manusia. Karena awal-awal masih belum ada vaksin covid-19 yang dapat mengurangi risiko kematian, maka pemerintah di berbagai negara menerapkan Lockdown alias tidak boleh ada aktivitas diluar rumah.
Hal tersebut tentu mempengaruhi perekonomian setiap negara karena tingkat belanja masyarakat menurun derastis. Hal ini membuat para pelaku usaha yang mengandalkan pinjaman bank akan mengalami kesulitan untuk membayar bunga bank dan tidak sedikit pelaku usaha yang gulung tikar.
Untuk mengatasi hal tersebut, tentu pemerintah juga akan memutar otak agar perekonomian negara tidak terus berlanjut melesu. Kebijakan moneter pun dilakukan untuk mengontrol bunga pinjaman. Dalam hal ini kebijakan moneter yang diterapkan adalah menurunkan suku bunga acuan ke level rendah.
Sekian tahun berlanjut dan pandemi covid-19 sudah mulai dapat teratasi karena mayoritas masyarakat telah divaksin. Hal tersebut mulai terlihat dari daya beli masyarakat yang sudah mulai meningkat, bahkan ada dibeberapa sektor terlihat adanya peningkatan yang sangat drastis yang membuat harga-harga entitas pada naik tajam alias inflasi terjadi.
Maka dari itu Pemerintah pun kembali menyesuaikan tingkat suku bunga acuan dengan menaikkan suku bunga secara bertahap.
Per tanggal 22 September 2022 ini, suku bunga acuan (BI Rate) di Indonesia sudah di level 4,25%. Angka ini naik 50 basis poin (bps) dibanding dengan bulan Agustus 2022 di angka 3,75%.
Dengan melihat tren kenaikan suku bunga acuan yang naik, 3 hal ini yang perlu dipersiapkan:
Dengan meningkatnya suku bunga acuan bank, tentu akan berdampak juga di suku bunga pinjaman. Dengan kata lain kamu akan membayar bunga pinjaman yang lebih tinggi dari periode sebelumnya.
Apabila memang mendesak karena untuk keperluan usaha, maka porsi pinjaman kamu dapat kurangi sehingga kamu tidak terbebani bunga yang meningkat.
Ketika sedang dalam kondisi yang nyaman, terkadang kita tidak sadar untuk membelanjakan sesuatu yang sebenarnya kita tidak perlu-perlu banget. Di momen suku bunga naik, kamu dapat lebih selektif dalam hal membelanjakan uangmu, mana yang kebutuhan hidup dan mana yang keinginan diluar kebutuhan hidup.
Hal yang terpenting, karena yang namanya siklus perekonomian itu dinamis, maka terkadang suku bunga naik terus, namun suatu waktu akan turun juga. Nah di momen suku bunga acuan naik ini, kamu dapat menabung dulu alias perbanyak porsi investasi mu. Ada yang bilang “Winter is coming”, namun bagi kamu yang sudah mempersiapkan segala sesuatu, maka kamu akan tetap “survive” walau “winter” tersebut datang.
______________________________________________________________
Yuk mulailah berinvestasi di aplikasi yang Aman & Legal seperti Makmur, karena PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain kamu dapat berinvestasi Reksa Dana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai bonus investasi melalui promo-promo menarik dari Makmur. Yuk mulai perjalanan investasimu bersama Makmur dan temukan berbagai Reksa Dana terbaik dari Manajer Investasi pilihan.
Link: Promo-Promo Makmur
Yuk unduh Makmur melalui link dibawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Website: Makmur.id
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]