Ilustrasi Strategi (Sumber: Pixabay)
Dalam dunia investasi tentu ada yang namanya untung atau rugi, entah itu sudah direalisasikan ataupun belum, namun ketika kita sebagai investor melihat portofolio Reksa Dana Saham berwarna merah alias minus, maka tentu sebagian investor pemula akan merasa cemas & panik.
Rasa cemas & panik bisa saja timbul karena sebelum-sebelumnya belum pernah mengalami kerugian ataupun melihat portofolio minus, atau bisa juga karena tidak tahu apa yang harus dilakukan disaat melihat kinerja Reksa Dana Saham mu berwarna merah.
Yang perlu kamu ketahui bahwa penurunan nilai investasi itu wajar terutama Reksa Dana yang berisikan instrumen Saham seperti Reksa Dana Campuran (RDC) dan Reksa Dana Saham (RDS). Ingat, jangan panik dan tetaplah berpikir jernih dalam mengambil keputusan investasi agar kamu tidak salah dalam melangkah. Berikut strategi untuk mengatasi portofolio Reksa Dana mu yang merah:
Kinerja RDC dan RDS sangat berfluktuatif untuk jangka waktu yang singkat, bisa saja minus bisa saja “terbang”, namun untuk jangka waktu panjang cenderung memberikan hasil investasi yang optimal.
Perlu kamu ketahui agar hasil investasi mu lebih optimal maka investasi di RDC disarankan 3 – 5 tahun dan di RDS dengan jangka waktu lebih dari 5 tahun.
Tujuan investasi untuk kedua jenis Reksa Dana tersebut pada umumnya digunakan untuk mempersiapkan Dana Pendidikan Anak hingga kebutuhan Dana Pensiun. Jadi ingat-ingat lagi, kamu investasi di kedua jenis ini untuk apa nih Sobat Makmur?
Dollar Cost Averaging (DCA) merupakan strategi investasi diharga yang lebih rendah untuk menurunkan harga rata-rata mu yang mungkin “nyangkut” diharga atas. Ini merupakan salah satu strategi terbaik untuk mempercepat portofolio kamu untuk mencapai warna hijau alias keuntungan.
Contoh:
Mamat beli 100 unit RDS di harga Rp 2000 / unit. Seminggu kemudian harga RDS tersebut turun ke harga Rp 1500 / unit. Si Mamat mengalami kerugian yang belum direalisasi sebesar minus -25%.
Mamat menggunakan strategi DCA dan kemudian membeli lagi 100 unit RDS di harga 1500 / unit sehingga harga rata-rata Mamat yaitu sebesar Rp 1750 / unit, tetap masih minus dong yah. Namun seminggu kemudian harga RDS tersebut rebound alias naik kembali ke harga Rp 1850 / unit. Mamat pun dapat merealisasikan penjualan RDS nya dengan keuntungan sebesar +5,71%.
Ini salah satu cara yang bisa kamu lakukan apabila kamu tidak dapat melakukan DCA dikarenakan hampir semua dana investasimu sudah kamu investasikan seluruhnya.
Berbeda dengan menunggu harga Saham hingga naik, RDC & RDS ini dikelola oleh Manajer Investasi yang profesional yang dapat mengatur portofolio Reksa Dana tersebut termasuk dalam memperjualbelikan isi portofolio Saham didalamnya sehingga kinerja RDC & RDS tentu akan maksimal.
Metode ini merupakan Metode yang mirip dengan DCA namun metode ini tidak memandang harga Reksa Dana sedang murah atau lagi mahal. Metode investasi rutin ini membantu kamu untuk mendapatkan harga rata-rata berjalan dan sangat efektif untuk jangka panjang apabila kamu lakukan secara konsisten.
Apabila harga rata-rata mu sedang diatas alias portofolio kamu merah, bisa saja di bulan-bulan berikutnya malah akan berbalik menjadi hijau apabila kamu konsisten terus menerapkan metode ini.
Yuk mulailah berinvestasi Reksa Dana di aplikasi yang Aman & Legal seperti Makmur, karena PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain kamu dapat berinvestasi Reksa Dana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai bonus investasi melalui promo-promo menarik dari Makmur. Yuk mulai perjalanan investasimu bersama Makmur dan temukan berbagai Reksa Dana terbaik dari Manajer Investasi pilihan.
Link: Promo-Promo Makmur
Yuk unduh Makmur melalui link dibawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Baca juga: Tips Kelola Keuangan Keluarga Melalui Reksa Dana Bagi Ibu Rumah Tangga
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]