Ilustrasi Investasi Reksa Dana (Sumber: Envato)
Dalam perencanaan keuangan, setiap orang wajib memahami profil risikonya masing-masing. Ini berguna untuk memudahkan bagi setiap orang untuk memilih produk investasi mana yang cocok sesuai profil risiko.
Berbagai macam profil risiko, Reksa Dana dapat menjadi salah satu alternatif investasi yang aman untuk segala profil risiko dari moderat, konservatif hingga agresif. Dari berbagai profil risiko tersebut tujuannya untuk mendapatkan keuntungan di masa akan yang datang.
Dalam tren jangka panjang, Reksa Dana cenderung mengalami tren kenaikan setiap tahunnya walaupun tidak semua jenis Reksa Dana seperti itu.
Muncul lah pertanyaan yang sering ditanyakan setiap orang terkait Reksa Dana apalagi harga NAB Reksa Dana yang selalu mengalami kenaikan dan penurunan setiap harinya.
“Kapan waktu yang tepat untuk mulai investasi Reksa Dana?”
Baca Juga: Mau Mulai Investasi? Wajib Tentukan 4 Hal Ini Dahulu
Dengan asumsi ketika harga NAB Reksa Dana mengalami penurunan maka dapat membeli Reksa Dana dengan harga yang lebih murah. Tentunya kamu harus jeli mengamati tren Reksa Dana yang terus mengalami kenaikan dan penurunan.
Misalkan, pada Reksa Dana Saham yang memiliki portofolio investasi berisikan saham-saham perusahaan di Indonesia.
Salah satu saham ABCD tersebut merupakan saham sebuah perusahaan ritel yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Ternyata kondisi ekonomi sedang bagus, maka semakin banyak orang yang membeli barang dari perusahaan itu.
Kemudian penjualan dari perusahaan ABCD meningkat sehingga membuat laporan keuangan mencatatkan laba bersih yang naik signifikan. Karena laporan keuangan bagus, banyak investor yang bereaksi positif dan membeli saham ABCD sehingga harga saham naik.
Nah, kalau saham ABCD ada di dalam portofolio investasi Reksa Dana, maka Reksa Dana itu juga meningkat harganya. Hal sebaliknya bisa terjadi ketika perekonomian sedang turun.
Gak usah khawatir kalau terjadi penurunan suatu saham yang ada di portofolio Reksa Dana, karena manajer investasi sudah menyebar uang kelolaannya ke beberapa saham pilihan sehingga risiko penurunan keseluruhan bisa diminimalisir.
Banyak faktor yang menyebabkan kenaikan dan penurunan harga NAB Reksa Dana sehingga waktu yang tepat untuk berinvestasi Reksa Dana adalah saat ini tanpa perlu menghiraukan kondisi faktor-faktor kenaikan dan penurunan karena Manajer Investasi yang akan membantu mengelola.
Kamu juga bisa gunakan strategi investasi Dollar Cost Averaging (DCA) saat investasi Reksa Dana. Dollar cost averaging adalah strategi investasi secara rutin di setiap periode tertentu (misalnya setiap bulan) dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan kenaikan dan penurunan harga aset yang akan diinvestasikan.
Contoh: Bapak Wisnu merencanakan ingin menabung Reksa Dana Pasar Uang dari hasil gaji yang dimiliki setiap bulan sebesar 10% yaitu sebesar 500 ribu. Bapak Wisnu menggunakan strategi investasi yang bernama Dollar Cost Averaging (DCA).
Bapak Wisnu menggunakan uang sebesar 500 ribu setiap bulannya selama setahun.
Dalam setahun, harga Reksa Dana Pasar Uang cenderung meningkat. Dengan strategi DCA akan membuatmu dapat meminimalisir kenaikan dan penurunan harga emas setiap harinya.
Jadi tunggu apalagi? Mulai investasi Reksa Dana sekarang!
Baca Juga: Tips Hadapi Resesi Ekonomi Global 2023, 5 Hal Yang Perlu Dilakukan
_______________________________________________________________
Yuk mulailah berinvestasi di aplikasi yang Aman & Legal seperti Makmur, karena PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain kamu dapat berinvestasi Reksa Dana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai bonus investasi melalui promo-promo menarik dari Makmur. Yuk mulai perjalanan investasimu bersama Makmur dan temukan berbagai Reksa Dana terbaik dari Manajer Investasi pilihan.
Link: Promo-Promo Makmur
Yuk unduh Makmur melalui link dibawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Website: Makmur.id
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]