






Rasio Treynor adalah salah satu metode yang digunakan oleh investor untuk mengukur kinerja investasi dengan memperhitungkan risiko. Rasio ini pertama kali diperkenalkan oleh Jack Treynor, seorang ahli teori keuangan yang berperan penting dalam pengembangan model Capital Asset Pricing Model (CAPM). Rasio Treynor dipakai oleh investor yang ingin mengevaluasi apakah suatu portofolio investasi memberikan hasil yang optimal.
Rasio Treynor mengukur imbal hasil investasi dibandingkan dengan risiko yang diambil. Berikut adalah langkah-langkah untuk menghitung dan menggunakan rasio Treynor dalam berinvestasi:
Pertama-tama, Anda perlu mengetahui imbal hasil (return) portofolio investasi Anda selama periode tertentu, misalnya selama setahun. Imbal hasil ini dapat diperoleh dari data pasar atau laporan keuangan.
Selanjutnya, Anda harus mengetahui imbal hasil dari aset bebas risiko, seperti obligasi pemerintah atau deposito bank. Imbal hasil ini digunakan sebagai pembanding untuk menghitung keuntungan tambahan yang dihasilkan oleh investasi Anda.
Beta menggambarkan sensitivitas suatu portofolio terhadap perubahan pasar. Jika beta lebih besar dari 1, portofolio lebih volatil dibandingkan pasar, sedangkan jika beta kurang dari 1, portofolio lebih stabil. Beta dapat dihitung dengan membandingkan pergerakan harga aset dengan pergerakan pasar secara keseluruhan.
Salah satu cara untuk mendapatkan beta portofolio adalah melalui regresi historis. Caranya adalah dengan membandingkan return portofolio Anda dengan return pasar (misalnya IHSG) selama periode tertentu, seperti 1 hingga 3 tahun.
Anda melakukan regresi linier dengan:
Hasil regresi tersebut menghasilkan sebuah garis. Kemiringan garis regresi itulah nilai beta, misalnya 1,2. Artinya portofolio bergerak 1,2 kali lebih volatile dibanding pasar.
Rumus untuk menghitung rasio Treynor adalah sebagai berikut:
| Rasio Treynor = (Rp – Rf) / βp |
Keterangan:
Contoh perhitungan rasio Treynor
Misalkan Anda memiliki portofolio investasi dengan data berikut:
Untuk menghitung rasio Treynor, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:
Kurangkan imbal hasil portofolio dengan imbal hasil bebas risiko:
Bagi hasilnya dengan beta portofolio:
Jadi, rasio Treynor Anda adalah 8,33%. Berarti, setiap risiko (diukur dengan beta) yang Anda ambil, menghasilkan return 8,33%. Dengan demikian, rasio ini dapat membantu Anda mengevaluasi apakah portofolio Anda memberikan hasil yang optimal dibandingkan dengan risiko yang dihadapi.
Hasil rasio Treynor yang lebih tinggi menunjukkan bahwa portofolio Anda memberikan imbal hasil yang lebih baik per unit risiko pasar. Sebaliknya, rasio yang lebih rendah menandakan bahwa portofolio Anda kurang efisien dalam menghasilkan keuntungan sebanding dengan risiko yang diambil.
Rasio Treynor memiliki beberapa manfaat yang dapat membantu Anda dalam proses pengambilan keputusan investasi:
Rasio ini sangat berguna untuk menilai kinerja portofolio ketika dihadapkan dengan risiko secara keseluruhan. Dengan kata lain, rasio Treynor memungkinkan Anda untuk melihat apakah imbal hasil yang diperoleh sebanding dengan risiko pasar yang diambil.
Dengan menggunakan rasio Treynor, Anda dapat membandingkan kinerja beberapa portofolio investasi dengan cara yang lebih terukur. Jika Anda memiliki beberapa pilihan investasi dengan risiko yang berbeda, rasio Treynor membantu Anda memilih portofolio yang lebih efisien.
Rasio Treynor juga menunjukkan seberapa baik pengelolaan risiko yang dilakukan oleh manajer investasi (MI) reksa dana. Jika rasio Treynor suatu produk reksa dana lebih tinggi, berarti MI mampu memberikan imbal hasil yang lebih baik dengan tingkat risiko yang lebih rendah.
Rasio Treynor sering digunakan oleh investor institusional atau MI yang mengelola dana dalam jumlah besar. Rasio ini memberikan gambaran yang jelas tentang seberapa baik suatu portofolio dapat mengatasi risiko yang dihadapi di pasar.
Dengan menggunakan rasio Treynor, Anda dapat membuat keputusan investasi yang lebih rasional dan berbasis data. Hal ini penting agar Anda tidak hanya melihat imbal hasil semata, tetapi juga mempertimbangkan seberapa besar risiko pasar yang Anda ambil.
Rasio Treynor adalah metode penting untuk mengevaluasi apakah suatu portofolio memberikan imbal hasil yang layak terhadap risiko pasar yang ditanggung. Dengan menghitung dan memahami rasio ini, Anda bisa menilai apakah investasi Anda dikelola secara efisien.
Jika Anda berencana untuk berinvestasi di reksa dana saham, rasio Treynor dapat menjadi salah satu metode yang Anda gunakan untuk mengevaluasi kinerja MI. Untuk memudahkan Anda, platform seperti Makmur telah mengkurasi berbagai produk reksa dana dan asset management secara profesional. Anda bisa menganalisis kinerjanya karena di Makmur Anda bisa melihat pertumbuhannya secara historis.
Seperti Sucorinvest Maxi Fund misalnya, berdasarkan data 28 November 2025, reksa dana ini memiliki imbal hasil sebesar 24,92% dalam 3 bulan terakhir, 42,04% secara year-to-date (ytd), 40,39% dalam 1 tahun terakhir, dan dalam 5 tahun terakhir kinerjanya bertumbuh 63,62%.
*kinerja masa lalu tidak mencerminkan performa di masa depan
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo December Thrive, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Investasi saham adalah salah satu instrumen keuangan yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Banyak investor yang mencari saham dengan pembagian dividen yang konsisten sebagai sumber penghasilan pasif. Dividen adalah pembagian laba yang diberikan perusahaan kepada pemegang sahamnya. Namun, tidak semua emiten memberikan dividen dengan frekuensi yang sama. Di Indonesia, sebagian besar saham blue […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito berjangka dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp261,64 triliun per Januari 2026, naik 3,14% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak fluktuatif pada Februari 2026 di tengah pembaruan pandangan lembaga pemeringkat terhadap posisi fiskal Indonesia. Moody’s merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara S&P Global Ratings menyoroti meningkatnya tekanan fiskal, khususnya rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara yang berpotensi melampaui ambang 15%. Jika tekanan tersebut berlanjut, hal ini dapat […]
Key Takeaways: Pada Januari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tercatat mengalami defisit. Berdasarkan pengumuman Kementerian Keuangan pada 23 Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun dan belanja negara sebesar Rp227,3 triliun. Selisih tersebut menghasilkan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara 0,21% terhadap produk domestik bruto (PDB). Gambar 1. Realisasi APBN per Januari […]