Ilustrasi Pasar Modal dengan kondisi Bullish. (Pexel |Burak Kebapci)
Pada hari Senin, 7 Februari 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memperlihatkan ketangguhannya dengan mencetak rekor barunya bahkan mengalahkan rekor sebelum masa Pandemi Covid-19.
Berdasarkan data yang diambil dari RTI Business, pada akhir sesi kedua pada pukul 15.15 WIB IHSG ditutup diangka 6804.937 dengan adanya penguatan sebesar 73.546 poin (+1.09%) dibanding dengan harga penutupan pada periode sebelumnya.
Adapun disesi pertama IHSG sempat mencatatkan angka tertingginya yaitu 6806.730 yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa IHSG pernah ada. Hal ini tidak lepas dari dorongan dana asing yang mengalir deras masuk ke Tanah Air kita, yaitu di IHSG.
Pada penutupan sesi kedua, IHSG dicatatkan membukukan Net Foreign Buy (Regular Market) sebesar 2.02 Triliun Rupiah dari total nilai perdagangan hari ini yaitu 12.956 Triliun Rupiah, angka ini bukanlah angka yang sedikit lho.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada Triwulan III tahun 2021 vs Triwulan III tahun 2020 yaitu sebesar +3.51% (Year on Year) dan bila dibandingkan dengan Triwulan II 2021 mengalami kenaikan sebesar +1.55% (Quarter on Quarter).
Menteri Keuangan Sri Mulyani pun memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 sebesar 3.7% dimana prediksi sebelumnya juga dikisaran 3.5%-4.0%, masih on-track.
Investor asing yang pada tahun-tahun sebelumnya belum tertarik berinvestasi di pasar modal Indonesia dan masih memilih berinvestasi di Negara Maju seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Hongkong dan lainnya. Hal utama yang mendorong mereka berinvestasi di Negara Maju selain dari tingkat risiko yang lebih rendah, negara tersebut juga telah mencatatkan data pertumbuhan ekonomi yang baik.

Seiring berjalannya waktu, Indonesia pun memasuki masa pemulihan ekonomi dan telah terbukti mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi yang semakin positif dibanding periode-periode sebelumnya. Hal ini membuat investor asing mulai melirik ke pasar modal Indonesia (IHSG) yang nilainya masih tergolong cukup murah dibandingkan indeks di beberapa Negara Maju.
Faktor lainnya yang juga sangat ditunggu-tunggu para investor asing yaitu dari rilisnya beberapa laporan keuangan dari sejumlah emiten yang membawa angin segar kepada para investor asing karena kinerja emiten semakin membaik sejalan dengan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Hal ini sangat mendorong investor asing untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Mungkin sebagian besar dari kamu masih takut untuk mencoba dan juga masih minim pengetahuan tentang investasi di Reksa Dana Saham. Ada juga yang berpikir bahwa nilai IHSG saat ini sudah terlalu tinggi dan sudah telat untuk berinvestasi. Tidak salah untuk berpikir demikian apabila jangka waktu investasi kamu adalah untuk jangka pendek, karena investasi di Reksa Dana Saham itu untuk jangka waktu panjang alias untuk masa depan kamu.
Mungkin kamu juga berpikir, “Ah ngapain jauh-jauh mikir masa depan, mending aku nikmatin aja hasil uang usaha ku” Apabila anda berpikir seperti ini maka anda sudah benar! Karena kita perlu memberikan hadiah untuk diri kita sendiri (self reward) atas usaha kerja keras kita. Namun satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa self reward boleh tapi akan lebih baik lagi kalau ada kontrolnya yaitu dengan memetakan uang hasil usaha kamu seperti ini:
40% untuk kebutuhan pokok
30% untuk self reward (kebutuhan tersier)
15% untuk investasi hari tua
10% untuk dana darurat
5% untuk amal / kebaikan
Apabila kamu sudah menerapkan prinsip tersebut, maka keuangan kamu tiap bulannya akan lebih terkontrol dan hari tua mu pun akan tetap Makmur walau sudah tidak bekerja alias sudah pensiun. Coba lakukan hal ini dengan disiplin selain memanjakan diri, kamu perlu rutin juga berinvestasi untuk hari tua mu.
Play Store
IOS: App Store
Website: Makmur.id
Baca juga : Trading Saham Lebih Banyak Cuan atau Boncosnya?
Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]
Key Takeaways: Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut. […]
Key Takeaways: Di tengah maraknya tren yang menunjukkan gaya hidup mewah di media sosial, banyak investor dengan kemampuan finansial yang baik justru memilih untuk tidak menampilkan kekayaan secara berlebihan. Tren tersebut dikenal sebagai silent wealth, yaitu konsep yang memandang pertumbuhan aset dan kesehatan finansial tidak diukur dari barang yang dimiliki atau ditunjukkan, melainkan dari aset […]
Key Takeaways: Struktur kepemilikan saham merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor saat menilai kualitas suatu emiten. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah insider ownership, yaitu porsi saham yang dimiliki secara langsung oleh pihak internal perusahaan, seperti anggota direksi, komisaris, pendiri, atau pihak manajemen tertentu. Besarnya insider ownership perlu dipantau investor publik karena […]
Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]
Key Takeaways: Seorang investor perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara menilai kinerja sebuah saham. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menilai kinerja saham adalah Excess Returns Model (ERM). Model ini membantu investor mengukur kinerja saham dengan membandingkan actual return dengan expected return berdasarkan risiko pasar. Mari kita bahas lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan […]