Setahun yang lalu Tingkat inflasi mengalami kenaikan yang tinggi. Bahkan sempat 8,5% pada bulan Juli 2022. “Kini, inflasi di Amerika Serikat (AS) mulai melandai. Tingkat inflasi di negeri Paman Sam untuk bulan Juni tercatat sebesar 3% year-on-year (yoy) pada Juni 2023 dari sebelumnya 4% yoy pada Mei 2023” (dikutip dari CNBC Indonesia).
Penurunan inflasi ini dinilai membuat Bank Sentral Amerika Serikat, yakni Federal Reserve (The Fed) akan lebih moderat dalam kebijakan suku bunganya. Apakah investasi Reksa Dana semakin menarik kedepannya?
Baca Juga: Gaya Hidup Minimalis Bisa Bikin Kamu Tambah Cuan, Gimana Caranya?
Setelah rilis data inflasi, ini menunjukkan bahwa The Fed sudah akan berada pada ujung kebijakan moneter ketatnya (menaikkan suku bunga sejak tahun 2022). Ini karena level inflasi sudah mendekati level yang ditentukan The Fed pada level 2%.
Kondisi ini tentunya akan menjadi katalis positif, baik indeks saham global maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ketika inflasi stabil pada level yang sudah ditentukan, suku bunga diproyeksikan akan melandai. Sehingga akan membuat investasi khususnya Reksa Dana akan semakin menarik kedepannya.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,0-5,25%. Namun, The Fed mengisyaratkan masih akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada tahun ini. Tapi mengingat data inflasi yang melandai maka The Fed tidak agresif seperti sebelum-sebelumnya.
Selain itu, data yang menarik selain suku bunga dan inflasi adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diproyeksikan berada pada rentang 4,5% sampai 5,3%.
Selama ekonomi Indonesia terus tumbuh, kinerja pasar saham akan solid ke depan. Fundamental ekonomi Indonesia telah mengungguli ekspektasi pasar dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03% pada kuartal pertama 2023. Sehingga Reksa Dana kedepannya dapat menjadi pilihan investasi yang menarik.
Beberapa kinerja jenis Reksa Dana akan semakin menarik seperti jenis Reksa Dana Campuran dan Reksa Dana Saham. Kamu bisa memilih berbagai Reksa Dana yang ada di aplikasi Makmur untuk memilih jenis-jenis Reksa Dana yang memiliki potensi bagus kedepannya.
Selain melihat prospek kedepannya, kamu juga wajib untuk memilih Reksa Dana sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasimu. Misal, kamu adalah seorang investor yang punya risiko tipikal agresif dengan memiliki tujuan menabung persiapan dana pensiun maka kamu dapat memilih Reksa Dana Saham.
Setelah menentukan jenis Reksa Dana, kamu dapat melihat performa investasinya dari tahun-tahun sebelumnya hingga informasi yang lengkap tertera di aplikasi Makmur. Jangan lupa download aplikasi Makmur dan dapatkan promo-promo yang bikin investasi Reksa Dana mu makin cuan!
DISCLAIMER:
Artikel ini ditujukan untuk informasi umum saja dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi atau menawarkan untuk berinvestasi Reksa Dana di Makmur. Investasi melalui Reksa Dana mungkin mengandung beberapa risiko, calon investor diwajibkan untuk membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Reksa Dana dan performa sebuah Reksa Dana tidak mencerminkan kinerja yang akan datang.
***
Yuk mulai investasi Reksa Dana di Makmur, karena PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain kamu dapat berinvestasi Reksa Dana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai bonus investasi melalui promo-promo menarik dari Makmur. Yuk mulai perjalanan investasimu bersama Makmur dan temukan berbagai Reksa Dana terbaik dari Manajer Investasi pilihan.
Link: Promo-Promo Makmur
Yuk unduh Makmur melalui link dibawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Website: Makmur.id
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]