Ilustrasi Waktu Investasi
Sebagai investor pasar modal, tentunya kamu pernah merasakan ketika membeli suatu instrumen investasi, dalam hal ini adalah Saham, dan harganya tiba-tiba turun. Hal yang bisa saja kamu rasakan yaitu rasa kuatir harganya akan berlanjut turun, atau bisa juga panik dan langsung menjualnya disaat itu juga. Secara psikologi, emosi-emosi tersebut tentunya ada disetiap diri manusia, tetapi kamu perlu atasi dengan tetap pikiran jernih, tenang dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan investasi.
Terkadang pun terlintas dipikiran, “Andai saya tahu, harusnya saya….” Hal tersebut merupakan kekecewaan atau penyesalan yang sering terjadi disetiap investor.
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan klasik yang hampir ditanyakan oleh setiap investor yang barusan terjun di dunia pasar modal. Jawaban yang 100% benar tentu tidak ada, karena tidak seorang pun tahu waktu yang tepat untuk berinvestasi dan apabila ada yang tahu pun maka sudah pasti dia akan kaya raya.
Namun kabar baiknya kamu bisa mengetahui beberapa hal yang bisa memandu kamu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi, antara lain:
Berkaca dari sang tokoh finasial ternama yaitu Warren Buffett, beliau merupakan sesosok investor yang memiliki prinsip investasi yang membuat dirinya menjadi kaya raya, bahkan sempat membuatnya dirinya bertengger di Top 5 orang terkaya di Bumi ini.
Salah satu prinsip investasi yang dia pegang yaitu “be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.” atau dalam terjemahan Indonesianya yaitu takutlah / waspadalah ketika orang-orang sedang serakah, dan jadilah serakah ketika orang-orang pada ketakutan.
Hal ini beliau terapkan tentunya tidak di sembarangan instrumen investasi lho, jadi kamu jangan ambil mentah-mentahnya langsung digunakan di saham-saham apapun, karena beliau sangat analitis dalam pemilihan instrumen investasi, terutama Saham.

Ilustrasi Laporan Keuangan Emiten
Kembali lagi dengan Warren Buffett, beliau merupakan salah satu tokoh investor sukses yang menggunakan analisa fundamental untuk menganalisa saham-saham dengan laporan keuangan yang baik dan tentunya saham-saham yang Manajemennya dipimpin oleh sosok yang jujur dan profesional.
Singkatnya analisa fundamental digunakan untuk mengetahui laporan keuangan perusahaan yang akan kamu beli sahamnya apakah masuk kategori murah / mahal. Katalis yang umumnya digunakan dalam analisa ini yaitu melihat harga buku perusahaan (price to book value / PBV), perbandingan harga terhadap pemasukan perusahaan (price to earning ratio / PER), tingkat utang perusahaan (debt to equity ratio / DER) dan tingkat keuntungan perusahaan (return on equity / ROE)
Suatu perusahaan yang dinilai harganya masih murah / undervalued biasa memiliki ciri :
Terkadang apabila ada berita negatif yang terjadi di dunia seperti pandemi terjadi atau misalkan ada perang antara negara besar, maka cenderung indeks global akan terpuruk walau sebenarnya belum tentu ada dampak signifikan di perusahaan-perusahaan di negara lainnya.
Namun dikacamata investor fundamentalis melihat hal itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan saham perusahaan dengan harga yang murah, maka tidak heran ketika indeks pasar modal Indonesia terpuruk sesaat pengumuman perang antara negara besar Russia dan Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022, aliran dana asing justru mengalir deras masuk ke pasar modal Indonesia, terutama di pasar saham dengan nilai pembelian bersih / net buy hampir mencapai 1 Trilliun Rupiah.
Jadi terlepas dari berita negatif, investor dengan analisa fundamental akan tetap pada prinsipnya untuk berinvestasi ke perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai yang murah dan biasanya untuk jangka panjang seperti yang diakukan oleh Warren Buffett.
Play Store
IOS : App Store
Website : Makmur.id
Baca juga : Apa Sih Pengaruh Hubungan Positif/Negatif Antara Negara Maju dengan Kinerja Pasar Modal Indonesia?
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]