Key Takeaways:
Sepanjang triwulan I hingga pertengahan 2026, tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat cukup signifikan. Rupiah terus melemah akibat tingginya volatilitas pasar global, ketidakpastian ekonomi internasional, dan penguatan dolar AS. Puncaknya terjadi pada 8 Juni 2026, ketika rupiah sempat menyentuh Rp18.201/USD secara intraday. Level ini menjadi yang terlemah sepanjang sejarah sebelum rupiah ditutup di Rp18.188/USD di pasar spot. Hingga akhir September 2026, rupiah masih bergerak di dekat level Rp18.000/USD. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menilai tekanan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan pelemahan fundamental domestik.
Pelemahan rupiah memberikan dampak yang beragam bagi perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah naiknya biaya impor yang dapat menekan margin emiten yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, di sisi lain, ada sektor dan instrumen investasi yang justru berpotensi memperoleh manfaat dari kondisi ini, terutama yang memiliki pendapatan atau eksposur dalam dolar AS.
Untuk memahami dampak pelemahan rupiah, kita perlu melihat kondisi perdagangan Indonesia sepanjang periode tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia masih mencatat surplus perdagangan pada triwulan I 2026. Namun, impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sehingga surplus menyusut.
Tabel 1. Perbandingan Neraca Perdagangan Triwulan I 2025 vs Triwulan I 2026 (juta US$)

Sumber: Badan Pusat Statistik
Data tersebut menunjukkan total ekspor Indonesia pada triwulan I 2026 hanya tumbuh 0,34% secara tahunan, sementara impor naik 10,05%. Tekanan ini terlihat jelas pada rincian per komponen. Ekspor migas turun 9,72% seiring pelemahan harga minyak, sedangkan impor nonmigas justru naik 12,16%.
Akibatnya, surplus perdagangan menyusut hampir separuhnya, dari US$10,92 miliar menjadi US$5,55 miliar dalam setahun. Tekanan tersebut berlanjut pada bulan-bulan berikutnya:
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–Juli 2026 masih surplus US$3,70 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rangkaian kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah lebih rentan terhadap tekanan eksternal.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Perusahaan yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar AS berpotensi diuntungkan karena nilai pendapatan tersebut meningkat saat dikonversi ke rupiah. Dampak positif ini umumnya lebih terasa pada emiten berorientasi ekspor yang ketergantungan impornya relatif rendah. Namun, penurunan ekspor pada Mei 2026 menunjukkan bahwa manfaat kurs hanya relevan bagi emiten yang mampu mempertahankan volume dan nilai ekspornya.
Berikut beberapa sektor berorientasi ekspor yang berpotensi memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah. Dampaknya tetap dapat berbeda pada setiap emiten, tergantung struktur biaya, komposisi utang, dan sumber pendapatannya.
Industri pengolahan merupakan salah satu penyumbang utama ekspor nonmigas Indonesia. Ketika rupiah melemah, perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi mencatat kenaikan nilai pendapatan setelah dikonversi ke rupiah. Namun, dampak positif ini tetap bergantung pada seberapa besar ketergantungan perusahaan terhadap bahan baku impor.
Beberapa produk ekspor utama dari sektor ini meliputi:
Contoh emiten dengan eksposur ekspor cukup besar antara lain:
Sektor pertambangan berpotensi memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah karena harga komoditas global umumnya diperdagangkan dalam dolar AS. Bagi emiten dengan porsi ekspor besar, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai pendapatan saat dikonversi ke rupiah, terutama jika biaya operasionalnya masih didominasi mata uang domestik.
Komoditas utama di sektor ini antara lain:
Beberapa emiten yang sering menjadi perhatian investor saat rupiah melemah meliputi:
Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan juga berpotensi diuntungkan oleh pelemahan rupiah, terutama perusahaan yang memiliki pasar ekspor kuat atau menjual komoditas yang harganya mengacu pada pasar global. Selain memperoleh pendapatan yang terkait dengan dolar AS, permintaan terhadap beberapa komoditas ekspornya cenderung stabil dalam jangka panjang.
Beberapa emiten di sektor ini antara lain:
Perlu dipahami bahwa dampak pelemahan rupiah tidak selalu sama pada setiap emiten, bahkan dalam sektor yang sama. Selain sektor usahanya, investor juga perlu memperhatikan proporsi pendapatan ekspor, struktur biaya, mata uang utang, dan sensitivitas perusahaan terhadap perubahan harga komoditas global. Karena itu, investor tetap disarankan menganalisis laporan keuangan setiap emiten secara mendalam, termasuk eksposur valuta asing dan sumber utama pendapatannya, sebelum mengambil keputusan investasi.
Selain saham di sektor-sektor tersebut, ada instrumen investasi yang secara historis cenderung memperoleh manfaat ketika rupiah melemah tajam, terutama aset safe haven dan aset yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan.
Emas merupakan salah satu aset safe haven. Di Indonesia, harga emas dipengaruhi oleh dua hal: harga emas global yang ditetapkan dalam dolar AS dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena itu, saat rupiah melemah, harga emas dalam rupiah cenderung terdorong naik. Kenaikan harga emas juga dapat dipicu oleh peralihan dana investor ke aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar.
Tabel 2. Harga Rata-Rata Emas di Pasaran Jakarta Januari–Agustus 2026 (Rupiah per Gram)

Sumber: Badan Pusat Statistik
Data tersebut menunjukkan bahwa harga emas domestik berfluktuasi cukup lebar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Harga emas sempat mencapai puncaknya pada minggu pertama Maret di level Rp2.746.832 per gram. Setelah itu harganya cenderung terkoreksi hingga menyentuh level terendah pada minggu kelima Juli. Hingga minggu keempat Agustus, harga emas masih naik sekitar 2,2% dibandingkan awal tahun, tetapi sudah turun sekitar 14,2% dari puncaknya.
Artinya, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat harga emas domestik terus naik. Saat rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada Juni 2026, harga emas justru bergerak relatif datar, lalu melemah pada Juli. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan harga emas juga sangat dipengaruhi harga emas global, kebijakan suku bunga, kondisi geopolitik, dan perubahan preferensi investor terhadap aset safe haven. Efek kurs membantu menahan penurunan harga emas dalam rupiah, tetapi tidak selalu cukup untuk mengimbangi koreksi harga emas global.
Meski begitu, dalam jangka menengah hingga panjang, emas tetap sering dipertimbangkan investor sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan hedging asset terhadap risiko pelemahan nilai tukar dan ketidakpastian pasar. Investor perlu memahami bahwa fungsi emas lebih tepat sebagai penyeimbang portofolio, bukan instrumen untuk mengejar keuntungan jangka pendek.
Reksa dana berbasis dolar AS (reksa dana USD) berpotensi memberikan keuntungan dari dua sumber. Sumber pertama adalah kenaikan NAB/UP dari kinerja portofolionya. Sumber kedua adalah efek kurs ketika nilai investasi dikonversi ke rupiah saat rupiah melemah. Karena itu, reksa dana USD sering dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen untuk membantu menjaga nilai investasi ketika volatilitas nilai tukar meningkat.
Ilustrasi perhitungan investasi reksa dana USD
Misalkan Anda berinvestasi di reksa dana USD Sucorinvest USD Balanced Fund pada 22 Mei 2025:
Hingga 22 Mei 2026:
Perhitungan nilai akhir (USD)
Konversi ke rupiah
Skenario 1: Kurs stabil (Rp16.330/USD)
Skenario 2: Rupiah melemah ke Rp18.197,5/USD
Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa reksa dana USD berpotensi memperoleh manfaat dari dua sumber sekaligus: kenaikan NAB/UP dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Sebaliknya, jika rupiah menguat, efek kurs dapat mengurangi keuntungan dalam rupiah. Keuntungan kurs juga baru terasa saat dana hasil pencairan dikonversi ke rupiah. Hasil investasi tetap bergantung pada kinerja portofolio dan kondisi pasar, tetapi instrumen ini sering dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan diversifikasi sekaligus untuk membantu menjaga nilai aset ketika rupiah melemah.
Rupiah yang melemah tajam tidak dapat dipandang sebagai kondisi yang sepenuhnya negatif atau positif. Dampaknya berbeda-beda pada tiap sektor dan instrumen investasi. Sektor berbasis ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari sisi kurs, sementara emas dan reksa dana USD dapat menjadi alternatif diversifikasi sekaligus sarana eksposur terhadap aset berbasis dolar AS.
Namun, perlu diingat bahwa setiap sektor dan instrumen investasi memiliki karakteristik yang berbeda, bahkan antarproduk dalam instrumen yang sama. Karena itu, analisis lanjutan tetap diperlukan sebelum berinvestasi.
Bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap aset berbasis dolar AS, reksa dana USD dapat menjadi salah satu alternatif sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. Berbeda dengan reksa dana rupiah, instrumen ini menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan. Portofolionya tetap dapat terdiri dari berbagai aset seperti saham, instrumen pasar uang, efek pendapatan tetap, maupun campuran.
Melalui platform wealth-tech Makmur, investor dapat mengakses informasi produk reksa dana USD secara lebih transparan dan terstruktur sehingga lebih mudah memahami karakteristik dan potensi instrumen tersebut. Salah satu produk yang dapat menjadi pertimbangan adalah Sucorinvest USD Balanced Fund, yang mencatatkan kinerja positif sebesar 13,12% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 25 September 2026. Angka ini berbeda dari ilustrasi di atas karena periode perhitungannya berbeda.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp219,06 triliun per Agustus 2026. Naik 0,94% dibandingkan Juli 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. RDPT mengalokasikan minimal […]
Reksa Dana Campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Sepanjang September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam tren melemah. Hingga 29 September 2026, IHSG ditutup di level 6.121,70, atau turun 6,19% dibandingkan posisi akhir Agustus 2026 di level 6.525,48. Tekanan ini salah satunya datang dari aksi jual investor asing, yang mencatatkan net sell sebesar Rp8,96 triliun di pasar reguler sepanjang bulan ini. […]
Reksa dana USD merupakan instrumen investasi yang didenominasikan dalam dolar Amerika Serikat (USD) dan tersedia dalam berbagai kategori, mulai dari reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, hingga pasar uang. Reksa dana ini dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang sekaligus menjaga nilai portofolio di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah. Sepanjang September […]