






Pada Juli 2026, Bank Dunia merilis laporan berjudul “Indonesia: Unlocking Businesses’ Tax Potential for Growth” yang membahas tantangan penerimaan pajak Indonesia sekaligus peluang reformasi untuk memperkuat kapasitas fiskal negara.
Dalam laporan tersebut, Bank Dunia memperkirakan Indonesia berpotensi meningkatkan penerimaan pajak hingga 6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) melalui peningkatan kepatuhan pajak dan reformasi pada dua sumber penerimaan utama, yaitu Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu faktor makroekonomi yang perlu diperhatikan. Pasalnya, kondisi fiskal pemerintah dapat memengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari kemampuan pemerintah membiayai pembangunan hingga persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia.
Untuk memahami implikasinya, penting melihat kondisi penerimaan pajak Indonesia saat ini, tantangan yang masih dihadapi, serta arah reformasi yang akan dijalankan pemerintah.
Indonesia menargetkan status sebagai negara berpendapatan tinggi pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan ekonomi perlu meningkat secara berkelanjutan dari sekitar 5% menjadi di atas 6% per tahun.
Namun, peningkatan pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan fiskal yang lebih kuat. Di sisi lain, ruang pemerintah untuk meningkatkan pembiayaan melalui utang tetap terbatas karena adanya aturan mengenai defisit dan rasio utang.
Karena itu, peningkatan penerimaan pajak menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat kemampuan pemerintah dalam membiayai berbagai program produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Sumber: World Bank
Salah satu tantangan utama Indonesia adalah rasio pajak yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
Pada 2024, rasio pajak Indonesia tercatat sebesar 10,1% terhadap PDB, masih berada di bawah Vietnam, Filipina, dan Kamboja.
Bank Dunia menyoroti dua sumber penerimaan utama yang masih memiliki ruang peningkatan, yaitu PPh Badan dan PPN. Kedua jenis pajak tersebut berkontribusi sekitar 61% terhadap total penerimaan pajak Indonesia, tetapi penerimaannya masih dinilai belum mencapai potensi maksimal.
Selain faktor kebijakan, tantangan lainnya berasal dari tingkat kepatuhan wajib pajak. Riset Bank Dunia terhadap hampir 3.000 perusahaan di 38 provinsi menemukan bahwa sekitar 26% perusahaan terdaftar diperkirakan belum memenuhi kewajiban pajaknya secara penuh.
Ketidakpatuhan tersebut lebih banyak ditemukan pada perusahaan yang tidak melakukan ekspor, menghadapi kendala administrasi pajak, atau bersaing dengan sektor informal.
Menariknya, Bank Dunia menilai tingkat tarif PPh Badan dan PPN Indonesia sebenarnya masih berada dalam kisaran yang sejalan dengan negara-negara ASEAN. Artinya, tantangan utama bukan hanya mengenai besaran tarif, tetapi juga efektivitas administrasi dan kemudahan kepatuhan pajak.
Pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk memperkuat sistem perpajakan, termasuk pengembangan Core Tax Administration System (CTAS) dan pemanfaatan data pihak ketiga untuk meningkatkan akurasi pelaporan pajak.
Selain itu, Bank Dunia merekomendasikan beberapa langkah lanjutan, seperti memperluas basis wajib pajak PPN, mengurangi sejumlah pengecualian pajak, serta mengevaluasi kebijakan pajak preferensial secara bertahap.
Reformasi pajak tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara, tetapi juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap ekonomi dan pasar keuangan.
Penerimaan negara yang lebih kuat dapat memberikan ruang fiskal lebih besar bagi pemerintah untuk membiayai program produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, perbaikan kondisi fiskal juga dapat meningkatkan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Laporan Bank Dunia mencatat bahwa lemahnya penerimaan pajak sebelumnya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia membayar premi bunga utang lebih tinggi dibandingkan beberapa negara kawasan. Oleh karena itu, keberhasilan reformasi pajak dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan kredibilitas fiskal Indonesia dalam jangka panjang.
Namun, dampak reformasi pajak tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh sektor. Beberapa perusahaan atau industri tertentu dapat menghadapi penyesuaian apabila terdapat perubahan kebijakan perpajakan.
Pada akhirnya, kebijakan fiskal dan pajak merupakan salah satu faktor yang membentuk iklim usaha serta daya tarik pasar modal domestik. Memahami arah reformasi ini dapat membantu investor melihat konteks yang lebih luas di balik perkembangan ekonomi dan pergerakan pasar, selain mempertimbangkan faktor fundamental lainnya dalam mengambil keputusan investasi.
Dengan memahami berbagai perkembangan ekonomi dan pasar keuangan, investor dapat memiliki perspektif yang lebih luas dalam menyusun strategi investasi. Anda dapat menambah wawasan seputar ekonomi dan pasar modal lainnya melalui Makmur.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]
Reksa dana USD merupakan instrumen investasi yang didenominasikan dalam dolar Amerika Serikat (USD) dan tersedia dalam berbagai kategori, mulai dari reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, hingga pasar uang. Instrumen ini banyak dipilih investor yang ingin melakukan diversifikasi mata uang sekaligus menjaga nilai portofolio di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah. Sepanjang Juli 2026, rupiah sempat […]
Key Takeaways: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar modal Indonesia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 menciptakan ketidakpastian ekonomi yang cukup tinggi dan mendorong perubahan perilaku investor secara cepat. Dalam kondisi seperti ini, pasar memasuki fase risk-off, […]